WIB
Wartamerdeka Berfikir Merdeka, Bersuara Merdeka
Breaking
• Tayangan perkenalan wartamerdeka.net • Muswil ICMI Jatim secara aklamasi dan mufakat memilih Pitono Adi Nugroho sebagai Ketua Orwil ICMI Jatim untuk periode 2026-2030 • KTT Iklim sepakati pendanaan baru untuk negara berkembang • Martabat Pemimpin Tercermin Pada Titahnya • Tayangan percobaan wartamerdeka.net - Berfikir Merdeka, Bersuara Merdeka • Muswil ICMI Jatim secara aklamasi mufakat memilih Pitono Adi Nugroho sebagai Ketua Orwil ICMI Jatim untuk periode 2026-2030 • Sambut Semarakkan Harkopnas Ke-79, Menkop Gelar Kick Of Bulan Koperasi • BMKG Dorong Pemanfaatan Informasi Iklim, Perkuat Kemandirian Pangan Nasional • "Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya", tema Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) 12 Juli 2026 • Tayangan perkenalan wartamerdeka.net • Muswil ICMI Jatim secara aklamasi dan mufakat memilih Pitono Adi Nugroho sebagai Ketua Orwil ICMI Jatim untuk periode 2026-2030 • KTT Iklim sepakati pendanaan baru untuk negara berkembang • Martabat Pemimpin Tercermin Pada Titahnya • Tayangan percobaan wartamerdeka.net - Berfikir Merdeka, Bersuara Merdeka • Muswil ICMI Jatim secara aklamasi mufakat memilih Pitono Adi Nugroho sebagai Ketua Orwil ICMI Jatim untuk periode 2026-2030 • Sambut Semarakkan Harkopnas Ke-79, Menkop Gelar Kick Of Bulan Koperasi • BMKG Dorong Pemanfaatan Informasi Iklim, Perkuat Kemandirian Pangan Nasional • "Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya", tema Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) 12 Juli 2026
Iklan Leaderboard — Launching
Budaya

Mercusuar Adat Budaya Nusantara untuk Dunia

"Menjadikan Kearifan Lokal sebagai Inspirasi Peradaban Global"

R

Redaktur

Rabu, 08 Juli 2026 · 06:58 WIB · 5 mnt baca

Mercusuar Adat Budaya Nusantara untuk Dunia
Dok: wartamerdeka.net

Oleh: YMT. Sjahrir Bintamsi

Editor: W. Masykar

Iklan Didalam Tulisan

Indonesia dianugerahi kekayaan budaya yang luar biasa. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, terbentang ribuan pulau yang dihuni ratusan kelompok etnis, bahasa daerah, adat istiadat, kesenian, serta kerajaan dan kesultanan yang telah membentuk jati diri bangsa selama berabad-abad. Kekayaan tersebut bukan sekadar warisan sejarah, melainkan modal sosial, modal budaya, dan modal peradaban yang sangat berharga bagi masa depan Indonesia.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan revolusi digital, budaya Nusantara tidak cukup hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu. Budaya harus dihidupkan, dikembangkan, dan diproyeksikan sebagai "Mercusuar Peradaban" yang memancarkan nilai-nilai luhur kepada dunia. Inilah makna strategis dari visi "Mercusuar Adat Budaya Nusantara untuk Dunia."

Visi tersebut berakar kuat pada semboyan bangsa, "Bhinneka Tunggal Ika," yang mengajarkan bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu dalam tujuan bersama. Nilai toleransi, gotong royong, musyawarah, penghormatan terhadap martabat manusia, serta keharmonisan dengan alam merupakan warisan budaya Nusantara yang tetap relevan dalam menjawab berbagai tantangan global.

Sejarah telah membuktikan bahwa wilayah Nusantara merupakan salah satu pusat peradaban dunia. Jalur perdagangan maritim mempertemukan berbagai bangsa dari Asia, Timur Tengah, hingga Eropa. Kerajaan/Kesultanan besar seperti Majapahit, Sriwijaya, Gowa, Ternate, Tidore, Binuang Mandar, dan berbagai Kerajaan serta Kesultanan lainnya menjadi simpul pertukaran ilmu pengetahuan, perdagangan, seni, agama, dan kebudayaan. Warisan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sejak dahulu merupakan ruang dialog peradaban yang terbuka dan damai.

Budaya Nusantara juga tercermin dalam karya seni yang begitu beragam. Tari, musik tradisional, sastra lisan, tenun, batik, ukiran, arsitektur tradisional, kuliner, hingga upacara adat bukan sekadar ekspresi estetika, melainkan mengandung filosofi kehidupan yang mengajarkan keseimbangan antara manusia, Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Nilai-nilai inilah yang menjadi kekuatan diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.

Di sisi lain, keberadaan pusat-pusat edukasi budaya seperti Taman Mini Indonesia Indah memperlihatkan bagaimana keberagaman Indonesia dapat dipelajari dalam satu kawasan yang merepresentasikan kekayaan budaya dari seluruh Nusantara. Lembaga pendidikan, Museum, Sanggar seni, k

Komunitas adat, hingga Keluarga Kerajaan dan Kesultanan memiliki peran strategis dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai budaya kepada generasi penerus.

