WIB
Wartamerdeka Berfikir Merdeka, Bersuara Merdeka
Iklan Leaderboard — Launching
Opini

Mozaik Nusantara: Pemangku Hadat, Kerajaan, dan Kesultanan Pilar Peradaban Bangsa

R

Redaktur

Jumat, 03 Juli 2026 · 17:00 WIB · 4 mnt baca

Mozaik Nusantara: Pemangku Hadat, Kerajaan, dan Kesultanan Pilar Peradaban Bangsa

Oleh: YMT. Sjahrir Bintamsi

Indonesia bukan sekadar sebuah negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia adalah sebuah "Peradaban Besar" yang dibangun oleh ribuan Komunitas adat, ratusan Kerajaan dan Kesultanan, serta beragam bahasa, budaya, tradisi, dan sistem nilai yang tumbuh selama berabad-abad. Keberagaman tersebut merupakan mozaik kebangsaan yang membentuk identitas Indonesia sebagai bangsa yang berakar kuat pada kearifan lokal sekaligus terbuka terhadap perkembangan zaman.

Iklan Didalam Tulisan

Di balik kekayaan budaya itu, terdapat sosok-sosok yang selama ini menjaga kesinambungan nilai-nilai luhur leluhur, yaitu para Pemangku Hadat atau Pemangku Adat. Mereka bukan sekadar Tokoh Adat, melainkan penjaga memori kolektif bangsa yang mengemban amanah untuk memelihara adat istiadat, hukum adat, pusaka budaya, silsilah, serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam kehidupan Masyarakat Adat Nusantara, Pemangku Hadat merupakan figur yang dihormati karena kebijaksanaan, keteladanan, integritas, dan kemampuannya menyelesaikan berbagai persoalan berdasarkan musyawarah, hukum adat, dan nilai-nilai kemanusiaan. Kehadiran mereka menjadi perekat kehidupan sosial yang menjunjung tinggi persaudaraan, keadilan, gotong royong, dan keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Sementara itu, Kerajaan dan Kesultanan merupakan institusi yang pernah menjadi pusat Pemerintahan, Pendidikan, Perdagangan, Kebudayaan, Diplomasi, hingga Pengembangan Ilmu Pengetahuan di berbagai wilayah Nusantara. Kerajaan umumnya dipimpin oleh seorang Raja atau Ratu yang menjalankan pemerintahan berdasarkan hukum adat, tradisi, dan kebijaksanaan lokal. 

Adapun Kesultanan dipimpin oleh seorang Sultan yang mengintegrasikan tata pemerintahan dengan nilai-nilai Islam, syariat, serta budaya setempat yang berkembang secara harmonis.

Walaupun memiliki latar sejarah dan karakteristik yang berbeda, Kerajaan dan Kesultanan memiliki tujuan yang sama, yaitu "Mewujudkan kehidupan masyarakat yang tertib, adil, makmur, dan bermartabat." 

Dari kedua sistem pemerintahan tradisional tersebut lahirlah berbagai warisan budaya yang hingga kini masih hidup dalam bentuk bahasa daerah, sastra, seni, arsitektur, pakaian adat, upacara tradisional, hukum adat, hingga filosofi kehidupan yang menjadi bagian penting dari identitas bangsa Indonesia.

Pada era modern seperti sekarang ini, keberadaan Kerajaan, Kesultanan, dan Lembaga Adat tidak lagi dipahami semata-mata sebagai simbol sejarah, melainkan sebagai "Mitra Strategis" dalam menjaga persatuan bangsa, memperkuat pendidikan karakter, melestarikan budaya, serta membangun harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Nilai-nilai yang diwariskan leluhur seperti musyawarah, gotong royong, penghormatan kepada orang tua, toleransi, kejujuran, serta kecintaan terhadap tanah air tetap relevan dalam menghadapi tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi.

Oleh karena itu, sinergi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Adat, Keluarga Kerajaan dan Kesultanan, Perguruan Tinggi, Komunitas Budaya, Generasi Muda, serta seluruh elemen masyarakat menjadi sangat penting. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk mendokumentasikan sejarah, melindungi benda dan tak benda warisan budaya, mengembangkan pendidikan berbasis budaya lokal, serta memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada dunia internasional.

Lebih dari itu, "Pelestarian Adat dan Budaya" bukan hanya menjadi tanggung jawab masyarakat adat semata, melainkan merupakan tanggung jawab bersama sebagai bangsa Indonesia. 

Warisan Budaya adalah kekayaan nasional yang harus dirawat agar tidak tergerus oleh perubahan zaman. Kemajuan teknologi hendaknya dimanfaatkan sebagai sarana digitalisasi arsip budaya, dokumentasi naskah kuno, promosi wisata budaya, serta penguatan literasi sejarah bagi generasi penerus.

Mozaik Nusantara sesungguhnya mengajarkan bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan sumber kekuatan yang mempersatukan. Setiap Suku, Adat, Bahasa, Kerajaan, dan Kesultanan memiliki kontribusi yang berharga dalam membentuk Indonesia yang kita kenal hari ini. Semangat Bhinneka Tunggal Ika menemukan makna nyatanya ketika seluruh komponen bangsa saling menghormati, saling menjaga, dan saling menguatkan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada akhirnya, "Pemangku Hadat, Kerajaan, dan Kesultanan" bukan sekadar peninggalan masa lalu. Mereka adalah penjaga jati diri bangsa, sumber inspirasi kebudayaan, sekaligus "Mitra Strategis" dalam membangun Indonesia yang berdaulat, maju, adil, makmur, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Marilah kita menjadikan 

"Keberagaman sebagai kekuatan, Adat sebagai pedoman moral, Budaya sebagai identitas, dan Persatuan sebagai jalan menuju Indonesia Raya yang damai, bermartabat, dan berkelanjutan bagi seluruh generasi."

Semoga tulisan ini dapat menjadi salah satu ikhtiar dalam memperkuat kesadaran kolektif bahwa Pemangku Hadat, Kerajaan, dan Kesultanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari jati diri Indonesia, sekaligus menjadi jembatan persatuan lintas agama, lintas suku, lintas budaya, dan lintas generasi.

Referensi:

1. Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

2. Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 18B ayat (2), Pasal 28I ayat (3), dan Pasal 32.

3. UNESCO, Konvensi 2003 tentang Perlindungan Warisan Budaya Takbenda.

4. Negarakertagama sebagai salah satu sumber sejarah klasik mengenai peradaban Nusantara.

R

Ditulis oleh

Redaktur

Berita Terkait

MBG
Opini

MBG

Oleh : W. Masykar Dulu... pemerintah mengkampanyekan sekaligus mendorong pola hidup sehat dengan konsep 4 Sehat 5 Sempurna, menu makanan bergizi. Konsep ini...

Redaktur 3 mnt baca