WIB

Untuk pengalaman membaca yang lebih nyaman, alihkan ke mode gelap.

Iklan
Daerah

Bupati Lamongan Beri penghargaan 10 Pemuda Pelopor Desa

Refleksi 98 Tahun Sumpah Pemuda"

R

Redaktur

Rabu, 28 Oktober 2026 · 18:16 WIB · 5 mnt baca

Foto/diskominfo Lamongan

"Refleksi 98 Tahun Sumpah Pemuda"

Oleh : tim redaksi

Iklan

Ketika belum mengenal Zoom, bahkan tidak ada anggaran negara, tidak ada gedung megah. Sembilan puluh delapan tahun yang lalu, yang ada hanyalah sebuah rumah sempit di Jalan Kramat Raya 106, dan sekelompok pemuda yang berani bermimpi tentang sebuah negeri, sebuah negeri yang bahkan belum ada namanya di peta dunia.

Mereka, para pemuda itu, bersumpah: Bertumpah darah satu, Tanah Indonesia. Berbangsa satu, Bangsa Indonesia. Berbahasa satu, Bahasa Indonesia.

Dan hari ini, 28 Oktober 2026, tepat dua tahun sebelum satu abad sumpah pemuda itu. Kita sekarang di tahun ke-98. Sejarah sedang memberikan sinkronisasi yang tidak kebetulan.

Menurut data BPS dan Lembaga Demografi FEB UI per Oktober 2026, puncak bonus demografi Indonesia terjadi pada tahun 2028. Tahun yang sama dengan 100 Tahun Sumpah Pemuda. Saat kita akan merayakan 100 tahun sumpah itu, kita juga akan berada di puncak penentuan: Apakah kita akan menjadi negara kaya sebelum menua, atau menua sebelum kaya.

Hari ini Indonesia memiliki 290,1 juta jiwa, dengan 201 juta jiwa atau 69,3% adalah usia produktif 15-64 tahun. Di dalamnya ada 44,3 juta pemuda usia 15-24 tahun. Inilah modal terbesar kita. Ini adalah jendela yang terbuka sejak 2020, diperkirakan mulai menutup pada 2027. Kita hanya punya waktu 10-15 tahun untuk mengoptimalkannya. Jika tidak, bonus ini akan menjadi malapetaka..Karena angka-angka hari ini menunjukkan kita belum siap.

Data BPS Februari 2026 mencatat: lapangan kerja informal bertambah 1,16 juta orang, jauh melampaui formal yang hanya 740 ribu. Hari ini 59,4% pekerja Indonesia masih terjebak di sektor informal. 88% penduduk kita masih berpendidikan rendah SD-SMP-SMA.

Bahkan di tengah penurunan angka pengangguran terbuka menjadi 4,68%, kita masih menyimpan 1,03 juta pengangguran terdidik lulusan Diploma hingga S3.

Inilah korelasi mendalamnya: Sumpah Pemuda 1928 adalah tentang melebur identitas kesukuan menjadi Indonesia. Sumpah Pemuda 2028 harus tentang melebur kesenjangan keterampilan menjadi bangsa yang kompeten.

Patriot 1928 menolak penjajahan. Patriot 2026 menolak apatis. Di Lamongan, patriotisme itu adalah pemuda yang gigih membangun jiwa enterpreneur atau pemuda yang giat menjaga lahan pertaniannya dengan tanaman tanaman produktif guna menjaga ketahanan pangan, termasuk pemuda yang giat membangun UMKM melahirkan produk produk lokal. Patriot bukan tentang kerasnya teriakan Merdeka, tapi setianya kita mengisi kemerdekaan dengan karya.

Ironis, generasi yang paling dimudahkan teknologi, seringkali paling mudah menyerah. Tantangan kita bukan lagi melawan senjata, tapi melawan malas, hoaks, judi online, dan mental instan. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8%, produktivitas kita harus naik dari 4% menjadi 6,9%. Tanpa kegigihan, bonus demografi hanya akan menjadi beban demografi.

Inilah jiwa asli 1928. Pemuda Jong Java rela melebur demi Indonesia. Hari ini, empati adalah anti-tesis dari individualisme media sosial. Pemuda untuk Indonesia berarti pemuda yang peduli pada lingkungan, pada pencemaran lingkungan akibat meledaknya pembangunan pabrik, atau peduli pada tetangga yang kesulitan, peduli pada perbedaan sebagai kekayaan. Berempati adalah kunci agar 201 juta usia produktif tidak saling sikut, tapi saling menguatkan.

