WIB

Untuk pengalaman membaca yang lebih nyaman, alihkan ke mode gelap.

Iklan Iklan 17 Agustus
Opini

Saatnya Kampus, Dunia Kerja, dan Pemerintah Perbaiki Kontrak

R

Redaktur

Jumat, 21 Agustus 2026 · 07:04 WIB · 4 mnt baca

Foto versi AI

Oleh: Ulul Albab

Akademisi Unitomo Surabaya

Iklan Perumda Pasar

Saat ini lagi viral berita tentang “Ada sarjana yang akhirnya berjualan sempol. Ada yang menjaga toko. Ada pula yang berkali-kali mengirim lamaran, tetapi pekerjaan yang diharapkan belum juga datang.” Lalu muncul pertanyaan: kalau akhirnya begitu, untuk apa kuliah S1?

Saya justru ingin mengatakan: ijazah S1 tidak salah. Kitalah para pengelola perguruan tinggi yang mungkin terlalu banyak berjanji kepadanya. Selama bertahun-tahun kita membangun imajinasi yang hampir linier: sekolah, kuliah, menjadi sarjana, memperoleh pekerjaan, lalu kehidupan menjadi lebih baik. Ijazah akhirnya dipersepsikan sebagai tiket memasuki dunia kerja. Padahal zaman telah berubah.

Jumlah sarjana bertambah. Teknologi dan kecerdasan buatan mengubah banyak pekerjaan. Struktur industri bergerak cepat, sementara pekerjaan berkualitas tidak selalu tumbuh secepat jumlah lulusan perguruan tinggi. Persoalannya karena itu bukan sekadar pengangguran sarjana, tetapi juga apakah ilmu dan kapasitas lulusan benar-benar memperoleh ruang untuk digunakan.

Jangan Menyalahkan Sempol

Berjualan sempol bukan pekerjaan hina. Menjaga toko juga bukan kegagalan seorang sarjana. Pertanyaan yang lebih tepat bukan, “Mengapa sudah sarjana kok jualan sempol?” Tetapi: “Apa yang dapat dilakukan pendidikan sarjana terhadap usaha sempol itu?”

Jika seorang sarjana mampu membangun merek, memperbaiki kualitas produk, mengelola keuangan, memanfaatkan pemasaran digital dan AI, membuka cabang, lalu menciptakan lapangan pekerjaan, apakah pendidikannya sia-sia? Tentu tidak. Pendidikan seharusnya memberikan nilai tambah terhadap apa pun yang dikerjakan seseorang.

Karena itu, ukuran keberhasilan perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada pertanyaan, “Setelah lulus bekerja di mana?” Kita perlu bertanya lebih jauh: “Setelah kuliah, nilai apa yang mampu ia ciptakan?”

Tiga Kepentingan

Di sinilah kita menghadapi persoalan yang lebih mendasar. Mahasiswa membutuhkan masa depan. Dunia kerja membutuhkan kompetensi. Perguruan tinggi membutuhkan mahasiswa. Ketiganya sah. Masalah muncul ketika kampus mengatakan, “Mari kuliah,” mahasiswa menangkapnya sebagai janji masa depan, sementara empat tahun kemudian dunia kerja berkata, “Kami tidak hanya membutuhkan ijazah Anda. Kami membutuhkan kemampuan Anda.” Terjadilah expectation gap.

Maka perguruan tinggi juga harus berani bercermin. Di tengah persaingan memperoleh mahasiswa baru, kampus jangan sampai hanya menawarkan biaya murah, kemudahan kuliah, fasilitas, atau kecepatan memperoleh gelar.

Pertanyaan terpenting calon mahasiswa seharusnya adalah: “Jika saya belajar empat tahun di kampus ini, saya akan berubah menjadi manusia seperti apa?” Kampus tidak cukup menjual program studi. Kampus harus menawarkan transformasi manusia.

Ijazah Saja Tidak Cukup

Karena itu mahasiswa masa depan seharusnya tidak meninggalkan kampus hanya dengan ijazah dan transcript of grades, tetapi juga portfolio of capabilities. Apa yang pernah ia kerjakan? Persoalan apa yang pernah diselesaikannya? Bisakah ia membaca data, berkomunikasi, bekerja dalam tim, memanfaatkan teknologi dan AI, serta menciptakan sesuatu yang bernilai?

Hubungan kampus dengan industri pun tidak cukup lagi sekadar link and match. Kita membutuhkan co-creation. Industri, pemerintah, UMKM, masyarakat dan alumni harus menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran.

Tetapi industri juga jangan hanya mengeluh bahwa lulusan tidak siap kerja. Dunia usaha harus ikut mendidik melalui magang, pelatihan dan pengalaman nyata. Negara pun harus memastikan pertumbuhan pendidikan tinggi disertai penciptaan pekerjaan berkualitas.

Kontrak Baru Pendidikan Tinggi

Barangkali sudah waktunya kita membangun kontrak baru pendidikan tinggi Indonesia. Mahasiswa tidak datang hanya untuk membeli ijazah. Perguruan tinggi tidak menerima mahasiswa hanya untuk memperoleh uang kuliah. Industri tidak sekadar menunggu lulusan siap pakai. Negara tidak cukup bangga karena jumlah sarjana bertambah.

Rantainya harus berubah: Pendidikan → Kapabilitas → Produktivitas → Penciptaan Nilai → Kesejahteraan. Bukan lagi sekedar: Kuliah → Ijazah → Melamar Pekerjaan.

Jadi jangan buang ijazahnya. Jangan pula menyalahkan anak mudanya. Ijazah memang bukan jaminan pekerjaan. Tetapi pendidikan tetap merupakan jalan penting untuk memperbesar kapasitas manusia.

Kalaupun seorang sarjana akhirnya memilih berjualan sempol, silakan. Tetapi biarlah pendidikannya membuat sempol itu lebih berkualitas, lebih inovatif, lebih produktif, membuka banyak cabang, bahkan menciptakan lapangan pekerjaan. 

Pada titik itulah kita akan memahami: Ijazah S1 memang tidak salah. Kitalah yang selama ini terlalu banyak berjanji kepadanya. Sekarang saatnya mengganti janji itu dengan sesuatu yang jauh lebih berharga: “Kemampian Menciptakan Nilai".(*)

copyright@wartamerdeka.net 2026

Iklan
R

Ditulis oleh

Redaktur

Komentar (0)

Tinggalkan komentar. Komentar langsung tampil setelah dikirim.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Terkait

Jangan ketinggalan berita

Aktifkan notifikasi untuk kabar terbaru WartaMerdeka langsung di perangkatmu.