WIB

Untuk pengalaman membaca yang lebih nyaman, alihkan ke mode gelap.

Iklan
Daerah

Menuju Sustainable Development, Lamongan Dari Jamula Menuju Menyala

R

Redaktur

Senin, 26 Oktober 2026 · 13:08 WIB · 3 mnt baca

Foto/Kominfo Lamongan

Oleh : tim redaksi

Saat menggelar doa bersama dalam rangka memperingati dua tahun Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Selasa (20/10/2026) di Pendopo Lokatantra. Bupati Lamongan Yuhronur Efendi tidak sekadar menyampaikan rasa syukur atas berbagai capaian pembangunan yang mampu menopang pembangunan nasional sehingga masyarakat dari semua elemen yang ada diajak untuk terus juga mendukung pelaksanaan Asta Cita Presiden Prabowo.

Iklan BDL

Selain itu, Pemkab Lamongan juga terus melanjutkan pembangunan daerah melalui lima belas program prioritas. Bidang infrastruktur, program Jalan Mulus Lamongan (Jamula), misalnya terus berjalan dengan capaian mendekati 70 persen. Pembangunan juga sekaligus akan diperkuat dengan peningkatan infrastruktur irigasi pertanian serta sarana pendukung lainnya.

Pada tahun mendatang, Pemkab Lamongan juga merencanakan pemerataan penerangan jalan umum melalui program Lamongan Menyala, dengan target pemasangan sepuluh ribu titik lampu. Program ini diharapkan mendukung kenyamanan mobilitas masyarakat sekaligus memperkuat keamanan lingkungan.

“Program-program pembangunan akan terus kita dorong agar berkelanjutan dan manfaatnya benar-benar dapat dirasakan masyarakat,” Ungkap Bupati Lamongan.

Jika beberapa tahun lalu keluhan warga Lamongan hampir seragam: jalan rusak, berlubang, berdebu saat kemarau dan berlumpur saat hujan, maka hari ini ceritanya perlahan berubah.

Program Jalan Mulus Lamongan (Jamula) yang menjadi janji politik Bupati Yuhronur Efendi atau yang akrab disapa Pak Yes, kini menunjukkan angka yang tidak main-main. Capaian jalan dalam kondisi mantap dan mulus mendekati 70 persen.

Bagi Lamongan yang memiliki panjang jalan kabupaten ratusan kilometer yang membentang dari pesisir Brondong, Paciran hingga pelosok Mantup dan Ngimbang, angka 70 persen itu bukan sekadar statistik. Itu adalah akses mobilitas warga yang bisa dilalui lebih cepat.

8360888a-003b-487a-9cd0-52b886fbae91.webpNamun, rupanya, Bupati Yes sadar, jalan mulus saja tampaknya tidak cukup. Komitmen itu diterjemahkan dalam Lima Belas Program Prioritas Daerah yang terus dikawal Pemkab Lamongan, sejalan dengan program prioritas nasional. Jika Jamula adalah tentang konektivitas darat, maka dua fokus selanjutnya adalah tentang apa yang ada di bawah dan di atas jalan itu. Air untuk menopang keberlanjutan Lumbung Pangan. Lamongan adalah salah satu lumbung pangan Jawa Timur. Jalan sudah mulus, tapi jika irigasinya macet, petani tetap menjerit. Karena itu, pembangunan selanjutnya akan diperkuat dengan peningkatan infrastruktur irigasi pertanian serta sarana pendukung lainnya. Logikanya sederhana: jalan mulus untuk mengangkut hasil panen, irigasi bagus untuk memastikan panennya ada.

Sementara, Cahaya untuk Rasa Aman juga menjadi prioritas. Inilah program yang paling ditunggu di tahun mendatang: "Lamongan Menyala".

Jika Jamula menyelesaikan masalah siang hari, Lamongan Menyala menjawab keresahan malam hari. Pemkab menargetkan pemerataan penerangan jalan umum (PJU) dengan pemasangan sepuluh ribu titik lampu baru di seluruh kecamatan.

Bukan sekadar soal estetika kota yang terlihat terang dari kejauhan. Sepuluh ribu titik cahaya ini adalah tentang mobilitas dan keamanan.

Seorang ibu yang harus mengantar atau menjemput anaknya selepas magrib.

Para pedagang yang pulang atau berangkat pada malam hari. Atau para pekerja shift pabrik yang pulang larut malam. Bagi mereka, satu titik lampu di tikungan jalan desa berarti rasa aman. Berarti mereka bisa melihat lubang, melihat orang asing, melihat harapan untuk pulang dengan selamat.

Lamongan Menyala adalah upaya Pemkab untuk memastikan bahwa pembangunan tidak hanya dirasakan saat siang, tapi juga menjaga saat malam.

Dari Jalan Mulus ke Lamongan Menyala, benang merahnya satu: pembangunan yang berkelanjutan. Tidak berhenti di seremoni gunting pita, tapi memastikan lampunya tetap menyala, jalannya tetap mulus, dan airnya tetap mengalir ke sawah.

Karena pada akhirnya, indikator keberhasilan pembangunan bukan terletak pada megahnya laporan di atas meja bupati, melainkan pada terang atau tidaknya jalan di depan rumah warga.(*)

copyright: wartamerdeka.net 2026

Iklan Iklan kasulasa
R

Ditulis oleh

Redaktur

Komentar (0)

Tinggalkan komentar. Komentar langsung tampil setelah dikirim.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Terkait

Jangan ketinggalan berita

Aktifkan notifikasi untuk kabar terbaru WartaMerdeka langsung di perangkatmu.