Surat Cinta Yang "Bengkak" Untuk RSUD Ki Ageng Brondong
Ini adalah kelanjutan dari tulisan berjudul "Punokawan Opname Radang Sendi Di Ki Ageng Brondong (1)" yang dibuat dalam versi tulisan Surat Terbuka untuk ditujukan dengan hormat kepada Bupati Lamongan, Kepala Dinas Kesehatan Kab. Lamongan, dan Direktur RSUD Ki Ageng Brondong, sebagai suara dari pesisir.
Oleh: W. Masykar
Brondong tidak pernah meminta istana. Kami di pesisir hanya meminta sebuah tempat untuk pulang, ketika tubuh kami lelah dan sakit oleh kerasnya hidup.
Dan kemarin, pemkab Lamongan sudah memberikannya. Sebuah bangunan yang berdiri gagah di ujung pesisir, bernama RSUD Ki Ageng Brondong. Lampunya menyala terang sampai ke parkiran, seperti mercusuar yang menjanjikan: bahwa kami tak perlu lagi jauh-jauh berobat ke kota.
Kami jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi cinta, kadang memang mengajarkan cara patah yang paling halus.
Berdiri gagah di pesisir Kecamatan Brondong. Lampu-lampunya menyala sampai ke parkiran. Perawat-perawatnya berlari kecil, gercep, dengan senyum yang tulus.
"Alhamdulillah, akhirnya Brondong punya rumah sakit beneran."
Tapi kemarin, saya menangis di pelatarannya. Seorang sahabat saya, anggota "Punokawan" kita, terbaring dengan lutut kaki bengkak dan kesulitan untuk jalan. Dia dibawa dengan penuh harap ke istana putih itu, dengan mobil SEHAT menuju RSUD Ki Ageng Brondong.
Di sana dia langsung ditangani dokter spesialis bedah. Dokter yang baik. Dokter yang sudah berusaha semaksimalnya. Dokter itu memeriksa dan mendiagnosa penyakitnya sampai akhirnya memberi obat penahan nyeri.
Tapi dokter itu berbisik pelan, dengan mata yang penuh maaf:
"Maaf, Pak. Untuk tulang yang bengkak ini, seharusnya ditangani oleh Spesialis Orthopedi. Alatnya ada, ruangannya ada, tapi dokternya belum ada di sini."
Maka sahabat saya itu harus pulang. Bukan karena sembuh. Tapi karena menyerah.
Dia harus pulang dengan kaki yang hanya sembuh sementara. Dia harus mencari rumah sakit lain. Karena RSUD Ki Ageng Brondong baru memiliki 4 penjaga: Spesialis Bedah, Kandungan, Anak, dan Penyakit Dalam. Empat malaikat yang kelelahan menjaga istana yang terlalu luas.
"Kami belum punya penjaga tulang. Spesialis Orthopedi," lagi-lagi suara itu terdengar dari tenaga medis yang memeriksa sahabat saya.
Padahal di Brondong, sering terjadi ada tulang yang bengkak, ada tulang yang patah. Para nelayan jatuh dari perahu, petani terperosok di tambak, anak-anak jatuh dari sepeda di jalan pesisir yang berlubang. Bagaimana mungkin sebuah rumah sakit di pesisir, di jalur yang keras, tidak memiliki dokter untuk tulang?
Rumah sakit ini seperti perahu besar yang sudah jadi. Lambungnya kuat, catnya mengkilap, mesinnya baru. Tapi tidak ada nakhoda yang bisa membawanya mengarungi samudra penyakit yang sesungguhnya.
Perawatnya sudah gercep. Gedungnya sudah megah. Tinggal satu yang belum: lengkapi ia dengan tabib-tabibnya, dengan tenaga spesialisnya.
Pak Bupati, Pak Kepala Dinas, dan Bu Direktur. Kami tidak butuh marmer yang lebih mahal, Pak. Kami tidak butuh taman yang lebih indah.
Kami hanya butuh satu dokter orthopedi yang mau tinggal di Ki Ageng Brondong. Yang mau memeluk kaki-kaki patah kami, yang ikhlas merawat kaki-kaki bengkak dari sahabat kami.
Jangan biarkan warga Brondong sembuh di perjalanan karena harus mencari rumah sakit lain. Biarkan mereka sembuh di rumahnya sendiri. Di RSUD Ki Ageng Brondong.
Karena rumah sakit yang megah tanpa dokter yang lengkap, hanyalah sebuah gedung yang pandai menyalakan lampu, tapi belum pandai menyembuhkan manusia.(*)
Copyright: wartamerdeka.net 2026
Ditulis oleh
Redaktur
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!