WIB

Untuk pengalaman membaca yang lebih nyaman, alihkan ke mode gelap.

Iklan Iklan 17 Agustus
Hiburan

Pantura Sweet Song, Rumah Baru Pecinta Lagu-Lagu Lama

R

Redaktur

Minggu, 23 Agustus 2026 · 06:01 WIB · 4 mnt baca

Penulis : W. Masykar

Kisah Lahirnya Pantura Sweet Song..

Iklan Perumda Pasar

Kami terlena bukan karena malas. Tapi karena ada suara-suara dari masa lalu yang terus memanggil. Suara kaset yang diputar ulang sampai pita kusut. Suara gitar butut di pos ronda dan gang gang kampung.  

Suara penyanyi lawas yang liriknya menampar hati, padahal kita belum pernah jatuh cinta sedalam itu. Di warung kopi, kami sering diam.  

Bukan karena tidak ada bahan obrolan. Tapi karena radio memutar "Kereta Malam"...dan seketika semua orang ikut bersenandung pelan.

Di situlah cikal bakalnya. Kami sadar, kami bukan satu-satunya yang rindu. Ternyata ada Mas Yoyok yang masih simpan kenangan manis, bersama lagunya Ramuna Purba, "Terlena" sambil menimba air di sore hari. Di saat daun daun keringnya "Maya Rumantir" mulai rontok.

Ada Hendy Prayudi yang hafal hampir semua lagu lagu tahun 90-an. Ada Warminto Masykar, yang suaranya kalau nyanyi "Anak Pantura" bikin merinding.  

Ada Muntaha, suaranya lirih merdu. Ada Hendy Juma'in, yang hafal dan suka banget dengan lagu lagunya Ebiet G. Ade, bahkan yang tidak kalah ada Ribut Budiono pemain gitar era 90 an yang suaranya bikin hati berdegup, dan banyak lagi. Kami semua terlena. Terlena dalam ramuna purba yang sama.

edc5e892-1c97-455a-b82e-3b1b515b5b1d.webp

Lalu suatu malam kami bertanya, "Kalau rindu ini kita pendam sendiri, kapan lagunya hidup lagi?" Kalau kenangan ini kita simpan sendiri, siapa yang akan mewariskannya? Dari pertanyaan itulah... benih itu tumbuh. Komunitas ini bukan dimulai dari ide besar.  

Dia dimulai dari rasa "terlena". Bukan "Terlena"nya Ramuna Purba, tapi Terlena pada masa ketika dunia masih pelan. Terlena pada lagu yang bisa membuat orang asing jadi saudara dalam 3 menit.

Pantura Sweet Song adalah bukti... bahwa yang purba, kalau dirawat dengan cinta, akan tetap terasa manis sampai hari ini.

Itu sebabnya, dari obrolan warung ke warung, dari grup WhatsApp ke panggung kecil, akhirnya sepakat: kita butuh wadah. Tempat di mana lagu "Kereta Malam" masih dianggap lagu baru. "Tempat di mana nada yang masih fals dimaklumi, karena yang penting penghayatannya", ujar Mas Yoyok.

Pantura Sweet Song adalah komunitas pecinta lagu-lagu lama dari pesisir utara Jawa. Tepatnya, Pantura Lamongan. Dan, hari ini, komunitas itu resmi terbentuk. Bukan sekadar grup nyanyi. Bukan sekadar kumpul-kumpul. Tapi sebuah rumah. Rumah bagi kita yang masih setia sama lagu-lagu lama.

Berawal dari Rindu - Rindu sama intro gitar yang ngebuka hati. Rindu sama lirik yang dulu kita hafal tanpa lihat lirik. Rindu sama masa ketika kaset, radio, dan panggung orkes jadi saksi cinta pertama kita.

Sebulan sekali kumpul, bawa gitar, bawa suara, bawa cerita. Dari pop Pantura, dangdut lawas, Sinar Kemala, Awara, keroncong, sampai pop Indonesia 70-90an

Kenapa "Sweet Song"? Karena lagu-lagu lama itu manis. Manisnya bukan di nada, tapi di memori. Manisnya pas lagi patah hati diputerin "Layu Sebelum Berkembang". Manisnya pas kumpul keluarga ada "Anak Pesisir" yang nyaut bareng-bareng. Pantura Sweet Song percaya: musik tidak pernah tua. Yang tua hanya telinga yang berhenti mendengar.

Pantura Sweet Song sudah terbentuk. Dan mulai hari ini, kita berjanji: lagu-lagu lama tidak akan mati. Selama masih ada kita yang mau menyanyikannya. Karena ingin mengingat masa lalu. Masa ketika dunia masih...tidak seperti sekarang, yang ada hanya radio, kaset, dan sore yang panjang. Dan terus bernyanyi. Masa ketika dunia masih jujur. Lagu cinta ya cinta. Lagu patah hati ya nangis beneran.  

Tidak ada peralatan yang bisa untuk menilai falsnya suara (autotune). Yang ada hanya suara serak dan hati yang tulus. Masa ketika dunia masih...masih kumpul di teras depan rumah. Bawa gitar, bawa teh panas dan bawah ketela rebus masih hangat, ....dan bawa cerita.  

Satu lagu diputar ulang 10 kali, dan tidak ada yang bosan. Karena yang kita cari bukan lagunya. Tapi kebersamaannya.

Masa ketika dunia masih... "Kehilangan", "Layu Sebelum Berkembang", "Secangkir Madu Merah"...itu bukan sekadar judul. Itu hari hari kita dulu.

Pantura Sweet Song lahir dari rindu itu. Rindu pada masa yang tidak bisa kita ulang, tapi bisa kita nyanyikan lagi. Kami bukan mau kembali ke masa lalu. Kami hanya ingin memastikan...bahwa manisnya masa lalu, tidak hilang di era sekarang.(*)

Pengurus Pantura Sweet Song (PSS)

Dewan Pengarah :

- Yoyok

- Hendy Prayudi

- Ketua : Warminto Masykar

- Wakil : Muntaha

- Sekretaris : Hendy Juma'in

-;Bendahara: Ribut Budiono

copyright@wartamerdeka.net 2026

Iklan
R

Ditulis oleh

Redaktur

Komentar (0)

Tinggalkan komentar. Komentar langsung tampil setelah dikirim.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Terkait

Jangan ketinggalan berita

Aktifkan notifikasi untuk kabar terbaru WartaMerdeka langsung di perangkatmu.