Kiyai Galon dan Kursi Purbaya
Oleh : W. Masykar
Assalamualaikum...hadirin, Ndak usah berdiri. Duduk saja di lantai bambu ini. Lantai kita memang tidak berkeramik, tapi insyaallah tidak mengotori hati..
Disampaikan Kiyai Galon, di Gubug Gazebo Surau Pengeleng, Brondong - Surau yang kini hanya tinggal nama saja.
"Malam ini kita tidak akan khotbah. Kita akan sholawatan. Tapi alat kita bukan hadroh yang harganya puluhan juta. Alat kita ini. Kenapa galon?," kata Kiyai Galon
Cak Nun pernah dawuh,....
"Menungso iku podo karo galon. Nek kosong, muni banter. Nek isi, anteng."
Kita ini galon-galon kosong yang sering merasa paling penuh. Merasa paling pinter, paling bener, paling suci. Makane kita lebih gampang tukaran. Dan Sholawat itu cara kita ngisi galon kosong kita.
Shollallahu 'ala Muhammad...
Itu bukan sekedar lagu. Itu kita sedang menyambung kabel. Kabel yang putus, kita sambungkan lagi ke pusat listriknya: Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Listriknya Nabi itu welas asih. Kalau kabel kita nyambung, hati kita yang tadinya peteng, jadi padang. Seperti metabolisme di tubuh kita.
Dulu, saya punya gamelan mahal. Gong besar. Tapi tak jual. Tak ganti galon. Kenapa?
Karena gamelan mahal itu bikin saya sombong. Galon kosong ini bikin saya ingat, bahwa saya ini aslinya tidak punya apa-apa. Suara saya jelek, ilmu saya sedikit sekali, dosa saya banyak.
Orang yang tidak punya apa-apa itu, kalau memanggil Nabi, mesti lebih tulus. Wong kere manggil wong sugih welas asih, pasti lebih temenan tangisnya.
Maka malam ini, di Surau Pengeleng ini, surau tempat memandang, mari kita memandang ke dalam diri kita sendiri.
Pandangilah galon di hatimu. Apakah masih kosong? Apakah masih bunyi keras karena sombong? Atau sudah mulai terisi dengan sholawat? Jangan malu kalau suara sholawatmu fals. Malaikat tidak menilai merdu atau tidaknya. Malaikat menilai, apakah kamu malu atau tidak mengakui kamu kangen sama Nabimu.
Ayo...Tutup mata....Pukul galonmu pelan-pelan. Dan katakan pelan-pelan: Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad...
Biarkan angin Brondong yang membawa sholawat kita malam ini. Tidak usah sampai ke Jakarta. Cukup sampai ke langitnya Surau Pengeleng. Insyaallah Kanjeng Nabi dengar. Karena Nabi itu tidak pernah jauh. Kita saja yang sering menjauh. Monggo, kita sholawatan......
Sama seperti Kursi. Kursi itu tidak pernah benar-benar milik siapa-siapa. Kursi itu hanya dititipkan. Seperti galon di Surau Pengeleng, kadang penuh, kadang kosong, tapi tetap harus dijaga. Senin, 14 September 2026, di Istana Negara, sebuah Keputusan dibacakan: Keppres Nomor 97/P Tahun 2026. Nama Purbaya Yudhi Sadewa diganti. Digantikan wakilnya sendiri, Suahasil Nazara. Hanya setahun saja. Purbaya dilantik September 2025, selesai September 2026. Seumur jagung, kalau dihitung kalender kekuasaan. Empat hari sebelumnya, Kamis 10 September 2026, ia baru saja merombak ratusan pejabat di Kemenkeu — Pajak dan Bea Cukai digeser, dilantik, dirombak.
Lalu Selasa 15 September, ia serah terima jabatan sambil berkata pelan: "Sebagian ada... Ya itu kan hak prerogatif Presiden, kita ikutin aja."
Tidak ada drama. Tidak ada tangis. Cak Nun pernah bilang: "Jabatan itu seperti baju. Dipakai saat dingin, dilepas saat selesai. Yang tertinggal bukan bajunya, tapi apakah badanmu jadi hangat atau tidak."
