WIB

Untuk pengalaman membaca yang lebih nyaman, alihkan ke mode gelap.

Iklan
Refleksi

Kisah Nabi Musa Dan Prosoche Ilahiyah

R

Redaktur

Senin, 26 Oktober 2026 · 18:33 WIB · 9 mnt baca

Oleh : W. Masykar 

Kisah ini, diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Bukan tentang Nabi Musa melawan takdir, tapi tentang kasih sayang Allah pada kekasih-Nya. Dikisahkan, ketika ajalnya telah dekat, Allah mengutus Malaikat Maut kepada Musa Alaihissalam untuk mencabut nyawanya.

Iklan BDL

Malaikat Maut datang dalam wujud manusia yang tidak dikenal Musa. Ia berkata, "Penuhilah panggilan Tuhanmu."

Musa yang belum siap dan tidak mengenal tamunya itu, yang mengira tamu itu adalah orang yang ingin mencelakainya, Musa menamparnya dengan keras. Tamparan seorang Nabi yang kekuatannya luar biasa itu mengenai mata Malaikat Maut, hingga matanya terlepas.

Malaikat pun kembali kepada Allah, Rabb semesta alam, dan berkata: "Ya Rabb, Engkau mengutusku kepada seorang hamba yang tidak menginginkan kematian."

Allah dengan rahmat-Nya mengembalikan mata Malaikat Maut itu, lalu berfirman: "Kembalilah kepada hamba-Ku, dan katakan padanya: Letakkan tanganmu di atas punggung seekor lembu jantan, maka setiap bulu lembu yang tertutup oleh tanganmu, engkau akan mendapat tambahan umur satu tahun untuk setiap bulunya."

Malaikat turun kembali dan menyampaikan pesan itu kepada Musa. Musa mendengar tawaran umur yang sangat panjang itu, lalu bertanya dengan kecerdasan seorang Nabi: "Wahai Malaikat, setelah umur panjang itu, apa yang terjadi kemudian?"

Malaikat menjawab: "Kemudian tetap kematian."

Musa terdiam sejenak. Inilah puncak keimanan. Ia tahu, sepanjang apapun umur ditambahkan, ujungnya tetap akan bertemu Allah. Maka Musa berkata:

"Kalau begitu, sekarang saja. Saya ingin segera bertemu dengan Allah. Tapi saya memohon, dekatkan kematianku sejauh lemparan batu dari Baitul Maqdis, tanah suci yang saya rindukan."

Saat pertama Malaikat Maut datang, Nabi Musa belum mengamati. Ia melihat sosok asing masuk rumahnya menyuruh mati, ia langsung bereaksi: menampar.

Ini yang orang Stoik sebut 90% masalah manusia: kita bereaksi terlalu cepat sebelum mengamati siapa di depan kita, apa maksudnya, apa konteksnya.

Dalam filosofi Jawa masuk kategori "dolane kurang wengi, ngopine kurang adoh". Musa belum tahu itu Malaikat, belum tahu itu utusan kasih sayang, yang ia tahu hanya "ancaman".

2f1f0a1c-42b6-4d19-85e6-0ae1e3325225.webpBerapa banyak kita seperti ini? Dapat WA yang menyinggung, langsung balas makian. Dapat berita hoax soal apapun kerap kita gampang langsung percaya. Apalagi soal politik, langsung share. Itu artinya, kita menampar sebelum mengamati.

Tamparan Musa adalah simbol manusia yang belum Prosoche.

Setelah tamparan itu, ada ruang jeda yang diberikan Allah, yaitu "Diam"

Apa yang Allah lakukan setelah Musa menampar? Allah tidak menghukum. Allah justru memberi jeda. Allah mengembalikan mata malaikat, memberi tawaran umur: letakkan tanganmu di punggung lembu, sebanyak bulu yang tertutup, sebanyak itu tambahan umurmu.

Jeda ini adalah inti dari filosofi "Diam".

Allah memberi Musa "ruang". Ruang untuk berpikir sebelum bereaksi kedua kali. Ruang untuk memilah: mana yang bisa kukendalikan, mana yang bukan urusanku.

Inilah yang Seneca bilang: "We suffer more in imagination than in reality." Penderitaan pertama Musa karena imajinasi "aku akan dibunuh orang asing". Setelah diberi jeda, ia baru melihat realita.

Diam bukan kalah. Diam adalah strategi Tuhan untuk mendidik kekasih-Nya agar tidak salah langkah kedua kali.

Diam sambil mengamati dan bertindak hanya Saat Perlu - "Baru Bertindak"

Setelah diberi umur ribuan tahun tambahan, Musa tidak langsung mengambil. Ia melakukan apa yang orang Stoik sebut Prosoche paling tinggi: Ia mengamati ke depan.

Ia bertanya: "Setelah itu, apa?"

Malaikat menjawab: "Tetap kematian."

Di sinilah Musa berubah dari reaktif menjadi kontemplatif. Ia mengamati: Diri sendiri, untuk apa umur panjang jika akhirnya tetap mati? Apa yang aku cari? - Alam & Kehidupan, demua yang bernyawa akan kembali. Tidak ada yang abadi.

