Wantimpres Dan Strategi "Kooptasi Pre-emptive strike" (1)
Oleh : W. Masykar
Dalam politik, pre-emptive strike tidak menggunakan senjata, juga tidak dengan rudal, tapi melalui pemberian jabatan dan akomodasi.
Artinya, suatu upaya membungkam tapi tidak dengan pentung, melainkan dengan pelukan jabatan.
Seorang pengkritik vokal seperti Rocky Gerung yang punya basis massa dan bisa menggerus legitimasi pemerintah di ruang publik, dianggap sebagai ancaman potensial yang akan terus menyerang pemerintah dari luar.
Semakin dibiarkan akan semakin tidak terkendali. Bisa jadi karena daripada menunggu kritiknya makin besar dan bisa membakar opini publik apalagi menjelang 2029, maka strategi dipasang, yakni dengan melakukan "pre-emptive strike politik" merangkul dan memasukan dia ke dalam istana, sekaligus diberi jabatan Wantimpres yang terhormat. Meski Rocky sendiri berkali kali menolak anggapan itu. Bahkan menilai gaji Wantimpres yang hanya Rp. 60 atau Rp. 70 juta perbulan sama dengan beberapa menit ketika diundang memberi ceramah dinluar negeri.
Strategi ini, tampaknya jitu. Rocky juga berkali kali mengelak anggapan bahwa dia sudah masuk bagian dari pemerintah, sudah terkooptasi.
"Saya hanya pindah tempat, yang sebelumnya di luar sekarang bergeser kedalam," kata dia dalam beberapa kesempatan.
Bahwa apa yang dikatakan Rocky tidak salah, kritiknya tidak hilang, tapi "suaranya sudah dikunci." Apalagi aturan Wantimpres melarang anggota membocorkan nasihatnya ke publik. Jadi kritik yang dulu didengar jutaan orang, kini hanya didengar Presiden dan bersifat rahasia.
Itu sebabnya, para penggemar Rocky dan basis massanya dia merasa bingung. Pengikutnya yang dulu mendukung karena dia oposisi, sekarang melihat idolanya sudah di dalam kekuasaan.
Inilah yang disebut sebagai kooptasi melalui strategi pre-emptive strike: bukan membungkam dengan pentungan, tapi membungkam dengan pelukan jabatan.
Strategi Pre-emptive strike ini, konsep aslinya dari dunia militer, tapi sekarang dipakai luas di dunia politik, hukum, dan bisnis.
Dalam perang, pre-emptive strike adalah serangan yang dilakukan karena intelijen menunjukkan musuh sudah pasti akan menyerang dalam waktu dekat sehingga harus dipukul duluan untuk melumpuhkan serangannya.
Dalam politik, pre-emptive strike melumpuhkan tidak dengan senjata, melainkan dengan pemberian jabatan dan akomodasi.
Di Politik, pengkritik akan terus menyerang dari luar, maka beri jabatan duluan niscaya kritiknya akan lumpuh di dalam bilik rahasia. Jadi, pre-emptive strike adalah strategi "lebih baik saya amankan dulu orangnya, daripada saya harus hadapi serangannya nanti."
Itu kenapa Wantimpres gemuk itu disebut banyak analis bukan sekadar bagi-bagi kursi, tapi operasi pre-emptive untuk konsolidasi kekuasaan 2029.( Bagian 2 - Wantimpres digugat)
copyright: wartamerdeka.net - 2026
Ditulis oleh
Redaktur
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!