Purbaya pun begitu. Ia tidak bicara soal kebijakan yang salah, ia bilang kebijakannya aman, mengikuti presiden. Ia tidak marah SK-nya akan diotak-atik lagi. Ia hanya bilang, "suka-suka menteri lah"
Di Kemenkeu yang pegawainya 77.000 orang itu, bendahara negara memang silih berganti. Tapi bendahara yang sejati bukan yang memegang kunci brankas, tapi yang berani menatap kunci itu dan berkata: ini hanya titipan. Hari itu, di Jakarta, kunci berpindah tangan. Di Surau Pengeleng, galon-galon masih dipukul: tung... tung... tung...mengingatkan kita bahwa semua yang penuh pasti akan kosong, dan semua yang kosong menunggu untuk diisi lagi.
Shollallahu 'ala Muhammad.
Menteri lain kalau diberhentikan, biasanya membawa kardus berisi foto, piagam, dan kenangan. Hari itu, Purbaya Yudhi Sadewa tidak. Ia hanya membawa satu kalimat yang ia ucapkan di depan wartawan, setelah serah terima jabatan dari Suahasil Nazara:
"Ya itu kan hak prerogatif Presiden. Kita ikutin aja." Kalimat yang sangat pendek, tapi sangat berat. Karena di dalamnya ada ikhlas.
Kamu tahu rasanya jadi Menteri Keuangan? Setiap hari kamu ditanya: "Uang negara cukup atau tidak?"
Setiap hari kamu dimaki: pajak naik, bea cukai mencekik. Padahal kamu hanya menjaga lumbung yang bukan milikmu. Purbaya tahu itu. Maka 4 hari sebelum ia dicopot, ia sempat berani menyentuh sarang tawon. Ia rombak ratusan pejabat di Ditjen Pajak dan Ditjen Bea Cukai. Tempat yang paling banyak uang, paling banyak godaan.
Orang bertanya: Apakah karena itu kamu dicopot?
Ia menjawab pelan: "Sebagian ada kaitannya."
Tidak menyalahkan siapa-siapa. Tidak membuka aib siapa-siapa. Ia hanya mengakui: mungkin kejujurannya terlalu berisik.
Dan Purbaya itu bukan dipecat. Ia sedang menjadi bagian dari metabolisme negara. Ibarat galon di Surau Pengeleng, kadang kita kosongkan bukan karena benci, tapi karena airnya sudah keruh dan perlu diganti air baru. Jabatan itu air. Manusia itu galonnya. Air boleh diganti, tapi galonnya harus tetap dijaga tetap bersih dengan sholawat.
Purbaya dilepas dari Kemenkeu. Jangan lihat sebagai airmata. Lihatlah sebagai metabolisme cinta: ketika seorang bendahara dipulangkan, agar ia bisa kembali mencerna hidupnya sendiri, bukan terus-menerus mencerna beban 280 juta rakyat. Galon kosong malam ini kita pukul: TUNG... TUNG... TUNG... sebagai tanda bahwa tubuh Indonesia sedang bermetabolisme, dan kita semua sedang belajar ikhlas dicerna oleh waktu."
Cak Nun pernah menulis: "Jangan menangis karena jabatan lepas. Menangislah kalau saat menjabat kamu tidak sempat berbuat jujur."
Dan Purbaya sudah berbuat jujurnya. Di rumah, anaknya mengunggah video. Bukan video sedih. Video ayahnya yang kini bisa tidur tanpa dibangunkan jam 4 pagi untuk rapat utang negara. Video ayahnya yang kini kembali bisa melihat grafik saham bukan sebagai beban APBN, tapi sebagai hobi lamanya sebagai trader.
Lihatlah!...Di Jakarta, orang berebut kursi. Sementara di Surau Pengeleng Brondong, kita belajar dari galon kosong: bahwa semua yang berkuasa akan kembali kosong, dan kekosongan itulah yang paling jujur.
Purbaya sudah selesai dengan kosong dan penuhnya. Kini ia pulang. Bukan sebagai mantan Menteri. Tapi sebagai seorang ayah, yang akhirnya bisa pulang dan makan malam bersama anaknya tanpa harus memikirkan defisit.
Dan untuk itu, kita perlu memberinya sholawat kecil dari surau bambu kita: Allahumma sholli ala Muhammad. Semoga yang pulang, dipulangkan dengan tenang.(*)
Ditulis oleh
Redaktur
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!