Sang Maestro Budaya lndonesia itu, telah Menghadap Ilahi dengan Damai
Oleh Sudono Syueb,
Alumni Fisipol UGM
Wafatnya sang maestro budaya Indonesia, Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, pada 26 September 2026 di usia 73 tahun merupakan sebuah kehilangan besar bagi panggung seni, musik, dan kebudayaan Nusantara.
Di tengah berita duka akibat bencana alam yang menyelimuti tanah air, kepergian putra bungsu Proklamator RI Bung Karno ini mengundang refeleksi mendalam mengenai dedikasi total seorang anak bangsa yang memilih jalan kebudayaan sebagai bentuk perjuangannya.
Berikut adalah catatan pinggir dari orang pinggiran pesisir Jawa Timur mengenai warisan serta signifikansi hidup seorang Guruh Soekarnoputra:
1. Memilih Jalan Kebudayaan di Atas Panggung Politik
Meskipun terlahir di episentrum politik Indonesia sebagai anak dari Presiden pertama dan adik dari Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri, esensi jati diri Guruh bukanlah kekuasaan, melainkan kesenian. Walau sempat menjabat sebagai politisi, ruang aktualisasi terbesar yang membuatnya abadi di hati rakyat adalah komitmennya dalam merawat ruh kebudayaan Indonesia. Pilihan ini menunjukkan sebuah integritas: bahwa mencintai negara tidak selalu harus lewat jalur struktural pemerintahan, melainkan bisa melalui penanaman rasa bangga terhadap identitas bangsa lewat seni.
2. Revolusioner Musik Melalui Guruh Gipsy
Dari perspektif musikalitas, Guruh adalah seorang visioner. Proyek legendarisnya lewat album Guruh Gipsy (1976) merupakan sebuah mahakarya eksperimental yang berhasil mengawinkan kompleksitas rock progresif Barat dengan keagungan gamelan tradisional Bali. Keberanian ini mendobrak batas zamannya dan membuktikan bahwa musik tradisional Indonesia memiliki kelas yang sejajar di panggung dunia jika diolah dengan kejeniusan tinggi. Ia berhasil memosisikan etnisitas bukan sebagai sesuatu yang kuno, melainkan sebagai elemen yang modern dan bergengsi.
3. Arsitek Seni Pertunjukan Kolosal (Swara Maharddhika)
Melalui wadah Swara Maharddhika yang didirikannya pada era 1970-an, Guruh merevolusi seni pertunjukan dan koreografi di Indonesia. Di bawah arahannya, tarian tradisional Jawa, Sunda, dan Bali dilebur ke dalam estetika kontemporer yang megah, dinamis, dan kolosal. Lebih dari sekadar hiburan, Guruh menggunakan panggung pertunjukan sebagai media untuk menularkan semangat nasionalisme dan mengajarkan generasi muda saat itu untuk mencintai akar budayanya sendiri.
4. Maestro Lagu Pop Romantis Lintas Generasi
Bagi publik luas, warisan Guruh akan selalu hidup melalui melodi-melodi ciptaannya yang abadi. Lagu-lagu seperti "Galih dan Ratna", "Gita Cinta", "Lenggang Puspita", hingga "Kembalikan Baliku" bukan sekadar hits sesaat, melainkan telah menjadi bagian dari soundtrack kehidupan multi-generasi masyarakat Indonesia. Karya-karyanya memiliki ciri khas lirik puitis yang rapi, aransemen yang kaya, serta melodi yang manis namun berkarakter kuat.
Kepergian mas Guruh Soekarnoputra di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi menyisakan ruang kosong yang sulit digantikan dalam industri kreatif Indonesia.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir atas jasanya sebagai pejuang kebudayaan, PDI Perjuangan pun mengibarkan bendera setengah tiang selama 7 hari.
Mas Guruh telah menuntaskan tugasnya dengan indah. Ia tidak hanya mewarisi darah biologis sang Proklamator, tetapi berhasil mengejawantahkan konsep "Kepribadian dalam Kebudayaan" (Tri Sakti Bung Karno) ke dalam wujud karya nyata yang konkret.
Tubuhnya mungkin akan dimakamkan di TPU Karet Bivak di samping ibundanya, Fatmawati, namun nada, tari, dan semangat kebangsaan yang ia tiupkan ke dalam seni Indonesia akan terus mengalir. Selamat jalan, Sang Maestro Budaya lndonesia. Semoga bahagia di sisi Allah, Tuhan Yang Esa.
copyright: wartamerdeka.net - 2026
Ditulis oleh
Redaktur
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!