WIB

Untuk pengalaman membaca yang lebih nyaman, alihkan ke mode gelap.

Breaking
• Program Kampung Nelayan, Jangan Jadi Value For Monkey • Merugi, Pabrik Es KUD Minatani Di Tutup Sementara • KNTI Surabaya Dorong Bisnis Inovatif, Perkuat Ekonomi Nelayan dan Perempuan Pesisir • El, Siswa SDN I Brondong Ngoleksi Belasan Trophy Juara • Mengukur Kepercayaan Masyarakat terhadap Negara Melalui SD Negeri • Kick Off Program Kemitraan MPM PP Muhammadiyah dengan LazisMu PP Muhammadiyah di Desa Weru Kecamatan Paciran Lamongan • Gandeng ICW Kemensos Cegah Korupsi Program Sekolah Rakyat • Tiga Unit Usaha KUD Minatani, Lepas atau Sengaja Dilepas? • PW PII Jawa Timur Bangun Sinergi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jatim • Prof. Zainuddin Maliki: "Penguatan payung regulasi dalam Relasi BUM Desa-KDMP" • Program Kampung Nelayan, Jangan Jadi Value For Monkey • Merugi, Pabrik Es KUD Minatani Di Tutup Sementara • KNTI Surabaya Dorong Bisnis Inovatif, Perkuat Ekonomi Nelayan dan Perempuan Pesisir • El, Siswa SDN I Brondong Ngoleksi Belasan Trophy Juara • Mengukur Kepercayaan Masyarakat terhadap Negara Melalui SD Negeri • Kick Off Program Kemitraan MPM PP Muhammadiyah dengan LazisMu PP Muhammadiyah di Desa Weru Kecamatan Paciran Lamongan • Gandeng ICW Kemensos Cegah Korupsi Program Sekolah Rakyat • Tiga Unit Usaha KUD Minatani, Lepas atau Sengaja Dilepas? • PW PII Jawa Timur Bangun Sinergi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jatim • Prof. Zainuddin Maliki: "Penguatan payung regulasi dalam Relasi BUM Desa-KDMP"
Iklan Iklan Harkopnas 1
Budaya

Kongres Kebudayaan Nusantara 2026 di Malang

Adat Budaya sebagai Portal Peradaban Dunia, Menggali Jati Diri Bangsa untuk Memajukan Kebudayaan Nasional

R

Redaktur

Minggu, 09 Agustus 2026 · 14:13 WIB · 7 mnt baca

Kongres Kebudayaan Nusantara 2026, suatu forum kebudayaan berskala nasional ini mempertemukan berbagai unsur kebudayaan Indonesia, termasuk para Yang Mulia (YM) Pemangku Hadat, Raja dan Sultan se-Nusantara, tokoh adat, penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, budayawan, akademisi, seniman, organisasi kebudayaan, serta unsur pemerintah pusat dan daerah, digelar Sabtu, (8/8/2026) di Pendopo Kabupaten Malang, Jawa Timur. 

Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog lintas generasi dan lintas komunitas untuk menggali kembali jejak peradaban Nusantara sekaligus merumuskan arah pemajuan kebudayaan Indonesia di tengah dinamika peradaban dunia.

Iklan

Dihadiri tidak kurang dari sebanyak 2000 orang peserta berasal dari beragam entitas kebudayaan, mulai masyarakat adat, penghayat kepercayaan, pelaku seni tradisi, raja dan sultan, keraton, akademisi hingga generasi muda.

Kongres mengangkat tema “Sarasehan Kebudayaan dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa”, dengan subtema: “Menggali Jejak-Jejak Peradaban Kebudayaan Nusantara sebagai Fondasi Nilai dan Kearifan: Membangun Generasi Bangsa yang Berbudi Pekerti Luhur, Menemukan Akar Jati Diri Bangsa, dan Memajukan Kebudayaan Nasional di Tengah Peradaban Dunia.”

182fd47e-dc33-4f6d-90d5-983f3004e558.webp

Menempatkan kebudayaan bukan sekadar sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai sumber nilai yang dapat menjadi fondasi pembentukan karakter, identitas, etika sosial, dan arah pembangunan bangsa.

Ketua Umum Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa selaku Penanggung Jawab Utama Kongres Kebudayaan Nusantara 2026, Hadi Prajoko, menjelaskan kongres diarahkan untuk menghidupkan kembali nilai keluhuran dan kearifan serta mewariskan objek pemajuan kebudayaan kepada generasi berikutnya. Forum ini juga diharapkan dapat merekonstruksi narasi sejarah peradaban Nusantara secara ilmiah dan memperkuat landasan kebijakan kebudayaan nasional.

