Keajaiban Zikir Bagi Otak, Dr Aisyah Dahlan Ungkap Penurunan 80 Persen Hormon Stres Lewat Gelombang Alfa
Oleh : Dra. Nanis Sudarmisih
(Content Creator, Bidang Media KB PII Wati Jatim)
Praktisi neurologi dan konselor keluarga, dr. Aisyah Dahlan, CMHt., CM.NLP, memaparkan analisis ilmiah mengenai keterkaitan langsung antara aktivitas zikir dan kinerja otak manusia dalam seminar kesehatan holistik yang digelar di Jakarta.
Dalam pemaparannya, dr. Aisyah menjelaskan bahwa pengulangan kalimat thoyyibah secara fokus mampu menurunkan tingkat hormon kortisol (hormon stres) hingga 80 persen sekaligus mengaktifkan gelombang otak alfa yang memicu ketenangan jiwa.
Ketika seseorang melafazkan zikir untuk mengingat Ilahi Robbi, sinyal listrik di otak mengalami perubahan signifikan.
Bagian otak bernama prefrontal cortex pusat kendali emosi, logika, dan pengambilan keputusan menjadi lebih aktif, sementara yang merespons rasa takut dan kecemasan mengalami penurunan hiperaktivitas.
"Otak manusia memiliki miliaran neuron yang berkomunikasi melalui impuls listrik.
Saat berzikir dengan khusyuk, frekuensi gelombang otak berpindah dari gelombang Beta (kondisi tegang/waspada) ke gelombang Alfa (8–12 Hz) bahkan Theta (4–8 Hz).
Pada fase inilah tubuh memproduksi hormon kebahagiaan seperti endorphin dan serotonin secara optimal," ujar dr. Aisyah Dahlan.
Penjelasan ilmiah ini sejalan dengan petunjuk dalam Al-Qur'an dan Hadits Rasulullah yang menegaskan keutamaan mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra'd: 28)
Ketenangan hati yang disebutkan dalam ayat tersebut kini terbukti secara medis melalui pemindahan otak (EEG dan fMRI).
EEG (Electroencephalography) dan fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging) adalah dua metode pemetaan dan pengukuran aktivitas otak yang saling melengkapi. EEG mengukur sinyal listrik dari neuron secara langsung dengan kecepatan tinggi (resolusi temporal tinggi), sedangkan fMRI melacak perubahan aliran darah oksigen untuk melihat bagian otak yang aktif secara rinci (resolusi spasial tinggi).
Selain itu, Rasulullah juga menggambarkan perbedaan signifikan antara orang yang berzikir dan yang tidak melalui riwayat Abu Musa Al-Asy'ari RA:
Perumpamaan orang yang mengingat Rabb-nya dan orang yang tidak mengingat Rabb-nya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati. (HR. Bukhari no. 6407)
Dari kacamata medis, perumpamaan "hidup dan mati" tersebut berkorelasi dengan tingkat plastisitas otak (neuroplastisitas). Rutinitas zikir yang dilakukan secara konsisten terbukti membantu menjaga sel-sel saraf tetap aktif, mencegah atrofi otak dini, serta meningkatkan ketahanan mental terhadap tekanan hidup modern.
Dampak positif dari integrasi zikir dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya dirasakan secara psikologis, tetapi juga secara fisiologis.
Penurunan tekanan darah, stabilisasi detak jantung, serta peningkatan sistem kekebalan tubuh menjadi manfaat nyata yang didapatkan oleh individu yang rutin mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Praktik ibadah yang dilakukan secara khusyuk bukan sekadar kewajiban spiritual, melainkan sebuah bentuk perawatan neuro-biologis yang dianugerahkan Maha Pencipta.
Mengingat Ilahi Robbi melalui zikir terbukti menjadi metode alami paling efektif dalam menjaga keseimbangan otak, menenangkan pikiran, dan meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.
Sumber Literatur
- Dahlan, Aisyah. Neurologi dan Hubungan Spiritual dalam Kesehatan Jiwa.
- Seminar Nasional Kesehatan Holistik.
- Newberg, A., & Waldman, M. R. (2009). How God Changes Your Brain: Breakthrough Findings from a Leading Neuroscientist. Ballantine Books.
-;Kitab Shahih Bukhari, Bab Ad-Da'awat (Doa-doa), Hadits No. 6407.
- Al-Qur'an Al-Karim, Surah Ar-Ra'd Ayat 28.
copyright@wartamerdeka.net 2026
Ditulis oleh
Redaktur
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!