Rasio ketergantungan kita akan naik dari 46,5 hari ini menjadi 59,7 pada tahun 2045. Anak-anak yang hari ini mengikuti Sumpah Pemuda, pada 2045 akan berusia 34 tahun dan harus menanggung beban dua generasi sekaligus: anaknya dan orang tuanya.

Jika dalam dua tahun menuju 100 Tahun Sumpah Pemuda ini kita gagal, maka perayaan satu abad itu akan menjadi perayaan bangsa yang lelah, bukan bangsa yang emas.

Mari kita isi dua tahun terakhir ini dengan sumpah baru yang lebih operasional: Satu desa, satu pemuda wirausaha. Satu sekolah, satu inovasi untuk desanya. Satu komunitas, satu aksi peduli. Lamongan adalah miniatur Indonesia. Ada laut, sawah, dan industri. Tugas kita bukan hanya membuat peraturan, tapi memastikan peraturan itu menciptakan ekosistem agar pemuda tidak terpaksa mengambil pekerjaan apa saja demi bertahan hidup, tapi memiliki pekerjaan yang bermartabat.

98 tahun adalah pengingat bahwa kita pernah bersatu. 100 tahun nanti harus menjadi bukti bahwa persatuan itu membuat kita produktif, sejahtera, dan berkeadilan.

Jangan biarkan bonus demografi ini lewat begitu saja, padahal kita sudah menunggu 98 tahun. Refleksi ini tidak berhenti pada retorika. Kabupaten Lamongan, misalnya telah mengambil peran sebagai rumah yang ramah untuk potensi, mimpi, dan pembangunan generasi muda penerusnya.

Hal ini seperti yang diungkapkan Bupati Lamongan Yuhronur Efendi dalam amanatnya di Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-98 Tahun 2026 pada Rabu (28/10) di Alun-alun Lamongan.

"Pemkab Lamongan terus membuka ruang pengembangan pemuda melalui Megpreneur, Perintis, Lamongan Nyantri, Young Entrepreneur Success (YES) dan Generasi Emas Lamongan serta berbagai program dan ruang kolaborasi lainnya. Komitmen tersebut kami perkuat dengan menjadikan Indeks Pembangunan Pemuda sebagai salah satu indikator kinerja dalam RPJMD, alhamdulillah tahun 2025 IPP Lamongan mencapai 63,50 dan berada pada kategori baik," Jelas Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi.

Capaian IPP 63,50 kategori baik ini adalah bukti bahwa Lamongan tidak hanya berbicara tentang pemuda, tapi mengukur dan membangunnya secara sistematis. Program Megpreneur mencetak wirausaha muda, sekaligus menyiapkan daya saing digital.

65ad5796-9ddb-4124-8a9c-8623bdf6f265.webpLamongan memiliki potensi lain yang perlu untuk dikelola, menurut Bupati Yes diantaranya adalah diaspora kaum muda Lamongan yang tersebar di berbagai daerah dan negara, sebagai sebuah kekuatan sosial, kekuatan ekonomi, dan sumber daya bagi daya saing daerah. Untuk mendukung potensi ini, pemerintah kabupaten siap membuka ruang kolaborasi dan mendengar gagasan-gagasan yang konstruktif dari Insan Pemuda.

Ini adalah cara Lamongan menjawab taruhan bonus demografi: tidak membiarkan pemudanya pergi, tapi merangkul diaspora sebagai kekuatan, membuka ruang kolaborasi, dan mendengar gagasan konstruktif.

Sebagai bentuk nyata, dalam upacara tersebut Bupati Yuhronur Efendi menyerahkan penghargaan kepada 10 Pemuda Pelopor Desa Kabupaten Lamongan Tahun 2026, yang telah berdedikasi di bidang kewirausahaan, seni dan budaya, ekonomi digital, lingkungan, dan bidang sosial kemasyarakatan. Penghargaan ini untuk mengapresiasi dan mendorong generasi muda desa yang kreatif, inovatif, serta membawa perubahan nyata di lingkungan mereka.(*)

Iklan
R

Ditulis oleh

Redaktur

Komentar (0)

Tinggalkan komentar. Komentar langsung tampil setelah dikirim.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Terkait

Jangan ketinggalan berita

Aktifkan notifikasi untuk kabar terbaru WartaMerdeka langsung di perangkatmu.