WIB

Untuk pengalaman membaca yang lebih nyaman, alihkan ke mode gelap.

Iklan Iklan 17 Agustus
Kuliner

Kafe Spoor Babat, Cerita Tentang Sejarah Spoor

R

Redaktur

Minggu, 16 Agustus 2026 · 20:28 WIB · 2 mnt baca

"Nongkrong di Kafe Spoor, bak Ngopi di Tengah Sejarah"

Di jantung Babat, Lamongan. Ada satu bangunan yang diem tapi banyak cerita. 

Iklan Di tengah tulisan

Tahukah anda? Pada zaman dulu, di sebelah kiri stasiun Babat ada bangunan rumah dengan arsitektur kuno, hampir semua dindingnya, jendela dan kusen pintunya terbuat dari kayu tebal, jendelanya agak tinggi. Itu adalah rumah dinas pegawai Spoor Kereta Api pada zaman Belanda. 

65aff0c6-6833-44aa-b0d6-b00e689c8144.webp

Kini rumah itu, dindingnya, jendelanya yang didesain tinggi, lantainya masih ubin jadul. Ornamen kayunya, kusennya, bahkan gentengnya... semua masih orisinil. Dan rumah itu, masih berdiri utuh.

Kini, rumah itu, sudah tidak dihuni pegawai Spoor Kereta Api, tapi rumah itu, kini kembali hidup. Bahkan ramai penghuninya, meski penghuni dadakan dan tidak lama. Rumah itu, kini disulap jadi Kafe atau dikenal dengan Kafe Spoor Babat. Dan rumah itu, tetap orisinil, tidak boleh dirubah, karena tempat ini udah masuk situs cagar budaya. Tiap paku, tiap ukiran, tiap retak di tembok dibiarkan apa adanya. 

"Tugas kita cuma ngerawat, bukan ngerusak," Ungkap Yusi pemilik Kafe Spoor. Uniknya, begitu kita masuk ke Kafe Spoor rasanya seperti ketika masuk di rumah Mbah Kakek Nenek.

Meja kayunya dari jati tua. Lampu gantungnya kuning temaram. Di pojok masih ada rel mini dan foto-foto kereta api lawas. Bahkan, saat kita sedang pesan secangkir kopi, laksana pesan sejarah. Sejarah panjang Spoor Kereta Api. Seperti mendengar cerita Si Mbah, tentang Spoor, cerita kalau dulu di rel depan sini kereta pengangkut tebu lewat tiap pagi. Tidak lama, Angin malam masuk lewat jendela tinggi, dan aroma wangi kopi tubruk ketemu bau kayu rumah Spoor yang udah sepuh. Di tembok tua itu, masih ada bekas paku gantungan topi pegawai kereta zaman dulu. Tidak lama,...tiba-tiba... bunyi Spoor sedang lewat...Tuuuuuttt... tuuuuttt...masih jauh dari rel, klakson kereta kedengeran. Suaranya panjang, ngebelah sepi malam di kota Wingko Babat. Satu menit kemudian rel di depan kafe getar pelan. Kletak... kletak... kletak..., sang pramusaji menghampiri mengantar pesanan nasi pecel dan dua cangkir kopi Jancuk, paduan Jahe Kencur. Lalu, lampu kuning dari gerbong lewat nyorot masuk ke teras kafe. Sekilas wajah-wajah orang di dalam kereta kelihatan, meski sekejap hilang lagi ditelan kegelapan. Itulah sekilas cerita Kafe Spoor Babat.(W. Masykar)

copyright@wartamerdeka.net 2026

Iklan
R

Ditulis oleh

Redaktur

Komentar (0)

Tinggalkan komentar. Komentar langsung tampil setelah dikirim.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Terkait

Iklan

Jangan ketinggalan berita

Aktifkan notifikasi untuk kabar terbaru WartaMerdeka langsung di perangkatmu.