WIB
Iklan Iklan Harkopnas 1
Opini

Pancasila Berakar pada Adat Istiadat Nusantara

Kearifan Lokal Fondasi Persatuan, Keadaban, dan Keadilan Bangsa

R

Redaktur

Senin, 13 Juli 2026 · 18:34 WIB · 5 mnt baca

Pancasila Berakar pada Adat Istiadat Nusantara
Foto: dok wartamerdeka.net

Oleh: YMT. Sjahrir Bintamsi 

(Tomakaka Adaq Jambu III Cappa Bate Dara' Kabupaten Polewali Mandar/Ketua DPD-FKN Provinsi Sulawesi Barat)

Iklan Didalam Tulisan

Indonesia, bangsa yang besar, bukan sekedar karena luas wilayahnya atau banyaknya jumlah penduduk, melainkan karena kekayaan Adat Istiadat, Budaya, Bahasa, dan Nilai-nilai Luhur yang diwariskan secara turun-temurun. Jauh sebelum Indonesia merdeka, masyarakat Nusantara telah memiliki sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, alam semesta, serta kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut hidup dalam Adat Istiadat yang berkembang di berbagai daerah dan menjadi fondasi lahirnya karakter bangsa Indonesia.

1da7b6f9-f8cd-488d-b11c-c8667be55537.webp

Para pendiri bangsa tidak membangun Pancasila dari ruang hampa. Mereka menggali nilai-nilai yang telah hidup dalam masyarakat Nusantara selama berabad-abad. Oleh karena itu, Pancasila merupakan kristalisasi nilai-nilai luhur bangsa yang bersumber dari Adat, Budaya, Agama, dan Pengalaman Historis masyarakat Indonesia.

Hal ini sejalan dengan pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 yang menegaskan bahwa Pancasila digali dari Kepribadian Bangsa Indonesia sendiri, bukan diimpor dari bangsa lain. Karena itu, menjaga Adat Istiadat sesungguhnya berarti menjaga ruh dan jati diri Pancasila.

Adat Istiadat Cermin Nilai-Nilai Pancasila

Dalam kehidupan Masyarakat Adat di seluruh Nusantara, kelima sila Pancasila telah lama dipraktikkan dalam berbagai bentuk kehidupan sosial.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

Berbagai Upacara Adat seperti syukuran panen, doa bersama, ritual adat, penghormatan terhadap leluhur sesuai keyakinan masing-masing, hingga tradisi keagamaan lokal mencerminkan kesadaran spiritual masyarakat bahwa kehidupan merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

Nilai ketuhanan tersebut mengajarkan manusia untuk hidup penuh rasa syukur, menjaga harmoni dengan sesama, dan memelihara alam sebagai amanah Sang Pencipta.

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Adat Istiadat mengajarkan tata krama, sopan santun, penghormatan kepada orang tua, kasih sayang kepada anak-anak, penghargaan terhadap tamu, serta penghormatan terhadap martabat setiap manusia.

2db59098-3ab3-4026-872a-751be9eb7e27.webp

Di berbagai daerah dikenal falsafah saling menghormati, saling mengingatkan, dan saling melindungi. Nilai-nilai inilah yang menjadi landasan kehidupan masyarakat yang beradab.

Masyarakat Mandar di Sulawesi Barat mengenal nilai "Malaqbiq," yakni menjaga kemuliaan, kehormatan, martabat, dan harga diri melalui perilaku yang berakhlak mulia.

Di Sulawesi Selatan, masyarakat Bugis-Makassar memegang teguh prinsip "Sipakatau" (saling memanusiakan), "Sipakainge" (saling mengingatkan dalam kebaikan), dan "Sipakalabbiri" (saling menghormati dan memuliakan sesama). Nilai-nilai ini menjadi fondasi kehidupan sosial yang menjunjung tinggi martabat manusia.

Di Sumatera Barat berkembang nilai-nilai "Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah", yang menunjukkan harmoni antara adat dan ajaran agama sebagai pedoman kehidupan masyarakat. Sementara masyarakat Sunda menghayati prinsip nilai "Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh," yang mengajarkan kasih sayang, pendidikan, dan pembinaan antarsesama.

3. Persatuan Indonesia

Gotong royong, kerja bakti, saling membantu ketika terjadi musibah, membangun rumah bersama, hingga tradisi panen bersama merupakan bukti nyata bahwa persatuan telah menjadi budaya masyarakat Indonesia sejak dahulu.

Keberagaman suku, bahasa, adat istiadat, dan agama tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan yang memperkuat persaudaraan kebangsaan.

