WIB

Untuk pengalaman membaca yang lebih nyaman, alihkan ke mode gelap.

Iklan
Opini

Eksistensi Kartel dan Mafia Haji Indonesia

R

Redaktur

Rabu, 30 September 2026 · 15:14 WIB · 2 mnt baca

Foto: versi AI

Oleh: Sudono Syueb

Biro Kominfo DDII Jatim

Iklan BDL

Eksistensi kartel dan mafia haji di Indonesia merupakan sebuah ironi spiritual yang sangat memprihatinkan. Ketika jutaan umat Islam rela menabung puluhan tahun, bahkan menjual tanah dan sawah demi memenuhi panggilan suci ke Tanah Suci, sekelompok oknum justru memanfaatkan ketulusan tersebut sebagai komoditas bisnis untuk mengeruk keuntungan pribadi secara ilegal.

Dugaan praktik yang bersifat hulu ke hilir—mulai dari manipulasi kuota, permainan akomodasi, hingga penipuan dam (denda) dan badal haji yang nilainya mencapai miliaran rupiah—menunjukkan betapa sistematisnya jaringan ini. Ironisnya, keterlibatan berbagai pihak, mulai dari oknum birokrasi, oknum kelompok bimbingan (KBIH), agen travel, hingga oknum tokoh agama, membuktikan bahwa kesucian ibadah haji telah dinodai oleh mentalitas rente. 

Berikut adalah beberapa poin pandangan kritis mengenai fenomena kartel haji ini:

1. Komodifikasi Agama dan Kejahatan yang Terorganisasi

Menggunakan istilah "kartel" atau "mafia" pada ekosistem perhajian mungkin terdengar ekstrem bagi sebagian orang. Namun, melihat pola operasinya yang sangat terstruktur, istilah ini menjadi sangat relevan. Kejahatan ini tidak lagi berupa kecurangan individu, melainkan sindikat yang memanfaatkan celah birokrasi dan tingginya antrean jemaah. Mengeksploitasi kerinduan umat terhadap Baitullah demi keuntungan ekonomi adalah bentuk komodifikasi agama tingkat akut. 

2. Paradoks Pelaku Berbaju Agama

Hal yang paling menyakitkan dari fenomena ini adalah kenyataan bahwa sebagian pelaku diduga merupakan orang-orang yang memahami hukum agama. Memanfaatkan status pemuka agama atau lembaga bimbingan suci untuk melakukan penipuan (seperti layanan badal atau dam fiktif) bukan sekadar pelanggaran hukum formal, melainkan sebuah pengkhianatan moral dan spiritual yang luar biasa. 

3. Komitmen Bersih-Bersih Pemerintah Harus Berdampak Nyata

Langkah berani dari jajaran Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) serta instruksi tegas dari Presiden Prabowo Subianto untuk memberantas mafia haji patut diapresiasi. Namun, komitmen ini harus dibarengi dengan tindakan nyata dan konsisten. Mengingat kuatnya resistensi dan potensi sabotase dari lingkaran kartel ini, pemerintah membutuhkan reformasi digital yang transparan (seperti hotline pengaduan dan transparansi kuota) agar ruang gerak para makelar tertutup rapat.(*)

Iklan
R

Ditulis oleh

Redaktur

Komentar (0)

Tinggalkan komentar. Komentar langsung tampil setelah dikirim.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Terkait

Kiyai Galon dan Kursi Purbaya
Refleksi

Kiyai Galon dan Kursi Purbaya

Oleh : W. Masykar Assalamualaikum...hadirin, Ndak usah berdiri. Duduk saja di lantai bambu ini. Lantai kita memang tidak berkeramik, tapi insyaallah tidak me...

Redaktur 5 mnt baca

Jangan ketinggalan berita

Aktifkan notifikasi untuk kabar terbaru WartaMerdeka langsung di perangkatmu.