Yang pada akhirnya, jika ujungnya tetap bertemu Allah, kenapa menunda?

Maka keputusannya tajam, tenang, dan dalam. Ia berkata: "Kalau begitu, sekarang saja."

Ini adalah "Diam Tapi Mengamati" yang sempurna. Orang awam mengira Musa kalah karena akhirnya mati. Padahal Musa menang, karena ia yang memilih waktunya sendiri, dengan kesadaran penuh, bukan karena dipaksa. Ia memilih mati dekat Baitul Maqdis, tempat suci yang ia cintai.

Ombak berisik, menghantam, lalu hilang. Danau diam, dalam, dan memantulkan langit.

Musa yang pertama adalah ombak: menampar, berisik, reaktif. Musa yang kedua adalah danau: diam, bertanya, mengamati, lalu keputusannya memantulkan langit dengan jernih.

Kisah Musa dan Malaikat Maut mengajarkan: Tuhan sendiri mengajarkan kita untuk tidak buru-buru bereaksi. Bahkan kepada Nabi sekalipun, Tuhan memberi kesempatan kedua untuk diam.

Maka sebelum kita menampar seseorang dengan kata-kata, sebelum kita menghakimi orang lain, sebelum kita marah pada postingan orang...Tirulah Musa yang kedua: Diam dulu. Tanya dulu: Setelah ini, apa? Setelah amarah ini, setelah komentar ini, apa yang akan terjadi?

Karena kekuatan bukan di tamparan yang pertama, tapi di keheningan yang kedua, saat kita akhirnya berkata: "Ya Allah, aku siap pulang."

Tentang Diam yang Lebih Kuat dari Tamparan. Ada dua Musa dalam satu kisah.

Musa yang pertama adalah Musa yang masih menjadi ombak. Dan Musa yang kedua adalah Musa yang telah menjadi danau. Jarak antara keduanya hanya satu tamparan, tapi dalamnya sejauh langit dan bumi.

Musa Sebagai Ombak: Ketika Manusia Lupa mengamati bayangkan sore itu. Seorang lelaki tua, yang seumur hidupnya melawan Fir'aun, membelah lautan, dan berjalan 40 tahun di padang pasir bersama kaum yang keras kepala. Tubuhnya masih kuat, jiwanya masih menyala.

Tiba-tiba masuk seorang asing. Tidak memberi salam layaknya tamu, tidak memperkenalkan diri. Ia hanya berkata pendek: "Penuhi panggilan Tuhanmu. Waktumu habis."

119567b1-d8e9-4c10-acef-0a5bdc3a21b0.webpApa yang akan kau lakukan jika kau Musa?

Musa tidak melihat malaikat. Yang ia lihat adalah seorang penyusup yang ingin merampas satu-satunya yang masih ia miliki: sisa hidup untuk beribadah, untuk bertaubat, untuk mencintai Tuhannya lebih lama lagi.

Kita menampar istri dengan kata-kata kasar karena ia telat mengantar kopi, padahal kita tidak mengamati ia seharian lelah mengurus anak.

Kita menampar teman di kolom komentar karena beda pilihan politik, padahal kita tidak mengamati luka apa yang ia bawa.

Kita menampar takdir dengan keluhan: "Kenapa harus aku, Ya Allah?"

Tamparan terjadi selalu karena satu sebab: kita melihat tanpa mengamati. Kita melihat sosok, tapi tidak melihat hakikat.

Stoik menyebutnya hilangnya Prosoche. Orang Jawa menyebutnya "kesusu". Bisa dianalogilan seperti, Kopi masih panas, langsung diseruput, lidah pun terbakar. Lalu kopinya yang disalahkan. Musa di tahap ini adalah kita semua. Reaktif. Berisik. Kuat tapi kosong.

Ketika Allah Mengajarkan Diam

Yang paling indah dari kisah ini bukan tamparannya, tapi apa yang Allah lakukan setelahnya. Allah tidak murka. Allah tidak berkata: "Musa, kurang ajar kau menampar malaikat-Ku!"

Allah melakukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Kekasih yang Maha Sabar: Dia mengembalikan mata malaikat itu, lalu menyuruhnya kembali dengan membawa hadiah.

Allah kemudian memberi Musa jeda. Jeda adalah bahasa cinta Allah yang paling halus. Ketika kita salah, Allah tidak langsung menghukum, Allah memberi ruang untuk diam.

Allah berfirman lewat malaikat-Nya: "Wahai Musa, letakkan tanganmu di punggung lembu jantan. Setiap bulu yang tertutup tanganmu, Aku beri kau tambahan umur satu tahun."

Bayangkan. Satu tangan manusia bisa menutup ribuan bulu. Artinya ribuan tahun tambahan umur. Allah menawarkan keabadian versi dunia kepada Musa.

Kenapa Allah melakukan ini? Karena Allah ingin mengajarkan satu pelajaran besar: Manusia tidak bisa memilih dengan benar jika ia belum pernah diberi pilihan untuk diam.

