Eddi Pramono - The Legend, Besar Bersama Hujan, Kopi dan Radio Tua
Oleh : W. Masykar
Lahir di Blitar, kemudian hijrah ke Malang pada 1979, Eddi Pramono besar bersama hujan, kopi, dan radio. Di era ketika musik Indonesia sedang mencari bentuknya, ia datang dengan cara yang paling sederhana: gitar akustik dan suara yang jujur
Pada era 80 - 90an, Eddi Pramono menjadi suara yang mewakili sebuah generasi. Tanpa gimmick, tanpa sensasi, hanya musik. Lagu-lagu yang dibawakan selalu tentang cinta, rindu, dan kota - tema yang tidak pernah basi sampai hari ini.
Ketika kita masih ingat, di antara deretan nama besar musik Indonesia tahun 80 - 90an, ada satu suara dari Kota Apel yang tak pernah padam. Bukan suara yang berteriak. Tapi suara yang membelai. Suara yang kalau diputar sekali, bisa membuat orang diam, lalu mengingat kembali. Namanya Eddi Pramono. Anak Malang yang memilih gitar, panggung, dan kesetiaan pada lagu. Lahir di Blitar dan besar di Malang, Eddi Pramono tumbuh bersama udara dingin, hujan sore, dan radio tua.
Tahun 80-an, saat musik Indonesia sedang mencari jati dirinya, Eddi muncul membawa warna berbeda. Bukan rock yang gaduh. Bukan pop yang terlalu manis.
Eddi Pramono, ketika Malang memberi Indonesia sebuah suara. Tak Pernah Tua, Ikon Musik 80-90an. Gitar, Rindu, dan Eddi Pramono, the Legenda dari Kota Apel - Malang.
Musik dan suaranya ada di tengah, balada yang jujur, lirik yang bicara tentang cinta, rindu, perpisahan, dan kota. Suara Eddi tidak keras. Tapi tembus. Seperti surat yang ditulis tangan, dibacanya pelan-pelan. Setiap nada gitarnya seperti sedang bercerita. Setiap jeda vokalnya seperti menahan air mata. Lirih suaranya cepat dikenal dari Malang sampai Jakarta. Dari warung kopi sampai panggung besar. Karena suara dan lagu yang dibawakan Eddi Pramono bukan untuk didengar sekali. Dia untuk diingat seumur hidup.
Yang membuat Eddi legendaris bukan hanya suaranya. Tapi sikapnya. Di tengah hiruk pikuk industri musik yang berubah cepat, ia tetap Malang. Tetap rendah hati. Tetap memilih jalur sendiri. Tidak ikut tren, tapi menciptakan kenangan. Bagi orang Malang, Eddi adalah kebanggaan. Satu bukti - dari kota kecil, bisa lahir suara yang didengar satu negara.
Bagi penggemarnya, Eddi adalah rumah. Tempat pulang setiap kali hati sedang tidak baik-baik saja. Dan sampai hari ini, puluhan tahun berlalu, kalau ada acara nostalgia, nama pertama yang disebut tetap: Eddi Pramono. Kalau ada gitar dipetik di kafe, lagu pertama yang diminta tetap suara lirih Eddi. Maklum dia lama menjadi bagian entertainment di Resto cafe Ringin Asri Malang dari 1993 sampai 2021.
Dan kini, zaman boleh berganti. Musik boleh berubah format. Tapi ada suara yang menolak tua, yang salah satunya, suara Eddi Pramono. Ia tidak hanya menyanyi. Ia mengarsipkan rasa satu generasi dalam satu hari di Taman Kopi.
Dan selama masih ada orang yang rindu, selama masih ada gitar yang dipetik malam atau siang hari... Suara dari Malang itu akan terus hidup. Menetes, menenangkan, dan mengingatkan kita: dulu, cinta pernah dinyanyikan seindah itu.
Pada tahun 1980an hingga 2005, Eddi Pramono adalah generasi band Bentoel terakhir. Sering juga berkolaborasi dan konser bareng Erwin Mercys Band (EMB) di Jakarta.
Belakangan Youtuber dengan Chanel Eddi Pramono cover- TikTokers ini, mengaku ada sejumlah nama besar yang diidolakan, sebut saja seperti, the legend Charles Hutagalung, Delly Rollies, Beny Panjaitan dan Utha likumahua.
"Saya suka dengan lagu lagunya Charles Hutagalung, Delly Rollies, Beny Panjaitan, termasuk Utha Likumahua," Ungkap Bang Eddi Pramono.
Orang-orang tidak hanya mendengar Eddi. Mereka tinggal di dalam lirih suaranya, yang membuat Eddi Pramono legendaris bukan karena ia paling banyak manggung. Bukan karena paling banyak wawancaranya di TV.
Tapi karena ia paling setia. Setia pada nada. Setia pada kata. Setia pada penontonnya. Sampai hari ini, ketika nama-nama lain sudah tenggelam zaman, nama Eddi masih disebut.
Masih diputar di kafe. Masih diminta di acara reuni. Masih dinyanyikan bapak-bapak dengan mata berkaca. Karena musik Eddi bukan untuk tren. Musik Eddi untuk kenangan. Dan hari ini, puluhan tahun setelah pertama kali ia memetik gitar, kita masih duduk di tempat yang sama. Mendengarkan suara yang sama.
Selamat datang di "Satu Hari Bersama Bang Eddi Pramono". Hari, di mana kita tidak hanya mendengar lagu. Tapi juga mengingat siapa kita dulu? Maka amankan ticket dan undangan anda!.(*)
copyright wartamerdeka.net 2026
Ditulis oleh
Redaktur
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!