Ketika Senja Gelap di "Gun Coffee"
Oleh : W. Masykar
Sore matahari mulai beringsut pamit, saya sengaja melambatkan laju motor ketika tepat di - hampir Pertigaan Rembes, kecamatan Palang - Tuban. Sore itu, senja gelap. Dari kejauhan, ada sorot cahaya kuning temaram memanggil. Bukan neon terang yang menyilaukan, tapi cahaya hangat laksana bisikan: "mampirlah sebentar". Dan saya mampir, ternyata disitulah "Gun Coffee".
Selesai memarkir motor, dan masuk pintu, dunia luar yang bising seketika tertinggal. Di dalam, lampu-lampu kuning gantung menyala redup, temaram, jatuh pelan di atas meja kayu. Cahayanya tidak berusaha menerangi seluruh ruangan, justru membiarkan sudut-sudut tetap teduh. Hangat. Eksklusif. Seperti ruang tamu sendiri. Dan dihiasi banyak foto foto ekslusif para pengunjung yang pernah datang di "Gun Coffee", satu diantaranya personil dari T'Koes. T'Koes adalah band tribut asal Indonesia yang terkenal karena membawakan ulang lagu-lagu dari grup musik legendaris Koes Plus.
(Dalam dunia musik, tribute artinya bentuk penghargaan atau dedikasi yang diberikan kepada musisi, band, atau penyanyi legendaris yang sangat dikagumi atau telah berjasa besar di dunia musik).
Gun Coffee, tempatnya memang tidak luas. Tapi entah mengapa, dada terasa lapang. Tidak ada sekat yang tinggi, tidak ada jarak yang canggung. Meja satu dan meja lain bisa saling melempar senyum. Barista menyapa dengan nama, bukan dengan nomor pesanan. Menyapa dengan ramah setiap Pengunjung yang datang, apalagi yang baru datang seperti saya yang baru pertama kali. Di sini, semua orang seperti keluarga yang baru saja pulang.
Saya duduk di pojok dekat jendela pintu masuk. Lampu kuning di atas kepala saya berayun pelan tertiup angin. Di luar, truk-truk Pantura melintas cepat. Sementara di dalam, waktu mulai berhenti. Hanya ada suara sendok beradu dengan piring dan obrolan pelan yang penuh keakraban.
Tidak lama, Lalu datanglah dia. "Nasi Goreng Spesial" Gun Coffee. Asapnya masih mengepul, aromanya menyeruak di bawah cahaya kuning itu. Warnanya keemasan gelap, selaras dengan temaram lampu. Tidak seperti umumnya Nasgor yang berwarna merah.
Suapan pertama, hangatnya merambat bukan hanya di lidah, tapi sampai ke dada. Gurih, sedikit smokey, pedas yang jujur. Ditemani sebotol air mineral dan secangkir kopi.
Malam semakin larut. Lampu kuning semakin temaram. Tapi tidak ada yang beranjak. Semua kerasan. Dan tidak lama kemudian, ada mobil berhenti tepat di depan Gun Coffee - rupanya pengunjung baru. Dan benar mereka adalah pengunjung baru malam itu, tapi pelanggan lama asal Surabaya. Gun Coffee tampaknya bukan sekedar tempat ngopi di pertigaan jalan. Ia adalah rumah kecil dengan lampu kuning hangat, tempat siapa saja boleh merasa dimiliki dan memiliki. Tempat dimana luas tidak diukur dari meter persegi, tapi dari seberapa lama kita ingin tinggal. Dan malam itu, saya tidak ingin pulang cepat. Tempatnya eksklusifnya banget. Desain yang intim, penataan lampu yang hangat, dan suasana yang tenang bikin siapa pun yang datang langsung merasa "Kerasan". Cocok buat ngobrol santai, melepas pernah usai kerja, atau sekedar healing habis perjalanan Pantura.
"Yang membuat Gun Coffee spesial sebenarnya, menu Nasgornya," ungkap Dedi salah seorang pengunjung yang malam itu duduk semeja dengan saya.
Bukan nasgor biasa. Racikan bumbu spesial, porsi pas, rasa nendang, dengan topping lengkap yang bikin ketagihan. Satu suap, langsung paham kenapa jadi best seller di sini. Teman setia sambil ngopi. Penyajiannya dengan selembar daun pisang. Nikmat!.
Lokasinya yang berdiri tepat di titik temu arus, di Pertigaan Rembes, Palang - Tuban, Gun Coffee tidak berteriak memanggil. Ia hanya menyala pelan dengan cahaya hangatnya, seperti mercusuar kecil di tengah riuhnya Jalur Pantura. Dari luar terlihat sederhana. Begitu kaki melangkah masuk, waktu seperti berjalan lebih pelan.
Ruangnya memang tidak seberapa luas. Dindingnya tidak menjulang tinggi. Namun justru disitulah letak keajaibannya. Di Gun Coffee, jarak menjadi dekat, obrolan menjadi jujur, dan tawa menjadi lebih lepas. Tidak ada kebisingan yang berlebihan. Hanya alunan musik pelan, aroma kopi yang baru diseduh, dan kursi-kursi yang seolah memeluk siapa saja yang duduk. Eksklusif bukan karena mahal, tapi karena "membuat siapa pun betah dan merasa memiliki." Kerasan!. Itu kata yang paling sering diucapkan pengunjung saat harus pulang. Lalu, tentang rasa yang membuat rindu kembali. Jika kopi adalah jantungnya, maka "Nasi Goreng Spesial" adalah jiwanya.
Ini bukan sekedar nasi goreng. Ini adalah cerita di atas piring bambu. Nasi yang digoreng dengan api tidak terlalu besar, bumbu rahasia yang meresap hingga ke butir terakhir, aroma smokey yang menggugah, disempurnakan dengan telur, ayam, dan sentuhan khas Gun Coffee yang tidak akan anda temukan di tempat lain. Pedasnya pas, gurihnya dalam, porsinya mengenyangkan hati. Disantap selagi hangat, ditemani kopi hitam atau es kopi susu andalan, rasanya seperti pulang ke rumah.
Banyak yang awalnya hanya mampir sekedar istirahat dalam perjalanan Tuban - Lamongan atau bahkan Tuban-Surabaya. Niatnya hanya ngopi sebentar. Akhirnya duduk berjam-jam. Karena di Gun Coffee, kita tidak hanya mengisi perut dan mengusir lelah. Kita menemukan jeda. Untuk para pejuang jalan, para perindu senja, para pencari teman ngobrol, dan siapa saja yang butuh tempat untuk sekedar diam dengan nyaman. Gun Coffee menunggu Anda di sana. Di pertigaan yang mempertemukan banyak arah, tapi selalu mempertemukan kita kembali.(*)
Ditulis oleh
Redaktur
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!