WIB

Untuk pengalaman membaca yang lebih nyaman, alihkan ke mode gelap.

Iklan
Cerpen

Senja Jingga di Ujung Pesisir

R

Redaktur

Minggu, 25 Oktober 2026 · 21:06 WIB · 7 mnt baca

Cerpen : WeEm

Di pesisir, senja tidak pernah terburu-buru. Ia datang pelan-pelan, seperti seorang ibu yang memanggil anaknya pulang dari bermain. Ia tumpahkan warna jingganya ke atas perahu-perahu yang bersandar lesu, ke atas jaring-jaring yang masih basah oleh keringat laut, ke atas wajah-wajah lelaki yang kulitnya telah disamak oleh garam dan waktu.

Iklan BDL

Di ujung pesisir, di mana air bertemu daratan dan doa bertemu nasib, senja itu bukan sekadar pergantian hari. Ia adalah jeda. Jeda bagi mereka yang lelah melaut, untuk kembali menjadi manusia.

Namanya Pak Kas. Usianya mungkin 60 atau bisa jaid, mungkin juga mendekati 70 an. Yg oi di pesisir, umur tidak dihitung dari KTP, tapi dari berapa kali musim baratan berhasil dilewati.

Hari itu, Pak Kas duduk di atas balok kayu bekas perahunya. Perahu yang dulu bernama "Sumber Rejeki", kini catnya sudah mengelupas. Di sebelahnya, cucunya yangasih kecil, ikut membantu sang kakek memperbaiki jaring yang robek.

"Le," bisik Pak Kas pada angin, "Kakekmu ini dulu melawan ombak setinggi rumah. Sekarang, melawan pegal di dengkul saja kalah."

Laut di depannya tenang. Terlalu tenang. Para nelayan muda sudah tidak lagi melaut dengan kompas bintang seperti dirinya dulu. Mereka melaut dengan GPS, dengan sonar. Ikan pun semakin pintar bersembunyi.

Istrinya dulu pernah berkata, "Laut itu bukan hanya memberi ikan, Kas. Laut itu memberi cerita."

Dan sore itu, cerita itu datang dalam bentuk dua hal: senja yang indah, dan seorang wartawan dari Wartamerdeka.net yang datang, duduk di sampingnya, tanpa banyak tanya, hanya ikut menikmati angin.

c7e17bd7-3515-4a08-bb0e-2cfd63eaaf0a.webp"Pak Kas, masih melaut?" tanya wartawan itu.

Pak Kas tersenyum, giginya tinggal separuh. "Tidak. Sekarang saya hanya menjaga senja. Menjaga agar anak cucu saya nanti tahu, bahwa di sinilah hidup kami bermula. Di ujung pesisir ini."

Anak kecil di pangkuannya menggeliat. Terbangun. Matanya mencari-cari matahari yang hampir tenggelam.

"Kek, mataharinya mau mandi ya?" tanya si kecil.

Pak Kas tertawa. Tawa yang pecah renyah bersama debur ombak.

"Iya, Le. Matahari mau mandi. Besok dia bangun lagi, bawa rejeki baru buat kita."

Dan senja pun akhirnya tenggelam. Tidak dengan dramatis. Tidak dengan dentuman. Ia tenggelam dengan ikhlas, seperti lelaki pesisir yang tahu kapan harus pulang.

Perahu-perahu mulai dinyalakan lampunya. Satu, dua, tiga. Seperti kunang-kunang yang berjanji akan kembali sebelum subuh.

Di ujung pesisir Brondong, malam mulai mengambil alih. Tapi kehangatannya masih tertinggal. Tertinggal di pangkuan Pak Kas, di tawa cucunya, dan di catatan kecil seorang wartawan yang pulang dengan hati penuh.

Karena di pesisir senja tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya pulang sebentar, untuk menitipkan harapan pada pagi esok.

Pagi di Brondong tidak datang dengan ayam berkokok. Pagi datang dengan suara mesin diesel. Dengan bau solar yang bercampur bau kopi hitam. Dengan teriakan-teriakan pendek dari para lelaki yang mendorong perahu ke laut, sebelum matahari sempat benar-benar melek.