Mempertemukan Negara, Masyarakat Adat dan Pelaku Kebudayaan

Kehadiran para Pemangku Hadat, Raja, Sultan, tokoh adat, organisasi kebudayaan, akademisi, serta unsur pemerintah menjadikan kongres sebagai momentum penting untuk mempertemukan warisan pengetahuan masyarakat dengan kebijakan kebudayaan negara. Diantaranya hadir, Yang Mulia Tomakaka (YMT) Drs. SJAHRIR TAMSI, M.Pd. selaku Tomakaka Adaq Jambu III Cappa Bate Dara Polewali Mandar/Ketua DPD-FKN Provinsi Sulawesi Barat. Hadir pula YM. Opu Lette Luwu dan YM. Andi Ernawati Petta Ayu Arung Paroto Bone dari Provinsi Sulawesi Selatan, YM. Andi Tamsil, Forum Adat Bulungan dari Provinsi Kalimantan Utara/Kesultanan Bulungan, YM. Sosrokusuma IV Dg. Masiga Raja Berbek Nganjuk, Kareton Solo, Provinsi Bali, Jawa Barat dan berbagai daerah lainnya.

Dalam adat dan tradisi tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai simbol seremonial. Di dalamnya tersimpan pengetahuan tentang tata kehidupan, hubungan manusia dengan alam, sistem kekerabatan, mekanisme musyawarah, etika sosial, hukum adat, seni, bahasa, spiritualitas, hingga nilai gotong royong.

Kebudayaan karena itu dapat menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini dan masa depan.

Kongres juga sejalan dengan gagasan - kebudayaan merupakan “Rumah Besar Bangsa Indonesia”. Dewan Pengarah Kongres Kebudayaan Nusantara 2026, Dr. Dimas Indianto Sastronagoro, sebelumnya menyatakan bahwa forum tersebut tidak hanya bertujuan mengenang kejayaan masa lalu, tetapi juga merumuskan arah masa depan kebudayaan Indonesia. Amanat Konstitusi: Kebudayaan sebagai Fondasi Kehidupan Bangsa

Penguatan kebudayaan memiliki landasan konstitusional yang tegas.

Pasal 32 ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

Sementara itu, Pasal 32 ayat (2) menegaskan: “Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.”

Ketentuan tersebut menegaskan bahwa bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi lokal, melainkan bagian dari kekayaan budaya nasional yang harus dihormati dan dipelihara.

Dengan demikian, pemajuan kebudayaan nasional dan pelestarian kebudayaan daerah bukanlah dua agenda yang saling bertentangan. Keduanya merupakan satu kesatuan.

"Kebudayaan nasional tumbuh dari akar kebudayaan daerah, sementara kebudayaan daerah memperoleh ruang hidup yang lebih luas melalui kebudayaan nasional.:

Adat Budaya, Portal Peradaban Dunia

Salah satu gagasan penting yang mengemuka dalam perspektif kongres adalah “Adat Budaya, Portal Peradaban Dunia.”

Ungkapan tersebut mengandung makna bahwa adat dan budaya lokal sesungguhnya dapat menjadi pintu masuk untuk memahami perjalanan panjang peradaban manusia.

Adat istiadat merupakan semacam "Arsip Hidup." Ia menyimpan jejak perjalanan masyarakat dari generasi ke generasi—tentang bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungan, membangun hubungan sosial, menyelesaikan persoalan, menghormati alam, membentuk keluarga, menjalankan tradisi, serta memaknai kehidupan dan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Karena itu, memelihara adat bukan berarti membekukan masyarakat dalam masa lalu.

Sebaliknya, "Memelihara adat berarti menjaga sumber nilai agar masyarakat mampu melangkah menuju masa depan tanpa kehilangan jati dirinya."

Bahasa, Seni dan Kepercayaan sebagai Memori Peradaban

Bahasa daerah menyimpan cara pandang masyarakat terhadap dunia. Di dalam kosakata, ungkapan, peribahasa, syair, mantra tradisional, cerita rakyat, dan sastra lisan tersimpan pengetahuan serta pengalaman kolektif yang diwariskan secara turun-temurun.

Demikian pula kesenian tradisional. Tari, musik, teater rakyat, kerajinan, pakaian adat, arsitektur tradisional dan berbagai bentuk ekspresi seni bukan hanya karya estetika, tetapi juga media pendidikan nilai dan pembentukan karakter.

Sementara itu, sistem kepercayaan dan tradisi spiritual masyarakat merupakan bagian dari sejarah sosial dan kebudayaan Indonesia yang perlu dikaji dengan pendekatan yang objektif, inklusif, dan menghormati hak setiap warga negara. Karena itu, kebudayaan dapat menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat persaudaraan, bukan ruang yang mempertajam perbedaan.

Dari Warisan Leluhur Menuju Generasi Emas

Tantangan terbesar pemajuan kebudayaan bukan hanya bagaimana menyelamatkan benda atau tradisi, tetapi bagaimana memastikan "Nilai-nilai luhur tersebut diwariskan kepada generasi muda."

Generasi muda perlu mengenal sejarah daerahnya, bahasa ibunya, adat istiadatnya, seni tradisinya, tokoh-tokoh leluhurnya, serta kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat.

