WIB

Untuk pengalaman membaca yang lebih nyaman, alihkan ke mode gelap.

Iklan Iklan 17 Agustus
Pesan religi

Menelisik Akar Ironi: Mengapa Umat Islam Malas Membaca?

Padahal Wahyu Pertama Rasulullah Adalah Perintah Iqra

R

Redaktur

Jumat, 28 Agustus 2026 · 16:33 WIB · 3 mnt baca

Gambar versi AI

Oleh: Dra. Nanis Sudarmisih

(Content Creator, Bidang Media KB PII Wati Jatim)

Iklan Perumda Pasar

Perintah membaca (Iqra) yang diterima Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam wahyu pertama di Gua Hira menjadi fondasi peradaban Islam, namun fakta kontemporer justru menunjukkan ketimpangan yang signifikan. 

Data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) melalui tes PISA terbaru menempatkan indeks literasi negara-negara mayoritas muslim, termasuk Indonesia yang berada di peringkat 70 dari 80 negara, dalam kategori sangat rendah. 

Rendahnya minat baca ini menciptakan jurang pemisah antara ajaran fundamental agama dan realitas perilaku masyarakat muslim modern di tengah pesatnya arus informasi digital.

Paradoks Perintah Wahyu Pertama dan Realitas Sosial

Islam meletakkan dasar keilmuan melalui peristiwa sejarah diturunkannya Surah Al-Alaq ayat 1–5. Dalam wahyu tersebut, Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan pentingnya proses membaca dan belajar sebagai pintu utama mengenal Maha Pencipta dan dunia. Al-Qur'an Surah Al-Alaq ayat 1–3: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia."

394e0fe3-7904-4c35-a0e2-85db27681be7.webpPerintah ini diperkuat oleh arahan Rasulullah mengenai kewajiban menuntut ilmu bagi setiap individu muslim tanpa terkecuali.

Hadits Riwayat Ibnu Majah (No. 224) - Rasulullah bersabda: "Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim." (HR. Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Al-Albani).

Meski memiliki pijakan teologis yang kuat, fenomena krisis literasi tetap terjadi. Beberapa faktor utama yang melatarbelakangi rendahnya budaya membaca di kalangan umat antara lain:

Pergeseran Budaya Lisan ke Budaya Visual: 

Tradisi bertukar informasi lebih banyak mendasarkan pada lisan (oral culture) dan media visual singkat daripada penelaahan teks secara mendalam.

Tantangan Media Digital: Distraksi media sosial mengurangi daya fokus (attention span) masyarakat untuk membaca bacaan panjang atau kitab berbobot.

Pendidikan Berbasis Hafalan

Sistem pembelajaran yang kerap berfokus pada pemahaman tekstual instan tanpa membiasakan analisis kritis terhadap isi bacaan.

Dampak Krisis Literasi terhadap Peradaban

Ketertinggalan dalam budaya literasi membawa konsekuensi langsung terhadap kualitas sumber daya manusia umat Islam. 

Kurangnya minat baca memicu kerentanan terhadap penyebaran berita bohong (hoaks), dangkalnya pemahaman keagamaan, serta minimnya kontribusi signifikan dalam riset sains dan teknologi global. 

Sejarah mencatat bahwa masa keemasan Islam (The Golden Age of Islam) pada abad ke-8 hingga ke-14 Masehi dicapai justru ketika perpustakaan seperti Bayt al-Hikmah di Baghdad menjadi pusat penerjemahan dan pembacaan karya-karya dunia.

Membangkitkan kembali kesadaran literasi membutuhkan langkah nyata, mulai dari penguatan kurikulum pendidikan berbasis riset, penyediaan akses perpustakaan yang memadai, hingga pembiasaan membaca di lingkungan keluarga.

Refleksi terhadap wahyu pertama seharusnya menjadi pengingat bahwa membaca bukan sekadar aktivitas akademis, melainkan perintah agama yang strategis. 

Menjadikan Iqra sebagai gaya hidup adalah langkah mendasar untuk mengembalikan kejayaan peradaban umat Islam di era modern. (*) 

Sumber Literatur:

- Al-Qur'anul Karim (Kementerian Agama Republik Indonesia)

- Kitab Sunan Ibnu Majah (Hadits No. 224)

- OECD PISA Results: Insights and Interpretations

Iklan
R

Ditulis oleh

Redaktur

Komentar (0)

Tinggalkan komentar. Komentar langsung tampil setelah dikirim.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Terkait

Jangan ketinggalan berita

Aktifkan notifikasi untuk kabar terbaru WartaMerdeka langsung di perangkatmu.