Jika senja kemarin adalah tentang pulang, maka pagi ini adalah tentang berani pergi lagi.

Dan Pak Kas masih di sana. Di balok kayu yang sama. Hanya saja, kali ini tidak sendiri.

Subuh baru saja pecah jam 4 pagi. Pak Kas sudah terjaga. Di sebelahnya, cucunya yang berkacamata pink itu masih meringkuk di dalam sarung, tidur di beranda rumah panggungnya yang menghadap langsung ke laut. Kemarin, si kecil bertanya: "Mataharinya mau mandi ya, Kek?"

Pagi ini, Pak Kas ingin menjawabnya dengan sebuah pembuktian.

"Dik, bangun, Le," bisiknya lembut sambil mengguncang bahu kecil itu.

Si kecil mengucek mata. "Mau kemana, Kek? Masih gelap."

"Mau lihat matahari bangun. Kemarin kamu lihat dia mandi, sekarang kita lihat dia bangun."

Digandengnya tangan kecil itu. Mereka berjalan berdua, menyusuri pasir yang masih dingin, menuju bibir pantai.

Di sana, puluhan perahu sudah bersiap. Lampu-lampu petromaknya masih menyala, seperti bintang-bintang yang jatuh ke laut. Anak-anak muda, anak-anak Pak Kas dulu, berteriak: "Monggo, Mbah Kas! Dongoane, Mbah!"

Pak Kas mengangkat tangan. Dulu, sebelum berangkat, para nelayan selalu minta doa pada yang tertua. Bukan karena doa orang tua lebih mustajab. Tapi karena orang tua tahu, laut itu tidak pernah bisa dilawan, hanya bisa diajak berdamai.

Perahu-perahu itu melaju, membelah kabut pagi. Suara mesinnya semakin jauh, semakin jauh, hingga hanya tinggal desir ombak.

Tinggallah Pak Kas dan cucunya.

"Le, lihat," kata Pak Kas sambil menunjuk ke timur.

Langit perlahan berubah. Dari hitam arang, menjadi biru tua, menjadi ungu, menjadi jingga yang kemarin sore mereka lihat tenggelam.

Dan perlahan-lahan, bulatan merah itu muncul dari balik laut. Malu-malu. Basah. Seperti bayi yang baru lahir.

Mata si kecil membelalak di balik kacamata pink-nya.

"Wahhh... mataharinya bangun, Kek! Dia sudah mandi! Sudah wangi!"

Pak Kas tertawa lagi. Tawa yang sama seperti kemarin senja, tapi pagi ini lebih lega.

"Iya, Le. Dia janji kemarin mau kembali, kan? Matahari itu tidak pernah ingkar janji. Manusia saja yang sering lupa janji pada laut."

Angin pagi berhembus, membawa bau amis yang segar. Pak Kas menarik napas dalam-dalam. Ia tahu, usianya tidak akan cukup untuk mengajari cucunya cara membaca bintang, cara mengikat jaring, atau cara melawan baratan.

Tapi satu hal bisa ia wariskan pagi ini: cara menunggu. Menunggu senja dengan ikhlas, dan menunggu pagi dengan berani.

Pagi itu, matahari akhirnya naik sepenuhnya.

Perahu-perahu sudah menjadi titik-titik kecil di cakrawala. Anak kecil itu tertawa mengejar ombak kecil yang menyentuh kakinya.

Dan Pak Kas duduk kembali di balok kayunya. Di ujung pesisir. Ia tidak melaut lagi. Tugasnya kini berbeda.

Jika dulu ia pencari ikan, kini ia adalah penjaga janji. Penjaga janji antara senja dan pagi, antara laut dan daratan, antara kakek dan cucunya.

Bahwa selama matahari masih mau bangun dari mandinya, maka selama itu pula harapan di Brondong tidak akan pernah tenggelam.

Ada yang tidak pernah diajarkan oleh laut: cara merajut kembali yang sudah robek.

Laut hanya mengajarkan cara merobek. Merobek perahu, merobek jaring, merobek harapan. Tapi untuk merajutnya kembali, laut serahkan pada manusia.