Pendidikan menjadi salah satu instrumen terpenting dalam proses tersebut. Sekolah, keluarga, lembaga adat, perguruan tinggi, komunitas budaya dan pemerintah perlu membangun ekosistem kebudayaan yang memungkinkan generasi muda tidak hanya menjadi penonton kebudayaan, tetapi menjadi "Pelaku, pewaris dan pencipta kebudayaan masa depan."

Dengan demikian, pendidikan karakter tidak berhenti pada pengajaran teori, tetapi hadir melalui pengalaman nyata tentang adab, gotong royong, tanggung jawab, penghormatan kepada orang tua, kepedulian terhadap lingkungan, musyawarah, toleransi dan cinta tanah air yang dijadikan "Muatan Lokal" sebagai salah satu materi mata pelajaran di sekolah.

Kebudayaan sebagai Diplomasi Indonesia

Dalam pergaulan dunia, kebudayaan juga memiliki kekuatan sebagai instrumen diplomasi.

Seni, bahasa, kuliner, busana, tradisi, arsitektur, musik, tari dan berbagai ekspresi budaya Nusantara dapat memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat dunia tanpa harus kehilangan identitasnya.

Kekayaan budaya Indonesia justru dapat menjadi kekuatan soft power bangsa.

Karena itu, gagasan “Adat Budaya, Portal Peradaban Dunia” memiliki makna strategis: budaya lokal tidak harus berhadapan dengan globalisasi, tetapi dapat memasuki ruang global dengan membawa identitas dan nilai-nilai luhur Nusantara.

04d7e514-aebf-4065-bf6b-8c93d8d498f5.webp

Momentum Memperkuat Persatuan Nusantara

Kongres Kebudayaan Nusantara 2026 di Malang pada akhirnya bukan hanya sebuah forum seremonial kebudayaan. Ia merupakan momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa Indonesia dibangun dari keberagaman suku, bahasa, adat, tradisi, agama, kepercayaan, sejarah dan kebudayaan yang berlapis-lapis.

Di tengah arus globalisasi dan perubahan teknologi yang sangat cepat, bangsa Indonesia membutuhkan akar kebudayaan yang kuat agar modernisasi tidak berujung pada kehilangan jati diri.

Karena itu, sinergi antara "Negara, Pemangku Hadat, Raja dan Sultan, masyarakat adat, budayawan, akademisi, organisasi kebudayaan, dunia pendidikan, generasi muda dan masyarakat luas menjadi sangat penting."

Kebudayaan harus diposisikan sebagai kekuatan pembangunan manusia dan pembangunan bangsa. Bukan sekadar untuk mengenang masa lalu, tetapi untuk "Menata masa depan."

Merawat Akar, Menjaga Jati Diri, Membuka Jalan ke Dunia

Kongres Kebudayaan Nusantara 2026 memberikan pesan penting bahwa kemajuan bangsa tidak harus berarti meninggalkan akar kebudayaannya.

Justru bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berdiri tegak di atas akar sejarahnya, menghormati leluhurnya, menjaga bahasa dan adatnya, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus membuka diri terhadap pergaulan peradaban dunia.

Dengan semangat tersebut, "Adat budaya Nusantara dapat menjadi portal peradaban dunia", sebuah pintu yang menghubungkan warisan leluhur dengan masa depan, tradisi dengan inovasi, identitas lokal dengan kebudayaan global, serta keberagaman dengan persatuan.

"Merawat adat, menjaga budaya."

"Menjaga budaya, menjaga jati diri."

"Menjaga jati diri, menjaga Indonesia."

Kongres Kebudayaan Nusantara di Malang pun diharapkan tidak berhenti sebagai pertemuan para tokoh kebudayaan, melainkan mampu melahirkan gagasan, rekomendasi dan gerakan nyata bagi pemajuan kebudayaan Indonesia yang berakar pada kearifan Nusantara dan berorientasi pada peradaban dunia. Bhinneka Tunggal Ika, Beragam dalam budaya, bersatu dalam Indonesia. Malang, 8 Agustus 2026 (YMT. Sjamsi)

copyright@wartamerdeka.net 2026

Iklan Pasang iklan di sini → Ukuran ideal: 336×280 atau 728×90 px
R

Ditulis oleh

Redaktur

Komentar (0)

Tinggalkan komentar. Komentar langsung tampil setelah dikirim.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Terkait

Reaktivasi SPP
Sudut Pandang

Reaktivasi SPP

Oleh : W. Masykar Wacana reaktivasi SPP di SMA/SMK Negeri terus bergulir menyusul munculnya usulan dari bawah karena banyak sekolah negeri membutuhkan tambah...

Redaktur 3 mnt baca

Jangan ketinggalan berita

Aktifkan notifikasi untuk kabar terbaru WartaMerdeka langsung di perangkatmu.