WIB

Untuk pengalaman membaca yang lebih nyaman, alihkan ke mode gelap.

Iklan Iklan depan BDL
Daerah

PII Surabaya Gelar Dialog Kebangsaan

Perkuat Nalar Kritis, Karakter, dan Kepemimpinan Generasi Muda

R

Redaktur

Senin, 19 Oktober 2026 · 17:45 WIB · 7 mnt baca

Surabaya, wartamerdeka.net, -Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Kota Surabaya menyelenggarakan Dialog Kebangsaan Pelajar Surabaya 2026 sebagai ruang partisipasi, pertukaran gagasan, dan penyampaian aspirasi pelajar dalam merespons berbagai persoalan pendidikan, tantangan disrupsi digital, serta masa depan demokrasi dan kebangsaan. Kegiatan yang berlangsung Minggu (18/10/2026), di Convention Hall Gedung Siola, Surabaya itu, diikuti lebih dari 120 pelajar perwakilan berbagai sekolah di Kota Surabaya.

Mengusung tema "Dialektika Kesadaran Kritis Pelajar di Era Disrupsi Digital Menuju Praksis Kebangsaan Emansipatoris”, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian agenda Pra-Konferensi Daerah (Pra-KONDA) XXIII PII Kota Surabaya Tahun 2026. Forum tersebut dirancang untuk menghadirkan ruang dialog yang memungkinkan pelajar menyampaikan keresahan, menguji gagasan, serta membangun pemahaman kritis terhadap persoalan yang berkembang di lingkungan sekolah, masyarakat, maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.

Iklan BDL

Dialog kebangsaan ini berangkat dari pandangan bahwa pelajar tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai penerima informasi dan kebijakan, tetapi juga perlu dipandang sebagai subjek yang memiliki kemampuan berpikir, menyampaikan pendapat, serta terlibat dalam upaya mencari solusi atas berbagai persoalan di sekitarnya. Dalam konteks tersebut, pendidikan menjadi fondasi penting untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, karakter, kepedulian sosial, dan tanggung jawab kebangsaan.

Ketua Umum PD PII Kota Surabaya periode 2024–2026 - Dede Muhtadin dalam sambutannya menegaskan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, kemajuan suatu bangsa tidak dapat dilepaskan dari kualitas pendidikan yang mampu melahirkan sumber daya manusia kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi perubahan zaman.

Ia menjelaskan bahwa Dialog Kebangsaan Pelajar Surabaya sengaja dipersiapkan sebagai wadah untuk menampung aspirasi dan keresahan pelajar, sekaligus mendiskusikan berbagai ketimpangan serta persoalan yang terjadi di lingkungan pendidikan dan masyarakat. Melalui forum tersebut, pelajar diharapkan memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan secara terbuka, membangun argumentasi, dan merumuskan gagasan yang berorientasi pada perbaikan.

ce2c8361-2b00-4964-ba80-34d42654eb4c.webpFoto : versi AI

Di tengah derasnya arus informasi digital, ia juga menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis agar pelajar tidak mudah menerima informasi tanpa verifikasi maupun mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang jelas. Kemampuan tersebut perlu berjalan beriringan dengan nasionalisme, kepedulian terhadap persoalan bangsa, serta kesadaran bahwa generasi muda hari ini merupakan bagian dari calon pemimpin Indonesia pada masa mendatang.

Apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan disampaikan Wakil Ketua Umum Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) Kota Surabaya, Djuwari Syaifudin. Ia menyampaikan kebanggaannya atas inisiatif PD PII Kota Surabaya dalam menghadirkan dialog kebangsaan di tengah kalangan pelajar. Menurutnya, PII perlu terus memperluas jangkauan gerakan dan merangkul pelajar dari berbagai latar belakang.

Ia juga menyoroti pentingnya peran organisasi pelajar dalam menghadapi tantangan pembentukan karakter, moral, dan identitas generasi muda. Baginya, kegiatan semacam ini perlu diselenggarakan secara lebih masif agar organisasi tidak hanya menjadi ruang kaderisasi internal, tetapi juga hadir sebagai bagian dari lingkungan sosial yang mampu menampung aspirasi dan memberikan kontribusi nyata bagi pelajar.

Djuwari turut menyampaikan kesiapan KB PII Kota Surabaya untuk mendukung penguatan gerakan PII Surabaya agar semakin aktif, kolaboratif, dan memiliki dampak yang dapat dirasakan oleh generasi muda. Dukungan tersebut diharapkan memperkuat keberlanjutan program-program yang berorientasi pada pengembangan kapasitas, kepemimpinan, dan karakter pelajar.

Sementara itu, Anggota MPR/DPD RI Provinsi Jawa Timur sekaligus Ketua Yayasan UNITA, Dr. Hj. Lia Istifhama, M.E.I., hadir sebagai pembicara utama (*keynote speaker*). Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan dialog kebangsaan dan menekankan pentingnya mempersiapkan generasi muda agar memiliki kapasitas intelektual, kemampuan kepemimpinan, serta pemahaman yang memadai terhadap kehidupan demokrasi.

Dalam materi presentasinya, Lia menguraikan kesadaran kritis sebagai kemampuan untuk memahami realitas sosial, menilai persoalan secara mendalam, dan tidak menerima keadaan secara pasif. Perspektif ini sejalan dengan pemikiran Paulo Freire mengenai *critical consciousness* atau kesadaran kritis, yang menempatkan pemahaman terhadap struktur sosial dan ketidakadilan sebagai salah satu dasar bagi tindakan pembebasan dan perubahan.

