Program Kampung Nelayan, Jangan Jadi Value For Monkey
Perkuat "Kapasitas Institusi"
Oleh : Prof. Ir. Daniel Mohammad Rosyid, M.Phil., Ph.D., MRINA
(Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya)
Penyunting : W. Masykar
Prof. Daniel Mohammad Rosyid, Guru Besar Fakultas Tehnologi Kelautan Institut Tehnologi Sepuluh November Surabaya mengungkapkan pandangannya terkait Program "Kampung Nelayan Merah Putih'.
Menurut Prof. Daniel program Kampung Nelayan Merah Putih ini, tidak boleh hanya mengejar pembangunan infrastruktur fisiknya saja, tapi perlu membangun "kapasitas institusi" yang kuat.
"Target jangan hanya berapa banyak merealisasi pembangunan kampung nelayan dari sisi fisik, tapi sekaligus juga harus di barengi dengan pembangunan kualitas kapasitas institusinya.
Anggaran yang hingga mencapai puluhan milyar rupiah yang di gelontorkan, masih kata dia, sudah barangtentu bisa mewujudkan harapan, kampung-kampung nelayan bisa betransformasi menjadi kawasan pertumbuhan baru yang lebih memberikan prospek cerah bagi generasi muda nelayan.
Sejak industrialisasi 50 tahun silam, proses devolusi telah terjadi tidak hanya di kawasan pesisir, tapi juga di kawasan pertanian di lereng-lereng gunung. Terjadi urbanisasi besar-besar-an di mana anak-anak muda meninggalkan kawasan agro-maritim dan pergi ke kawasan-kawasan urban di pusat-pusat pertumbuhan. Kesenjangan sosial antara kota-desa makin melebar.
Dan program Kampung Nelayan Merah Putih ini, dimaksudkan untuk membalik devolusi ini agar kawasan agro-maritim menjadi pusat pertumbuhan baru sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi makin berkualitas, inklusif dan berbasis agro-maritim.
Salah satu faktor devolusi itu adalah riba yang ditandai dengan kebijakan yang membesarkan sektor keuangan dan mengerdilkan sektor riil, terutama sektor primer seperti pertanian dan perikanan laut. Nilai Tukar Petani dan Nelayan terus turun, sementara usia Petani dan Nelayan makin menua.
Sedikitnya agar setiap kawasan bisa maju dan berkembang mensyaratkan 5 hal:
1. SDM yg cakap, sehat dan produktif, 2. Pasar yang terbuka dan adil, 3. Investasi yg memandirikan warganya, 4. Birokrasi yang kompeten dan amanah dan 5. Pasokan energi yang memadai.
Alokasi dana Rp. 22 M ini perlu memperhatikan 5 hal tersebut. Syarat ke 4, yaitu pasar yang terbuka dan adil itu mensyaratkan "Transaksi yg bebas-riba".
Dana sebesar Rp. 22M untuk Kampung Nelayan Merah Putih ini perlu dialokasikan dengan tepat dan cermat. Setiap investasi publik di pesisir atau di lereng gunung hanya akan bermanfaat, value for money - jika memenuhi 2 syarat : Pertama, Birokrasi daerahnya kompeten dan amanah bersih KKN, dan Kedua, operator pelaksananya profesional dan juga bersih dari KKN. Jika salah satu syarat itu tidak dipenuhi maka investasi publik itu hanya menjadi "value for monkey".
Oleh karena itu, program Kampung Nelayan Merah Putih itu tidak boleh hanya mengejar pembangunan infrastruktur fisik saja, tapi perlu membangun "kapasitas institusi" yang kuat. Kepemimpinan yang kompeten dan amanah, sistem dan standard yang memadai, serta - investment in peoples - sangat penting. Sementara itu "riba perlu segera dihentikan".(*)
copyright@wartamerdeka.net 2026
Ditulis oleh
Redaktur
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!