Sang Simbol Kesabaran Tertinggi, Kisah Nabi Ayub AS
Oleh : Kiyai Galon
Jika Nabi Sulaiman adalah contoh bagaimana menjadi kaya yang bersyukur, maka Nabi Ayub adalah contoh bagaimana menjadi miskin yang bersabar. Dua sayap inilah yang menerbangkan seorang hamba menuju surga.
Allah SWT memujinya dengan pujian yang tidak Allah berikan kepada banyak nabi dengan redaksi yang sama:
إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
"Sesungguhnya Kami dapati dia seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)." - (QS. Shad: 44).
Silsilah Nabi Ayub Alaihissalam adalah Ayub bin Amush bin Tawakh bin Rum bin Ishaq bin Ibrahim Alaihissalam. Dia adalah cucu dari Nabi Ishaq, keponakan dari Nabi Ya'qub. Artinya masih dari keluarga besar Khalilullah, Ibrahim AS.
Nabi Ayub diutus di daerah Hauran, wilayah Syam, antara Damaskus dan Yordania sekarang. Sebelum ujian, Allah jadikan dia sebagai manusia terkaya di masanya.
Jumlah ternaknya tidak terhitung. Dalam kitab Qashashul Anbiya, Ibnu Katsir menyebutkan, Nabi Ayub memiliki 14 ribu ekor kambing, 6 ribu unta, 1.000 ekor sapi, dan 500 keledai. Lahan pertaniannya seluas mata memandang.
Dikaruniai 12 anak laki-laki dan perempuan, semua shalih dan berbakti. Namun satu hal, yang paling penting adalah bahwa kekayaannya tidak membuatnya sombong. Ia adalah dermawan terbesar. Setiap hari ia memberi makan fakir miskin, menyantuni janda, dan rumahnya selalu terbuka. Selalu bangun malam, puasanya Daud, dzikirnya tidak putus.
Sampai para Malaikat memujinya, "Lihatlah hamba Allah Ayub, kekayaannya tidak melalaikannya."
Mendengar pujian itu, Iblis merasa iri. Kedengkian Iblis mulai tumbuh. Iblis berkata kepada Allah, "Ayub taat karena Engkau kayakan dia. Coba Engkau miskinkan, pasti dia ingkar." Tapi, Allah Maha Tahu, ini bukan soal kaya miskin, tapi soal membuktikan kepada semesta bahwa ada hamba yang cinta kepada Allah bukan karena pemberian-Nya, tapi karena Dzat-Nya.
Maka Allah izinkan Iblis menguji Ayub, namun dengan syarat: "Jangan kau sentuh hati dan lisannya."
Serangkaian Ujian Menimpa Nabi Ayub
Iblis dan bala tentaranya datang. Mereka membunuh seluruh ternak-ternaknya, membakar lumbung gandumnya, merusak kebun-kebunnya. Dalam sehari, Ayub dari miliarder menjadi orang yang tidak punya apa-apa. Lantas, apa reaksi Ayub? Ia malah sujud dan berkata, "Allahumma lakal hamd. Engkau yang memberi, Engkau yang mengambil. Segala puji bagi-Mu dalam segala keadaan."
Satu fase Iblis merasa gagal. Kemudian dilanjut fase berikutnya, Iblis tidak menyerah. Ia tahu titik lemah seorang ayah adalah anaknya. Maka saat putra-putri Ayub sedang berkumpul di rumah tertua mereka untuk makan bersama, Iblis mengguncang tiang-tiang rumah itu dengan izin Allah, hingga rumah itu roboh dan menimpa mereka semua. 12 anaknya wafat dalam satu kejadian.
Berita itu sampai kepada Ayub. Air matanya mengalir, hatinya bergetar, ia menangis, karena ia adalah ayah yang penyayang. Ia merobek bajunya, mencukur rambutnya sebagai tanda duka yang dibolehkan saat itu.
Namun lisannya tetap berkata: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Allah memberi amanah, Allah mengambil amanah-Nya. Aku ridha."
Iblis kembali gagal. Karena yang hilang hanya hartanya, tapi imannya masih utuh.
Iblis masih tidak bisa menerima fakta yang ada. Iblis memohon izin untuk menimpakan penyakit ke tubuh Ayub. Maka Allah izinkan. Inilah ujian terberatnya.
Tiba-tiba tubuh Ayub yang sehat dan gagah itu dipenuhi luka, bisul, nanah, dan gatal yang luar biasa menyakitkan. Kulitnya melepuh. Tubuhnya mengeluarkan bau yang tidak sedap, hingga tidak ada satu tetangga pun yang mau mendekat. Penyakit aneh bahkan tidak bisa disebut itu penyakit apa?
Semua orang mengusirnya. "Pergilah Ayub, penyakitmu akan menular kepada kami!"
Maka pergilah Ayub bersama satu-satunya yang setia, istrinya yang shalihah, bernama Rahmah binti Afratsim, cucu Nabi Yusuf AS. Sebagian riwayat menyebut namanya Layya. Dia adalah wanita paling sabar setelah suaminya.