Memasuki era digital, promosi budaya harus dilakukan secara lebih kreatif dan adaptif. Pemanfaatan media sosial, film dokumenter, platform digital, kecerdasan buatan, realitas virtual, hingga berbagai kanal komunikasi global dapat memperkenalkan adat istiadat, bahasa daerah, kesenian, kuliner, filosofi hidup, dan destinasi wisata budaya Indonesia kepada masyarakat dunia. Digitalisasi bukan hanya menjadi sarana promosi, tetapi juga menjadi instrumen pelestarian warisan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

301e1fd0-1627-48e5-a021-17ff57608942.webp

Selain itu, kolaborasi internasional menjadi langkah penting dalam memperkuat posisi budaya Indonesia di dunia. Nilai-nilai kearifan lokal dapat diintegrasikan dengan agenda pembangunan berkelanjutan, ekonomi kreatif, pelestarian lingkungan, pendidikan multikultural, serta penguatan perdamaian dunia. Banyak komunitas adat di Nusantara telah lama mempraktikkan pengelolaan sumber daya alam yang selaras dengan prinsip keberlanjutan, sehingga pengalamannya dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat global.

Dalam hubungan Pembangunan Nasional, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah perlu terus memperkuat kebijakan yang berpihak pada pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat adat, pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya, perlindungan bahasa daerah, serta penguatan pendidikan karakter yang berakar pada nilai-nilai luhur bangsa. Sinergi antara Pemerintah, Akademisi, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Keluarga Kerajaan dan Kesultanan, Pelaku Seni Budaya, Dunia Usaha, Dunia Industri dan Dunia Kerja (DUDIKA), Media Massa, dan Generasi Nuda akan menjadi fondasi kokoh dalam mewujudkan Indonesia sebagai "Pusat Kebudayaan Dunia."

Pada akhirnya, membangun "Mercusuar Adat Budaya Nusantara untuk Dunia" bukan sekadar menghadirkan pertunjukan seni atau mempromosikan destinasi wisata. Lebih dari itu, ia merupakan "Ikhtiar Kolektif" untuk menghadirkan Indonesia sebagai bangsa yang memberi inspirasi melalui nilai kemanusiaan, persaudaraan, toleransi, keadilan, dan kebijaksanaan. Ketika budaya dijadikan fondasi pembangunan bangsa, Indonesia tidak hanya dikenal karena kekayaan alamnya, tetapi juga dihormati karena keluhuran peradabannya.

Sudah saatnya seluruh elemen bangsa diantaranya Pemerintah, Masyarakat, Tokoh Adat, Tokoh Agama, Kalangan Akademisi, Lintas Generasi, Keluarga Kerajaan dan Kesultanan, Pelaku Seni Budaya, serta Diaspora Indonesia bergandengan tangan menjadikan budaya Nusantara sebagai cahaya yang menerangi perjalanan bangsa sekaligus memberi inspirasi bagi dunia. Sebab, budaya yang terpelihara dengan baik bukan hanya menjaga identitas bangsa, melainkan juga menjadi jembatan perdamaian, persahabatan, dan kemajuan peradaban manusia.

"Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang Menghormati Jasa para Pahlawannya." (Soekarno).

Sejalan dengan semangat tersebut, penghormatan terhadap warisan budaya merupakan bagian dari penghormatan terhadap perjuangan para pendahulu yang telah mewariskan identitas bangsa.

Ki Hadjar Dewantara juga mengingatkan bahwa:

"Kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari pendidikan karena pendidikan adalah usaha memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani agar manusia mencapai kesempurnaan hidup."

Pesan tersebut menegaskan bahwa pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan pendidikan agar nilai-nilai luhur Nusantara terus hidup dari generasi ke generasi.

Semoga tulisan ini menjadi sumbangsih pemikiran yang bermanfaat, memperkaya khazanah budaya bangsa, memperkuat persaudaraan lintas agama, lintas suku, lintas generasi, serta menginspirasi lahirnya Indonesia yang semakin maju, berbudaya, dan bermartabat di mata dunia.

bf54a1c3-a783-4b1d-aec2-722b94003c0a.webp

Sebagaimana pesan luhur bangsa:

"Bhinneka Tunggal Ika — Berbeda-beda tetapi tetap satu."

Semoga semangat tersebut senantiasa menjadi cahaya yang menerangi perjalanan Indonesia menuju peradaban yang damai, adil, makmur, dan berkeadaban.

Referensi:

1. Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan;

3. UNESCO, Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage (2003);

4. Negarakertagama sebagai salah satu sumber sejarah mengenai kejayaan Nusantara;

5. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berasal dari karya Mpu Tantular, Kakawin Sutasoma.

R

Ditulis oleh

Redaktur

Komentar (0)

Tinggalkan komentar. Komentar langsung tampil setelah dikirim.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Terkait

Kerajaan dan Kesultanan Nusantara
Budaya

Kerajaan dan Kesultanan Nusantara

Oleh: YMT. Sjahrir Bintamsi Indonesia bukanlah bangsa yang lahir dari ruang kosong sejarah. Jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikumandangka...

Redaktur 5 mnt baca
Iklan