Ketika Kafe Spoor Babat Tempat Pulang "Koesplus"
W. Masykar
Malam itu, Koesplus pulang. Pulang ke Babat, lewat suara kami. Bojonegoro berjalan 2 jam. Tuban menyeberang jembatan. Lamongan menembus malam. Semua, hanya untuk satu tujuan, duduk dan menyanyi bersama. Bukan menyanyi untuk menang. Tapi menyanyi untuk mengingat. Mengingat dulu pernah ada 4 bersaudara yang dengan 3 chord, mampu membuat seluruh Indonesia diam dan mendengarkan.
Malam itu di Kafe Spoor Babat, kami mencoba melakukan hal yang sama. Sampai membuat, kopi di Kafe Spoor Babat malam itu rasanya berbeda. Lebih pahit, lebih hangat, lebih bernostalgia. Di dalamnya larut suara-suara, yang jelas bukan suara rapat seperti di gedung wakil rakyat, juga bukan konser. Tapi pertemuan para pecinta Koesplus. Tempat kami saling mengingatkan, musik yang baik tidak pernah tua.
Malam itu, Rabu (2/8/2026), rel tidak hanya mempertemukan kereta. Tapi nada mempertemukan hati. Di sebuah kafe bernama Kafe Spoor. Tempat roda besi bersuara, tapi malam itu, gitar tua yang bersuara.
"Yang jelas kita bukan penyanyi hebat. Kita hanya rindu. Rindu pada zaman ketika musik itu jujur. Ketika lirik itu puisi. Dan Ketika Koesplus mengajari kita: Cinta, rindu, dan negeri... bisa dinyanyikan dengan sederhana," Ungkap Sidiq salah seorang pecinta Koesplus sejak 50 tahun lalu. Selamat datang para pecinta Koesplus. Selamat berkolaborasi. Selamat pulang... ke tahun 70-an, lewat lagu "Why Do You Love Me". Malam itu, Kafe Spoor Dindingnya dengar petikan gitar. Kursinya dengar harmoni 3 suara. Dan kami... hanya duduk, bernyanyi, tertawa. Seperti Koesplus dulu: 4 bersaudara, satu panggung, satu hati. Tidak ada ego. Dan 50 tahun kemudian, Koesplus masih mempersatukan kami.
Lagu terakhir sudah selesai. Tapi gema nya belum. Masih tertinggal di tembok Kafe Spoor. Masih tertinggal di hati kami. Hari ini kami membuktikan... Koesplus mengajarkan kami, bahwa musik itu rumah. Malam itu, kami pulang ke rumah yang sama.
Dengan gitar yang sama. Dengan lagu yang sama. Dengan rindu yang sama. Di antara denting kopi dan tembok tua Stasiun Babat, malam itu sejarah kecil ditulis ulang. Bukan dengan kereta, tapi dengan gitar. Bukan dengan peluit, tapi dengan harmoni. Komunitas pecinta lagu-lagu Koesplus dari Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan berkumpul di Kafe Spoor Babat, membawa satu misi sederhana: bernostalgia dan berkolaborasi.
Tidak ada panggung megah. Tidak ada tata lampu mewah. Yang ada hanya kursi kayu, mic seadanya, dan semangat yang sama besarnya.
Dari Lamongan Pantura menyambut dengan vokal "Pelangi" yang menggetarkan. Yang dibawakan oleh Mas Yoyok - tapi bukan Yok Koeswoyo - Tapi Yoyok Kendilwesi.
"Kulihat pelangi di pagi hari
Kurindukan kekasih untuk kembali
Pelangi engkau pelangi
Sampaikan salamku ini
Kepada kekasih hati
Pada siapaku berjanji
Pelangi engkau pelangi
Luluskan pintaku ini
Betapa pagi ini indah berseri
Andaikan hidup ini terus begini
Pelangi engkau pelangi
Sampaikan salamku ini
Kepada kekasih hati
Pada siapa ku berjanji
Pelangi engkau pelangi
Luluskan pintaku ini"
Tiga kota, tiga karakter, tapi satu nada. Di sini tidak ada siapa paling jago. Yang ada hanya saling mengajari: tentang nada - "Chordnya ganti ke G".
Koesplus memang begitu. Musiknya sederhana, tapi mampu meruntuhkan sekat. Liriknya tentang cinta, rindu, dan negeri... terasa relevan di 2026, sama seperti 50 tahun lalu.
"Buat kami, Koesplus itu rumah," ujar salah satu peserta.
"Di tengah perkembangan musik yang cepat, kami butuh tempat pulang. Dan rumah itu namanya Koesplus."
Kafe Spoor tempat persinggahan kereta, malam itu berubah fungsi. Menjadi persinggahan hati-hati yang rindu musik jujur.
Saat acara ditutup bukan dengan salam perpisahan, tapi dengan nyanyian bersama. Puluhan suara berbeda menyatu. Malam itu membuktikan satu hal, selama masih ada gitar, selama masih ada yang mau menyanyi... Koesplus tidak akan pernah mati. Ia hanya pindah-pindah rumah. Dan malam itu, rumahnya ada di Kafe Spoor Babat. Mungkin berikutnya di Taman Kopi Brondong. Dan ternyata benar kata Tonny Koeswoyo: Musik itu mempersatukan. Dan malam itu, kami merasakannya. Malam itu, Kafe Spoor Babat tidak lagi menunggu kereta. Ia menunggu nada.
Dari arah utara, timur, dan barat.....Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan datang membawa rindu yang sama. Rindu pada petikan gitar, pada lirik yang jujur, pada zaman bernama Koesplus. Dan ketika senar pertama dipetik, tembok tua itu pun ikut bernyanyi.
Rel mungkin sudah tidur. Tapi malam itu, di Kafe Spoor Babat, jalur itu hidup lagi. Bukan untuk menghubungkan kota, tapi untuk menghubungkan hati. Bojonegoro membawa melodi. Tuban membawa harmoni. Lamongan membawa suara. Dan Koesplus... menjadi tiketnya. Ingatan akan seorang Tonny, Yon, Yok, dan Murry...yang 50 tahun lalu mengajari kita, bahwa cinta dan negeri bisa dinyanyikan dengan sederhana.(*)
Ditulis oleh
Redaktur
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!