WIB

Untuk pengalaman membaca yang lebih nyaman, alihkan ke mode gelap.

Iklan
Refleksi

Bendera, Dari Setengah Tiang ke Puncak Tiang

Menagih Kesaktian Pancasila di Era Polarisasi

R

Redaktur

Kamis, 01 Oktober 2026 · 09:09 WIB · 3 mnt baca

Oleh: Sudono Syueb - Biro Kominfo DDII Jatim 

Tepat pada pukul 06.00 waktu setempat, di seluruh pelosok negeri, sebuah ritus visual yang sunyi namun sarat makna terjadi. Bendera Merah Putih yang seharian kemarin terkulai di setengah tiang sebagai tanda berkabung atas tragedi kemanusiaan kelam G30S, kini ditarik mantap hingga satu tiang penuh di puncak tertinggi. Melalui Surat Pedoman Menteri Kebudayaan, transisi dari kedukaan mendalam pada 30 September menuju kebangkitan ideologis pada 1 Oktober bukan sekadar protokol musiman, melainkan pesan filosofis yang kuat tentang daya tahan kebangsaan kita.

Iklan BDL

Tanggal 1 Oktober yang diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila tahun ini mengusung tema besar: “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Namun, di tengah realitas sosial hari ini yang kerap diwarnai riak polarisasi digital, hoaks sistemik, dan benturan kepentingan, kita patut mengajukan pertanyaan reflektif: Di manakah letak "kesaktian" itu diuji sekarang?

Simbol Resiliensi dan Kemenangan Konsensus

Secara historis, berkibarnya Merah Putih secara penuh pada 1 Oktober menegaskan satu hal: Indonesia menolak tenggelam dalam trauma sejarah. Pengibaran penuh ini adalah proklamasi visual bahwa konsensus kebangsaan—yaitu Pancasila—berhasil memenangkan keadilan di atas segala bentuk upaya perpecahan dan radikalisme. Pancasila terbukti sebagai jangkar yang menyelamatkan kapal besar bernama Indonesia dari karam akibat badai ideologi transnasional maupun konflik internal.

Namun, romantisasi sejarah saja tidak lagi cukup. Mengerek kain merah dan putih ke ujung tiang menjadi ritual yang kering jika di akar rumput kita masih menyaksikan kerapuhan sosial. "Kesaktian" Pancasila tidak terletak pada kekuatan mistis, melainkan pada kesaktian nilai-nilainya untuk tetap relevan dan bekerja sebagai solusi atas problem kontemporer.

Menghalau "Kudeta Modern"

Jika pada tahun 1965 ancaman terhadap Pancasila berbentuk gerakan bersenjata yang kasat mata, hari ini ancaman itu bermutasi menjadi bentuk yang lebih sublim. Polarisasi berbasis algoritma media sosial, intoleransi yang dikemas dalam ruang gema (echo chamber), hingga sinisme terhadap institusi demokrasi adalah bentuk-bentuk "kudeta modern" terhadap pilar-pilar kebangsaan kita.

Ketika ujaran kebencian lebih cepat viral daripada narasi gotong royong, di sanalah Merah Putih di tiang penuh itu sedang digugat. Pengibaran bendera satu tiang penuh di instansi pemerintah, sekolah, hingga halaman rumah warga harus dibaca sebagai komitmen aktif untuk melawan segala bentuk disintegrasi bangsa. Ia adalah janji bahwa kita tidak akan membiarkan perbedaan warna politik atau latar belakang primordial merobek tenun kebangsaan yang dijahit dengan darah para pahlawan.

Pancasila yang Bekerja: Daulat, Adil, dan Makmur

Tema peringatan tahun ini meletakkan garis finis yang jelas: kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran. Pancasila baru bisa dikatakan sakti secara paripurna apabila ia mampu mewujud dalam kebijakan publik yang berpihak pada keadilan sosial. Pancasila harus "hadir dan bekerja" di ruang-ruang kelas yang inklusif, di pengadilan yang tidak tebang pilih, serta dalam sistem ekonomi yang memangkas jurang ketimpangan.

Menatap Merah Putih yang berkibar gagah di bawah langit Oktober, kita diingatkan bahwa menjadi Indonesia adalah sebuah proses yang dinamis dan tak pernah selesai. Katarsis dari setengah tiang menuju tiang penuh mengajar kita bahwa bangsa ini punya modal sosial yang luar biasa besar untuk bangkit dari titik terendah sekalipun.

Pada akhirnya, pengibaran bendera pada 1 Oktober adalah sebuah manifesto. Kita tidak sekadar menaikkan selembar kain ke atas langit, melainkan sedang meneguhkan kembali posisi Pancasila sebagai kompas moral bangsa. Di era penuh ketidakpastian ini, mari kita jaga agar bendera itu tetap berkibar tinggi—tidak hanya di puncak tiang-tiang kayu dan besi, tetapi juga di puncak kesadaran kita sebagai warga negara.(*)

copyright: wartamerdeka.net - 2026

Iklan
R

Ditulis oleh

Redaktur

Komentar (0)

Tinggalkan komentar. Komentar langsung tampil setelah dikirim.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Terkait

Eksistensi Kartel dan Mafia Haji Indonesia
Opini

Eksistensi Kartel dan Mafia Haji Indonesia

Oleh: Sudono Syueb Biro Kominfo DDII Jatim Eksistensi kartel dan mafia haji di Indonesia merupakan sebuah ironi spiritual yang sangat memprihatinkan. Ketika...

Redaktur 2 mnt baca

Jangan ketinggalan berita

Aktifkan notifikasi untuk kabar terbaru WartaMerdeka langsung di perangkatmu.