Menengok Madrasah Kehidupan di Usia 65
Usia 65 tahun kerap disebut sebagai bukan lah angka lagi, melainkan - Ia adalah kitab.
Pengantar Redaksi
Oleh : Warminto Masykar / Pimred
Usia 65 tahun kerap disebut sebagai bukan lah angka lagi, melainkan - Ia adalah kitab.
Di dalamnya ada goresan tinta perjuangan panjang. Mulai ketika pertama kali jadi pengajar dan ada gelak tawa di ruang kelas saat jadi dosen. Ada tanggung jawab besar ketika mengemban amanah menjadi Rektor.
Hari ini, setelah semua peran itu dijalani, dia memilih "madrasah" yang berbeda. Madrasah kehidupan bersama teman-teman seusia.
Berjalan, tertawa, bernostalgia, dan menikmati setiap langkah wisata. Terasa sekali bahwa belajar itu tidak pernah mengenal kata berhenti. Bedanya, dulu mengajar ilmu, sekarang belajar menikmati. Kemarin, mendidik orang, sekarang mendidik hati agar tetap bahagia. Dan terasa sangat mengasyikkan. Sekarang: Jalan-jalan bareng teman-teman seusia.
Perjalanan ini mengingatkan: Hidup itu bukan cuma tentang bekerja, tapi juga tentang menikmati. Dan alhamdulillah, fase ini paling mengasyikkan. Mulai melangkah berjalan dari pengajar, dosen, hingga rektor sudah di lewati.
Kini tiba waktunya menengok "madrasah diri" dengan cara berbeda: Berwisata, tertawa, dan menikmati waktu bersama sahabat seusia. Inilah sekelumit perjalanan panjang Prof. DR. Ulul Albab, sekaligus ditandai dengan peluncuran Buku, "Menengok Madrasah Kehidupan: Tidak Ada Yang Sia-Sia" selengkapnya berikut goresan tinta disaat sedang menikmati perjalanan wisata bersama kawan kawan.(*)
Menengok Madrasah Kehidupan di Usia 65

Oleh: Ulul Albab
5 Agustus 2026. Saya genap 65 tahun.
Tahun ini perayaan berbeda. Saya tidak di rumah. Saya sedang dalam perjalanan wisata bersama pimpinan, dosen, dan karyawan Universitas Dr. Soetomo. Sekitar 300-an orang. Sejak 2 Agustus kami berjalan bersama, saling berbagi cerita.

Dan tepat di hari Rabo 5 Agustus 2026, insyaalloh saya akan meluncurkan sebuah buku: "Menengok Madrasah Kehidupan: Tidak Ada Yang Sia-Sia"
Dari Pesantren hingga Kampus
Buku ini bukan sekedar catatan tentang jejak perjalanan saya di Unitomo. Tetapi juga catatan perjalanan panjang hidup saya yang sempat saya catat.
Dimulai dari saya dilahirkan, dibesarkan di pesantren, masa menjadi mahasiswa, hingga mengabdi di dunia pendidikan. 1987 saya masuk Unitomo sebagai dosen muda. Dari kampus inilah saya ditugasbelajarkan S2 ke UGM, lalu melanjutkan S3 di UB Malang.
Di Unitomo saya belajar banyak peran. Dari Sekretaris Lembaga Penelitian, Ketua Lembaga Penelitian, Wakil Rektor III, hingga Rektor 2007–2013. Saya juga pernah mengemban amanah sebagai pengurus Yayasan YPCU.
Saya masih ingat masa paling berat, ketika kampus dilanda konflik. Di saat itulah saya belajar bahwa memimpin bukan soal menang, tapi soal mendamaikan. Alhamdulillah, Unitomo kembali damai dan tetap berdiri sampai hari ini.
Madrasah di Luar Kampus

Namun madrasah kehidupan tidak berhenti di gerbang kampus.
Perjalanan saya berlanjut ke berbagai amanah di luar Unitomo. Di komunitas, di organisasi masyarakat sipil, PW-NU Jatim, MUI Jatim, ICMI Jatim, DPP Amphuri, di asosiasi bisnis wisata, baik di tingkat daerah maupun nasional. Di sana saya bertemu orang-orang berbeda, masalah berbeda, dan ujian berbeda.
Dulu saya sering bertanya: untuk apa semua ini? Untuk apa capek rapat yang tidak selesai. Untuk apa program yang gagal. Untuk apa kritik yang menyakitkan.
Di usia 65, saya tulis semuanya. Ternyata semua itu adalah kelas. Kelas kesabaran. Kelas keikhlasan. Kelas kepemimpinan.
Dengan Kacamata Iman
Karena itu buku ini saya tulis dengan dua kacamata. Kacamata pengalaman dan kacamata iman.
Setiap cerita saya timbang dengan Al-Qur’an dan Hadis. Ada ayat tentang tanda-tanda kebesaran Allah di langit dan bumi. Ada ayat tentang pentingnya menyiapkan bekal untuk hari esok. Ada ajaran Nabi tentang bahwa tidak ada satu kebaikan pun yang sia-sia, sekecil biji sawi.
Keyakinan itu yang membuat saya berani menulis: tidak ada yang sia-sia. Doa yang tertunda sedang melatih tawakal. Kerja yang belum dihargai sedang menabung pahala. Luka yang belum sembuh sedang mengajari empati.
Pelajaran untuk Melangkah

Meluncurkan buku di tengah perjalanan bersama keluarga besar Unitomo terasa pas. Karena hidup memang perjalanan.
38 tahun saya di Unitomo. Dari dosen muda hingga purna amanah struktural. Unitomo adalah madrasah kesekian saya, setelah orang tua, pesantren, dan kampus dimana saya digembleng S1-S3. Tapi setelah itu, hidup terus membuka kelas-kelas baru.
Pesan buku ini cukup mendalam: jangan buru-buru menyimpulkan hidup kita gagal. Selama kita masih mau belajar, maka setiap jejak, setiap jatuh, setiap bangun, akan bermakna.
Di usia senja ini, saya ingin berterima kasih. Kepada Allah, kepada orang tua, kepada guru-guru pesantren, kepada Unitomo, kepada semua komunitas yang pernah saya layani.
Karena dari semua itu saya belajar: bahwa madrasah kehidupan tidak pernah libur. Dan selama madrasah itu buka, maka tidak ada yang sia-sia.(*)
copyright@wartamerdeka.net 2026
Ditulis oleh
Redaktur
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!