Selama ini Musa hidup dalam misi: lawan Fir'aun, selamatkan Bani Israil. Hidupnya adalah reaksi terus-menerus. Baru kali ini Allah menyuruhnya berhenti. Diam. Dan mengamati tawarannya sendiri.

Prosoche Ilahiyah*

Dalam hidup kita, jeda itu datang dalam bentuk kegagalan, sakit, kehilangan, atau sepi yang tiba-tiba. Usaha bangkrut, anak sakit, dijauhi teman. Kita mengira itu hukuman. Padahal itu Allah sedang mengembalikan "mata malaikat" kita. Allah sedang berkata: "Aku beri kau waktu, letakkan tanganmu di punggung duniamu, hitung berapa banyak yang bisa kau genggam, lalu tanyakan pada dirimu sendiri, apa artinya semua itu."

Dan inilah puncak kontemplasi itu.

Setelah diberi tawaran ribuan tahun, Musa melakukan hal yang tidak dilakukan kebanyakan manusia. Ia tidak langsung berkata "Ya, saya mau!".

Ia mengamati ke depan.

Ia bertanya satu kalimat yang mengubah seluruh sejarah hidupnya, satu kalimat yang seharusnya kita tanyakan setiap kali kita mengejar dunia:

"Tsumma mah? Setelah itu, apa?"

Setelah ribuan tahun itu, setelah aku punya segalanya, setelah aku hidup paling lama di antara manusia, setelah itu apa?

Malaikat menjawab dengan jujur yang paling jujur: "Tsumma al-maut. Setelah itu tetap kematian."

Sunyi. Di detik itu, Musa yang ombak mati. Lahirlah Musa yang danau.

Danau itu diam, tapi ia tidak kosong. Di dalam diamnya, ia memantulkan seluruh langit. Ia melihat dengan jernih:

Ia mengamati dirinya: Aku ini hamba, bukan Tuhan. Tugasku bukan menambah umur, tugasku menyiapkan bekal.

Ia mengamati alam: Semua lembu akan mati, semua bulu akan rontok dan semua akan tiba saatnya, rusak, hancur, mati.

Ia mengamati tujuan: Jika akhirnya semua akan mati, maka kemuliaan bukan pada panjangnya umur, tapi pada indahnya cara pulang.

Maka ia berkata, dengan suara yang kini sudah tidak ada amarah, hanya rindu:

"Fal-ana. Kalau begitu, sekarang saja. Aku rindu bertemu dengan-Mu. Tapi izinkan aku mati sejauh lemparan batu dari Baitul Maqdis, tanah yang aku cintai."

Ya Allah. Ia tidak lagi menampar kematian. Ia memeluknya. Ia tidak lagi lari dari Malaikat Maut. Ia memanggilnya dengan mesra.

Inilah makna "Diam Adalah Mengamati".

Diam bukan berarti tidak berbuat apa-apa. Diam adalah berhenti menampar dunia, lalu mulai mengamati langit yang terpantul di dalam diri kita.

Dan kita semua pernah menjadi Musa yang pertama. Pernah menampar nasib, menampar orang terdekat, menampar takdir karena kita merasa waktu kita dirampas.

Tapi Allah, dengan kasih-Nya, selalu memberi kita lembu jantan dengan ribuan bulunya: jabatan, uang, proyek jalan mulus, lampu-lampu yang menyala. Dia seakan berkata: "Ambillah, mau berapa lama lagi kamu mau sibuk di dunia?"

Orang yang bijak, di senja harinya, akan duduk seperti Musa yang kedua, menyeruput kopi sambil kotemplasi, dan bertanya: "Setelah semua ini, apa?"

Dan ketika ia menemukan jawabannya bahwa setelah semua ini hanyalah kematian, ia tidak lagi takut. Ia justru tersenyum. Ia memilih pulang dengan tenang, di tempat yang ia cintai, dekat dengan hal-hal yang ia cintai.

Itulah kenapa Rasulullah SAW mengakhiri kisah itu dengan kata-kata: "Seandainya aku di sana, akan kutunjukkan kuburnya di bawah bukit pasir merah, di pinggir jalan."

Karena kuburan orang yang mati setelah mengamati dengan diam, kuburannya pun menjadi penanda jalan bagi orang lain yang masih berisik.

Musa akhirnya tidak dimakamkan di istana. Ia dimakamkan di pinggir jalan. Agar setiap musafir yang lewat tahu: di sini terbaring seorang yang pernah menampar maut, lalu belajar memeluknya dengan diam.

Catatan : Prosoche Ilahiyah adalah "Allah sedang melihatku apa sekarang? Allah ingin aku bagaimana sekarang?" Dalam Islam, ini disebut "Muraqabah dan Ihsan". Rasulullah mendefinisikan Ihsan: "Kau beribadah seolah-olah kau melihat Allah, jika kau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu."

copyright: wartamerdeka 2026

Iklan Iklan kasulasa
R

Ditulis oleh

Redaktur

Komentar (0)

Tinggalkan komentar. Komentar langsung tampil setelah dikirim.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Terkait

Jangan ketinggalan berita

Aktifkan notifikasi untuk kabar terbaru WartaMerdeka langsung di perangkatmu.