Dan pagi itu, di beranda rumah Pak Kas, yang robek bukan hanya jaringnya.

Sudah tiga hari Pak Kas tidak ke balok kayu kesayangannya di ujung pesisir.

Di beranda rumahnya, tergeletak jaring tua. Jaring warisan dari bapaknya. Jaring yang sudah ikut Pak Kas melaut sejak tahun 1980 an, saat harga bensin masih 200 rupiah. Jaring itu berlubang besar di tengahnya, dimakan tikus dan dimakan waktu.

"Mau dibuang saja, Kek?" tanya menantunya.

Pak Kas menggeleng pelan. Matanya menerawang. "Jaring ini yang belikan susu ibumu dulu. Jaring ini yang sekolahkan pamanmu. Masa mau dibuang begitu saja."

Tapi tangannya sudah tidak kuat. Jari-jarinya kaku, rematik. Ia coba merajut, benang itu jatuh lagi. Ia coba mengikat, simpulnya lepas lagi. Pak Kas marah pada dirinya sendiri.

Di situlah cucunya yang berkacamata pink itu datang. Ia tidak bicara. Ia hanya duduk di samping kakeknya, melihat jaring robek itu lama-lama. Lalu, dengan tangan kecilnya, ia ambil benang.

"Kek, diajarin Bu Guru kemarin. Kayak gini ya?"

Tangan kecil itu, yang kemarin masih sibuk mengejar ombak, kini dengan sabar dan kikuk mencoba membuat simpul. Satu simpul, dua simpul. Jelek. Tidak rapi. Tapi tidak lepas.

Pak Kas terdiam. Selama ini ia berpikir, regenerasi nelayan itu harus di laut. Harus bisa bawa perahu, harus bisa baca bintang.

Padahal, regenerasi itu bisa dimulai dari beranda. Dari seorang cucu kecil yang mau belajar merajut jaring robek kakeknya.

"Le, salah. Sini kakek ajari," kata Pak Kas, suaranya bergetar.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tangan keriput Pak Kas dan tangan mungil cucunya bertemu dalam satu jaring yang sama.

Yang satu menarik dengan pengalaman, yang satu mengikat dengan harapan. Satu jam, dua jam. Matahari yang tadi pagi mereka lihat bangun, kini sudah di atas kepala. Panas.

Tapi lubang besar di tengah jaring itu perlahan mengecil. Perlahan tertutup. Bukan karena jaringnya menjadi baru. Tapi karena robeknya kini ditambal oleh dua generasi.

Menantunya yang melihat dari dapur, tiba-tiba berkaca-kaca. Ia foto momen itu diam-diam. Foto kakek dan cucu yang merajut jaring bersama. Nanti, foto itu akan ia kirim ke wartamerdeka.net.

Sore harinya, Pak Kas kembali ke balok kayu di ujung pesisir. Jaring itu tidak ia bawa melaut. Jaring itu ia gantung di dinding beranda, sebagai hiasan. Sebagai pengingat.

Di bawahnya, ia tulis dengan spidol hitam: "Jaring ini pernah robek, tapi tidak pernah dibuang."

Senja datang lagi, seperti kemarin. Jingga, pelan, dan tidak terburu-buru. Cucunya duduk lagi di pangkuannya. Masih dengan kacamata pink kebanggaannya.

"Kek, besok mataharinya mandi lagi ya?"

Pak Kas mencium kening cucunya. "Iya, Le. Dan besok kita rajut lagi yang lain yang robek."

Karena di ujung pesisir, Pak Kas akhirnya paham. Laut boleh merobek jaring. Tapi selama masih ada tangan kecil yang mau belajar mengikat, maka selama itu pula pesisir ini tidak akan pernah benar-benar miskin.(*) (Pesisir/23/10/2026)

Iklan Iklan kasulasa
R

Ditulis oleh

Redaktur

Komentar (0)

Tinggalkan komentar. Komentar langsung tampil setelah dikirim.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Terkait

Jangan ketinggalan berita

Aktifkan notifikasi untuk kabar terbaru WartaMerdeka langsung di perangkatmu.