Kesadaran kritis juga berkaitan dengan kemampuan menginterpretasi informasi, melakukan analisis, mengevaluasi bukti, menarik kesimpulan, menjelaskan argumentasi, serta mengoreksi penilaian diri. Dalam konteks kehidupan pelajar, kemampuan tersebut menjadi semakin penting ketika ruang digital dipenuhi informasi yang beragam, mulai dari fakta dan opini hingga propaganda dan disinformasi.

Selain itu, Lia menekankan pentingnya kesadaran berpolitik di kalangan generasi muda. Demokrasi tidak cukup dipahami sebatas mekanisme pemilihan umum, melainkan juga sebagai ruang partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Pelajar perlu memahami bahwa kebijakan publik memiliki konsekuensi terhadap kehidupan masyarakat dan masa depan generasi berikutnya.

Materi tersebut turut menyoroti pentingnya meritokrasi, yaitu prinsip penempatan seseorang berdasarkan kemampuan, kompetensi, prestasi, dan integritas, bukan semata-mata kekayaan, status sosial, hubungan kekerabatan, atau kedekatan politik. Dalam perspektif kepemimpinan, penguatan kapasitas generasi muda perlu disertai keberanian, daya tanggap, kreativitas, kedisiplinan, dan konsistensi nilai.

Lia juga menggarisbawahi bahwa politik semestinya berorientasi pada kepentingan rakyat. Kepemimpinan tidak berhenti pada jabatan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan dan tanggung jawab. Karena itu, generasi muda perlu dibekali kemampuan memahami strategi, komunikasi publik, serta prinsip integritas agar dapat berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi secara rasional dan bertanggung jawab.

Sesi dialog menghadirkan dua narasumber dari mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA), yakni Khairunnisa Nur Fadhilah, Mahasiswa Berprestasi II UNESA, serta Ilman Zidni Mubarok, Ketua BEM Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNESA. Keduanya dihadirkan untuk mempertemukan perspektif pengembangan kapasitas akademik dengan pengalaman kepemimpinan dan gerakan organisasi mahasiswa.

Pembahasan bersama Khairunnisa berfokus pada tantangan nalar kritis di tengah banjir informasi, krisis karakter dalam transformasi digital, serta upaya mengubah prestasi dan pengetahuan menjadi kontribusi sosial. Dalam kerangka tersebut, kecakapan digital perlu diimbangi kemampuan memverifikasi informasi, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, menghargai perbedaan, serta menjaga etika dan martabat manusia di ruang digital.

Pembahasan juga mengarah pada pentingnya menjadikan prestasi individual sebagai modal untuk memberikan manfaat yang lebih luas. Kemampuan akademik dan pencapaian personal akan memiliki nilai sosial yang lebih besar ketika diterjemahkan menjadi gagasan, inisiatif, dan kegiatan yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, perspektif Ilman Zidni Mubarok menempatkan organisasi mahasiswa sebagai ruang pengembangan tradisi intelektual, pembentukan kesadaran sosial, dan latihan kepemimpinan demokratis. Organisasi tidak cukup hanya menjadi tempat konsolidasi, tetapi juga perlu menjadi ruang untuk menguji gagasan, membangun argumentasi berdasarkan data, serta merumuskan respons terhadap persoalan masyarakat.

Diskusi turut menyoroti pentingnya menjaga kebebasan berpendapat tanpa mengabaikan etika, empati, dan tanggung jawab kemanusiaan. Perbedaan pandangan seharusnya menjadi kesempatan untuk memperkaya perspektif, bukan alasan untuk membangun permusuhan atau polarisasi. Kepemimpinan muda dituntut mampu mengelola perbedaan secara demokratis sekaligus mempertahankan prinsip yang diperjuangkan.

Aspek lainnya adalah pentingnya mengubah gerakan yang bersifat simbolik menjadi praksis kebangsaan yang berdampak. Kritik dan gagasan tidak seharusnya berhenti pada slogan atau aktivitas di media sosial, tetapi perlu diterjemahkan menjadi kerja kolektif yang terukur, partisipatif, inklusif, dan berkelanjutan. Kolaborasi antara organisasi pelajar, mahasiswa, sekolah, dan masyarakat menjadi salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan untuk menjawab tantangan tersebut.

Sepanjang kegiatan, dialog berlangsung secara interaktif dengan partisipasi aktif para peserta. Pelajar tidak hanya mengikuti pemaparan narasumber, tetapi juga terlibat dalam pertukaran gagasan melalui pertanyaan dan penyampaian keresahan mengenai kehidupan pendidikan serta tantangan generasi muda. Partisipasi tersebut memperlihatkan pentingnya forum yang memberikan ruang kepada pelajar untuk mengembangkan nalar kritis sekaligus membangun keberanian menyampaikan pandangan secara bertanggung jawab.

Melalui Dialog Kebangsaan Pelajar Surabaya 2026, PD PII Kota Surabaya berupaya memperkuat kesadaran bahwa kemajuan bangsa membutuhkan generasi muda yang mampu berpikir kritis, memiliki karakter kemanusiaan, memahami kehidupan demokrasi, dan menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan nyata. Pendidikan dan organisasi pelajar diharapkan menjadi ruang strategis untuk mengembangkan kapasitas tersebut.

Agenda ini sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar PII Surabaya menjelang Konferensi Daerah XXIII Tahun 2026 untuk memperkuat peran pelajar dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Harapannya, pelajar tidak hanya dipersiapkan untuk menghadapi masa depan, tetapi juga diberikan ruang untuk mengambil bagian dalam membentuk masa depan Indonesia sejak hari ini.(wm/muhtadin)

Iklan
R

Ditulis oleh

Redaktur

Komentar (0)

Tinggalkan komentar. Komentar langsung tampil setelah dikirim.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Terkait

Jangan ketinggalan berita

Aktifkan notifikasi untuk kabar terbaru WartaMerdeka langsung di perangkatmu.