Mereka tinggal di sebuah gubuk di pembuangan sampah, jauh dari manusia. Rahmah bekerja sebagai pembantu rumah tangga, menjual kepang rambutnya, hanya untuk membelikan roti untuk suaminya.
Penyakit itu bukan sehari dua hari. Para ulama ahli sejarah seperti Wahab bin Munabbih menyebutkan selama 18 tahun. 18 tahun terbaring, tidak bisa berdiri, tidak bisa memeluk istrinya, hanya bisa berbaring di atas abu.
Namun ada yang Iblis tidak bisa sentuh, yaitu Hati dan Lisan Ayub. Hatinya tetap bersyukur, lisannya tetap berdzikir, "Subhanallah, Alhamdulillah."
Ujian Kesetiaan Istri dan Pukulan 100 Kali
Suatu hari, Rahmah terlambat pulang karena mencari makanan yang halal. Ayub yang terbaring sendirian, dalam keadaan sakit, lapar, dan rindu, memanggil-manggil istrinya tidak ada jawaban. Syaitan membisikkan ke hati Ayub, "Istrimu sudah meninggalkanmu, ia jijik padamu."
Dalam keadaan marah karena cemburu dan sakit, Ayub bersumpah dalam hatinya, "Demi Allah, jika aku sembuh nanti, akan aku pukul engkau 100 kali karena meninggalkan aku."
Sumpah itu diucapkan karena emosi sesaat. Padahal Rahmah tidak meninggalkannya, ia hanya terlambat karena mencari nafkah.
Ketika Rahmah pulang dan melihat suaminya marah, ia menangis dan menjelaskan. Ayub pun menyesal telah bersumpah untuk memukul istri yang 18 tahun setia merawatnya.
Di sinilah kasih sayang Allah turun untuk keduanya. Setelah 18 tahun, Ayub tidak pernah meminta sembuh untuk dirinya sendiri. Ia malu meminta. Hingga suatu hari, ia merasa gangguannya sudah menghalanginya untuk beribadah dan mengingat Allah.
Maka ia berdoa dengan doa yang sangat beradab, yang di abadikan oleh Allah di dalam Al-Qur'an sebagai doa pamungkas bagi orang sakit: وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِي
"Dan ingatlah Ayub, ketika ia berdoa: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." - (QS. Al-Anbiya: 83)
Allah langsung menjawab. Turunlah wahyu:
ارْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَاب
"Hentakkanlah kakimu! Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum."_ *(QS. Shad: 42).
Ayub menghentakkan kakinya yang sudah 18 tahun tidak bisa digerakkan. Seketika memancar mata air dari tanah. Ia mandi dengan air itu, maka sembuhlah luarnya, kulitnya kembali mulus seperti kulit pemuda. Ia minum air itu, maka sembuhlah dalamnya, penyakitnya hilang total.
Saat Rahmah pulang, ia tidak mengenali suaminya. Di depannya berdiri seorang pemuda tampan bercahaya. "Di mana suamiku?" tanya Rahmah.
Ayub tersenyum, "Akulah suamimu."
Rahmah pun menangis terharu.
Lalu bagaimana dengan sumpah 100 pukulan itu? Allah, karena kasih sayang-Nya kepada Rahmah dan Ayub, memberikan jalan keluar yang indah agar sumpah tetap tertunaikan tanpa menyakiti:
وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِب بِّهِ وَلَا تَحْنَثْ
"Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah." - (QS. Shad: 44)
Allah perintahkan Ayub mengambil 100 helai rumput atau lidi kecil, diikat menjadi satu, dan memukulkannya sekali saja dengan pelan kepada Rahmah. Pukulan hanya sebagai formalitas untuk menunaikan sumpahnya. Maka gugurlah sumpahnya, dan istrinya tidak tersakiti. Betapa Maha Halus dan Maha Penyayang Allah.
Setelah sembuh, Allah kembalikan semuanya dengan lipat ganda, sebagai balasan atas kesabaran.
وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا
"Dan Kami anugerahkan kepadanya keluarganya (yang telah meninggal) dan yang serupa dengan mereka bersama mereka pula, sebagai rahmat dari Kami." - (QS. Shad: 43).
Hartanya kembali melimpah, bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Anak-anaknya, menurut sebagian tafsir, Allah hidupkan kembali, dan ditambah lagi dengan jumlah yang sama. Ia hidup sejahtera lagi selama 70 tahun setelah sembuh, hingga usianya mencapai 93 tahun. "Inilah yang Allah maksud dalam firman-Nya, bahwa Rahmah adalah bagian dari kesabaran Ayub. Jika Ayub adalah "Ni'mal 'Abd" (sebaik-baik hamba), maka Rahmah adalah "Ni'matuz Zaujah" (sebaik-baik istri).(*)
copyright: wartamerdeka.net - 2026
Ditulis oleh
Redaktur
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!