Semangat inilah yang kemudian dirumuskan dalam semboyan "Bhinneka Tunggal Ika," berbeda-beda tetapi tetap satu.

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

Musyawarah merupakan denyut kehidupan masyarakat adat.

Berbagai persoalan diselesaikan melalui dialog, rembug bersama, dan permufakatan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Pemilihan Pemimpin Adat, penyelesaian sengketa tanah, pengaturan pemanfaatan sumber daya alam, hingga penetapan Hukum Adat dilaksanakan melalui musyawarah yang mengedepankan kebijaksanaan dan rasa keadilan.

5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Tradisi pembagian hasil panen, pengelolaan hutan adat, pemanfaatan sumber mata air secara bersama, serta semangat berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan mencerminkan nilai keadilan sosial.

Keadilan dalam masyarakat adat bukan sekadar pembagian materi, melainkan keseimbangan antara hak, kewajiban, tanggung jawab, dan kelestarian lingkungan demi kesejahteraan bersama.

Tantangan Modernisasi

Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi digital, globalisasi, dan arus budaya dunia membawa banyak manfaat bagi kemajuan bangsa. Namun, di sisi lain, perubahan tersebut juga menghadirkan tantangan berupa lunturnya nilai-nilai adat, melemahnya etika sosial, serta berkurangnya penghormatan terhadap tradisi lokal.

Apabila nilai-nilai luhur adat semakin ditinggalkan, bangsa Indonesia berisiko kehilangan akar budaya yang selama ini menjadi perekat kehidupan bermasyarakat.

Oleh karena itu, pelestarian Adat Istiadat tidak boleh dipahami sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai investasi peradaban untuk masa depan Indonesia.

Peran Strategis Pemangku Adat dan Kerajaan Nusantara

Pemangku Adat (Pemangku Hadat), Penglisir, Dewan Adat, serta Kerajaan dan Kesultanan di Nusantara memiliki tanggung jawab moral yang sangat besar dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai luhur tersebut.

"Mereka bukan hanya Penjaga Tradisi, tetapi juga Penjaga Karakter Bangsa, Pelestari Budaya, Penengah Sosial, dan Mitra Strategis Pemerintah dalam memperkuat Persatuan Nasional."

Sinergi antara Pemerintah, Lembaga Pendidikan, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Akademisi, Generasi Muda, dan seluruh Elemen Masyarakat menjadi kunci dalam membangun Indonesia yang maju tanpa kehilangan jati dirinya.

8c33d5a3-3828-419e-8574-9486b70b8948.webp

Menjadikan Adat sebagai Pilar Indonesia Emas

Menuju Indonesia Emas 2045, Pembangunan Nasional tidak cukup hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi. Bangsa ini juga memerlukan pembangunan karakter yang berakar pada nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Adat Istiadat merupakan warisan intelektual dan moral yang telah teruji oleh perjalanan sejarah. Nilai-nilai tersebut terbukti mampu menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat yang majemuk.

Ketika Adat, Agama, Budaya, Ilmu Pengetahuan, dan Pancasila berjalan beriringan, maka niscaya Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat secara moral, maju dalam pembangunan, adil dalam pemerintahan, serta bermartabat di tengah pergaulan dunia.

Menjaga Adat bukan berarti menolak kemajuan. Sebaliknya, "Menjaga Adat berarti memastikan setiap langkah kemajuan tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial sebagaimana terkandung dalam Pancasila."

Semoga tulisan ini bermanfaat sebagai bahan edukasi, penguatan karakter kebangsaan, serta menjadi inspirasi bagi Pemerintah, Tokoh Adat, Kerajaan dan Kesultanan, Tokoh Lintas Agama, Kalangan Akademisi, Lintas Generasi, dan seluruh Elemen Bangsa dalam merawat Pancasila melalui pelestarian adat istiadat Nusantara.(*)

Referensi :

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia;

3. Pidato Ir. Soekarno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945;

4. Ketetapan MPR RI Nomor XVIII/MPR/1998 tentang Penegasan Pancasila sebagai Dasar Negara;

5. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan;

6. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia;

7. Naskah Bhinneka Tunggal Ika karya Mpu Tantular dalam Kakawin Sutasoma;

8. Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta;

9. Soepomo. Bab-Bab tentang Hukum Adat. Jakarta: Pradnya Paramita.

Copyright @wartamerdeka.net

Iklan Paket Lamar Kerja
R

Ditulis oleh

Redaktur

Komentar (0)

Tinggalkan komentar. Komentar langsung tampil setelah dikirim.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Terkait

Iklan

Jangan ketinggalan berita

Aktifkan notifikasi untuk kabar terbaru WartaMerdeka langsung di perangkatmu.