WIB

Untuk pengalaman membaca yang lebih nyaman, alihkan ke mode gelap.

Iklan
Editorial

Hari Santri, Dari Sarung Ke Ruang Strategis

R

Redaktur

Kamis, 22 Oktober 2026 · 22:10 WIB · 2 mnt baca

Oleh: Tim Redaksi 

Setiap 22 Oktober kita sibuk dengan seremoni. Upacara Hari Santri. Pawai sarung, lomba kitab kuning. Lantas, setelah selesai gebyar seremoni itu?

Iklan BDL

Tahun ini, lewat SE Menag No.6/2026, tema Hari Santri Nasional 2026 ditetapkan: "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas". Ini bukan sekadar slogan melainkan lebih bermakna ajakan, ajakan untuk hijrah.

Selama ini kita memuja santri secara romantis. Dianggap penjaga tradisi, penjaga moral. Padahal sejarah 22 Oktober 1945 membuktikan sebaliknya. KH Hasyim Asy'ari mengeluarkan Resolusi Jihad bukan dari ruang nyaman. Fatwa "cinta tanah air adalah fardhu 'ain" itu adalah fatwa politik, fatwa ekonomi, fatwa perlawanan total terhadap kolonialisme. Santri saat itu bukan penjaga tradisi, tapi penggerak negara.

Itu sebabnya, apa jihad santri hari ini? Yang pasti, jihad santri hari ini, bukan lagi mengusir penjajah, sepertihalnya jihad santri pada masa kemerdekaan. Tapi, jihad hari ini adalah mengusir kebodohan, kemiskinan, dan rasa minder. Jihad santri hari ini, adalah ketika anak pesantren yang hafal kitab kuning juga mampu membuat laporan keuangan UMKM. Ketika santri yang mahir Fathul Mu'in juga mahir membuat desain kemasan produk di marketplace.

Itulah makna "Menguatkan Negeri" yang sesungguhnya. Bukan dengan khotbah, tapi dengan karya. Frasa kedua, "Menuju Indonesia Emas", lebih menampar. Tahun 2045, yang akan memimpin negeri ini bukanlah pejabat yang hari ini duduk di Senayan. Tapi santri yang hari ini masih duduk di bangku Ibtidaiyah di pelosok negeri ini. Jika mereka tidak disiapkan dari sekarang untuk menguasai teknologi, ekonomi, dan data, maka Indonesia Emas hanya akan menjadi Indonesia Cemas. Kita hanya jadi penonton di negeri sendiri.

Pesantren adalah pabrik karakter paling jujur di negeri ini. Di sana diajarkan antre, hidup sederhana, hormat guru, dan mandiri. Modal yang tidak diajarkan di universitas elit mana pun. Pertama, hentikan stigma bahwa pesantren adalah sekolah kelas dua. Kedua, beri ruang strategis. Jangan undang santri hanya untuk doa pembuka.

Dan untuk santri: Jadilah sarung yang mengisi dasi, bukan sarung yang anti dasi. Artinya, rekonsiliasi antara tradisi dan modernitas. Menguasai kitab kuning, tapi juga menguasai coding.

Jika 1945 santri merebut kemerdekaan dengan Resolusi Jihad, maka 2026 santri harus mempertahankan kemerdekaan dengan Resolusi Karya.

Itu setidaknya satu argumen mendasar, sehingga tema yang dipilih juga tidak main main. Tema yang sangat berkelas dan tidak basa-basi: "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas". Tema ini bukan sekadar slogan. Ia adalah sebuah perintah untuk hijrah. #Selamat Hari Santri 2026##

Iklan Iklan kasulasa
R

Ditulis oleh

Redaktur

Komentar (0)

Tinggalkan komentar. Komentar langsung tampil setelah dikirim.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Terkait

Jangan ketinggalan berita

Aktifkan notifikasi untuk kabar terbaru WartaMerdeka langsung di perangkatmu.