Kiyai Galon dan Surau Pengeling (1)
Oleh : W. Masykar
Ada sebuah gubug. Gazebo, Bukan masjid - tapi untuk peribadatan. Menunaikan sholat wajib dan sunah. Namanya Surau Pengeleng.
Pengeleng itu artinya tempat memandang. Memandang apa? Memandang laut Brondong yang kadang pasang, kadang surut. Memandang diri sendiri yang ternyata banyak kelemahan dan kekurangan. Memandang suasana hati yang kadang semangat dan kadang lempok, "yazidu wa yanqusu" - persis seperti iman kita.
Di surau itulah Kiyai Galon tinggal. Disebut Kiyai Galon bukan karena sedang jualan galon. Tapi karena gamelannya dari galon.
Betul. Kentongan dari bambu petung. Kendang dari ember cat 25 kilo. Gong-nya dari tutup panci. Dan melodi utamanya: "galon Air yang dipukul pakai sandal jepit bekas".
Cak Nun pernah bilang: "Agama itu bukan soal mahalnya alat, tapi beningnya niat." Nah, Kiyai Galon membuktikan itu.
Malam itu. Malam Jumat itu, di Surau Pengeleng, Kiyai Galon sholawatan. Bukan dengan hadroh Rp 50 juta. Tapi dengan orkestra galon.
Jangan bayangkan Kiyai Galon itu pakai jubah kebesaran. Tidak!. Namanya Kiyai Galon karena ketika manggung sholawatan menggunakan peralatan musik dari galon. Galon, botol, kenthongan dan kencer pakai tutup botol diorkestrasi menghasilkan irama yang enak didengar dan ada ciri khasnya.
Malam itu di Surau Pengeling, Kiyai Galon tidak khotbah, tapi sholawatan. Sholawatannya bukan seperti di panggung megah dengan sound horeg. Sholawatannya seperti Cak Nun di Mocopat Syafaat: pelan, nylekit, disambi ngopi. Atau pada saat maiyah an.
Tidak ada rebana kenceng. Hanya ketukan sendok dan pukulan ke galon. Jemaahnya bukan santri bersorban. Jemaahnya pemuda-pemuda yang habis melaut di Brondong, ibu-ibu penjual dipasar dan ibu ibu buruh tani dan nelayan dan bapak-bapak yang habis melaut.
Cak Nun pernah bilang, Maiyah itu adalah menemukan Allah di tempat yang tidak diduga. Nah, malam itu, Allah ditemukan di tengah sholawatan di Surau Pengeling.
Kiyai Galon lantas berhenti sejenak, berhenti di tengah sholawat. Dan bertanya kepada yang hadir :
"Kenapa kita sholawatan?" Semua diam.
"Karena kita kangen. Wong kangen itu ndak butuh alasan pinter-pinter. Kangen ya kangen. Kita kangen sama Kanjeng Nabi, karena kita sering mengecewakan diri kita sendiri. Dan hanya dengan menyebut namanya, kita jadi ingat bahwa kita masih bisa pulang."
Tidak ada allahu akbar yang menggelegar. Hanya anggukan. Anggukan orang-orang yang mengerti rasanya pulang kerja dengan tangan kosong.
Lalu sholawat dilanjut. Kali ini semua ikut. Suara fals, suara serak, suara yang habis merokok, semua melebur jadi satu. Di atas mereka, lampu tumbler Surau Pengeling berkelip-kelip seperti bintang yang malu-malu.
Lalu sholawat kembali dilantunkan: Shollallahu 'ala Muhammad...
Anehnya, yang datang bukan malah tertawa. Yang datang malah nangis. Karena suaranya jujur. Karena dari galon yang penyok itu keluar suara yang tidak penyok: suara kangen kepada Kanjeng Nabi. Gaya sholawatannya pun ala Cak Nun. Di tengah sholawat, Kiyai Galon berhenti. Nyruput kopi.
"Le, opo bedane musik karo sholawat?" tanya beliau ke anak-anak muda yang nongkrong.
Anak-anak diam.
"Musik itu bikin kamu joget. Sholawat itu bikin kamu eling. Musik galon ini, kalau kamu pukul, bunyinya 'tong-tong'. Itu mengingatkan kita: urip iki kosong, Le. Kayak galon kosong. Harus diisi. Diisi sholawat, diisi eling."
Semua yang di gubug gazebo itu mengangguk. Di luar, angin sawah berhembus. Lampu teplok di Surau Pengeleng bergoyang-goyang, tapi tidak padam.
Karena di surau reot itu, ada yang menjaga nyalanya. Bukan listrik PLN. Tapi sholawat yang dipukul dari barang bekas.
Malam itu, orang-orang pulang dari Surau Pengeleng tidak membawa bingkisan snack. Mereka membawa bunyi: tung-tung-tung yang terus terngiang di dada.
Bunyi galon yang mengingatkan kita, bahwa untuk memanggil Nabi, kita tidak perlu jadi
mahal. Cukup jadi jujur.
Ditulis oleh
Redaktur
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!