WIB

Untuk pengalaman membaca yang lebih nyaman, alihkan ke mode gelap.

Iklan Iklan Harkopnas 1
Profil

Mengenal Janjang Berdikari, Pelukis dan Pengrajin Patung Asal Bumi Ranggalawe

R

Redaktur

Jumat, 14 Agustus 2026 · 01:02 WIB · 3 mnt baca

Janjang Berdikari dalam lukisan

Oleh : W. Masykar

Nama Janjang Berdikari, tampaknya sudah tidak asing lagi di masyarakat bumi Ranggalawe. Pria alumni Sekolah Tehnologi Menengah Atas (STM) Negeri Tuban 1985 (kini SMKN 1) memiliki hobby melukis dan itu sudah lama dia jalani sebelum kemudian beralih ke seni relief dan perupa membuat Patung Naga Khas Tuban mulai sekitar tahun 1987 an.

Iklan Di tengah tulisan

e5e0bd67-f280-40dc-bcd3-fe08797821a2.webp

Penulis saat berada di tempat lukisan Janjang Berdikari 

Dari goresan kuas hingga ukiran di atas batu, Janjang menuangkan jiwa Tuban ke dalam setiap karya. Terkenal dengan patung-patung naga yang megah dan penuh detail, karyanya menjadi ikon seni yang hidup di bumi Wali.

Bagi Janjang, seni bukan hanya karya. Seni adalah napas, doa, dan cerita rakyat yang diwariskan lewat tangan.

"Melukis dengan hati, memahat dengan keyakinan." Dan di balik setiap sisik naga yang gagah berdiri di Tuban, ada nama Janjang Berdikari. Seorang pelukis dan pematung yang menjadikan kanvas dan batu sebagai rumahnya. Berawal dari kecintaan pada seni lukis, Janjang lantas bergeser pada budaya dan legenda, Janjang menekuni seni rupa hingga akhirnya jatuh hati pada naga - simbol kekuatan, keberanian, dan penjaga.

Tangan-tangannya memahat bukan sekadar bentuk, tapi juga filosofi dan semangat masyarakat Tuban. Karya-karyanya kini menghiasi berbagai sudut kota dan menjadi daya tarik wisata budaya.

Bagi Janjang, membuat patung naga adalah cara untuk menjaga cerita agar tidak punah, dan memperkenalkan Tuban lewat seni.

Ada orang melukis dengan warna. Ada yang memahat dengan palu dan pahat, namun, Janjang Berdikari melakukan keduanya dengan satu tujuan, menghidupkan Tuban.

Dari kuas yang menari di atas kanvas, lahirlah warna. Dari pahatan di atas batu dan semen, lahirlah naga - penjaga kota, penjaga kisah.

01c48167-3dbc-4480-8544-61da7c3e0fcd.webp

Patung Shio Ular di Klenteng Kwan Sing Bio Tuban (salah satu karya Janjang Berdikari)

Janjang percaya, seniman tidak menciptakan. Seniman hanya membangunkan apa yang sudah tidur di dalam alam dan budaya. Dan di tangan Janjang, naga-naga itu bangun.

Janjang Berdikari adalah seniman lokal Tuban yang aktif berkarya sejak lama. Fokus karyanya pada pelestarian budaya melalui media lukis dan patung. Karya unggulannya berupa patung naga dengan ciri khas detail ornamen dan filosofi lokal, yang telah dipasang di berbagai ruang publik dan properti di wilayah Tuban.

Menjelang perayaan Imlek 2025, dia dipercaya membuat patung Shio Ular oleh pengelola Tri Dharma Tuban, sekaligus diminta untuk mewarnai kembali relief semua shio dan dewa yang berada di sepanjang dinding tembok yang dulu merupakan hasil karyanya pula. Janjang menuturkan mulai 1990 lukisan dan patung di klenteng Sing Bio dipercayakan pada pria dengan tiga orang anak ini. 

Seperti patung dua naga dan kepiting raksasa yang berada atas pintu utama kelenteng Tuban dan berbagai gambar shio dan relief cerita komik Wang Kong di Kelenteng Kwan Sing Bio.

"Ini pekerjaan seni, jadi tetap saya buatkan, dan harus bisa. Saya ini awalnya seni lukis terus dikembangkan dengan membuat patung dan relief," kata janjang.

Sementara itu, berbagai karya dari tangan terampil Janjang yang tinggal di Sidorejo Kota Tuban ini ternyata tidak hanya di dalam kelenteng Tuban. Di beberapa sudut kota bumi Ronggolawe Tuban yakni ikon belimbing yang berada di Alun-alun Tuban, patung Aishin, dan yang paling baru adalah patung balet, dan patung 9 ekor kuda di bundaran Taman Sleko. Sedangkan untuk di kota besar lainnya Ada di Pati, Surabaya, Kebumen, Bogor, Semarang, Jepara, Ciamis.

Janjang yang merupakan jebolan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya setelah tamat dari STM Negeri Tuban, kini telah puluhan tahun menggeluti seni lukis dan pembuatan patung dan relief.

Menurutnya, selama ini ada kepuasan tersendiri ketika memiliki sebuah karya yang bisa dinikmati oleh banyak orang.

"Senang dan ada kebanggaan tersendiri. Apalagi kalau ada anak atau cucu yang tanya, kita bisa jawab itu karya bapak," jelas Janjang sambil nyeruput kopi bersama penulis kisah ini.(*)

copyright@wartamerdeka.net 2026

Iklan Pasang iklan di sini → Ukuran ideal: 336×280 atau 728×90 px
R

Ditulis oleh

Redaktur

Komentar (0)

Tinggalkan komentar. Komentar langsung tampil setelah dikirim.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Terkait

Iklan

Jangan ketinggalan berita

Aktifkan notifikasi untuk kabar terbaru WartaMerdeka langsung di perangkatmu.