Tanam Cabai Shiypoon, Agro Bahari Wujudkan “Kerja Nyata Tanpa Katanya”

Tanam Cabai Shiypoon, Agro Bahari Wujudkan "Kerja Nyata Tanpa Katanya"

CILACAP (wartamerdeka) –  Kelompok Tani yang diberi nama Agro Bahari kini tengah mengerjakan tahapan penanaman jenis komoditi unggulan dari tanaman cabai, yaitu cabai Shiypoon. Tanaman tersebut merupakan jenis cabai unggulan untuk memenuhi pangsa pasar baik dalam maupun luar negeri.

Selaku ketua dari Kelompok Tani Agro Bahari, Narko hanya ingin mewujudkan impiannya untuk bisa membuat masyarakat tersenyum dengan jerih payah pertaniannya karena selama ini terombang ambing oleh harga yang tidak stabil.
Diapun ingin mewujudkan slogan” Kerja Nyata Tanpa Katanya” sebagai ungapan jiwa semangat kerja.
Ditemui di lokasi Pertanianya di dusun Cemara, Desa Cibereum, Kecamatan Sukamantri, Ciamis- Jawa Barat, Rabu (25/10/2017), Narko mengatakan,  awal dari dibentuknya Kelompok Tani “Agro Bahari” adalah adanya dorongan untuk meningkatkan hasil pertanian bagi para petani.
“Namun tenaga pendamping sangat minim bahkan dibilang tidak ada. Sehingga kami berinisiatif ingin mewujudkan Kerja Nyata Tanpa Katanya itu dengan mengadakan Demo Floating atau Demflot. Dari situlah banyak rekan yang merespon untuk mewujudkan Demflot tersebut sampai terealisasi, ” katanya.
Narko,  Ketua kelompok tani” Agro Bahari “(kiri)

Hingga saat ini pihaknya sedang mengerjakan area pertanian dari jenis cabai Shiypoon seluas 9 Ha dari total 18 Ha yang akan dikerjakan dari berbagai titik seperti Cilacap Barat, Ciamis, Tasikmalaya, Pangandaran dan Subang.

“Sedangkan target kami adalah 60 Ha yang akan ditanam, ” katanya lagi.
Narko menambahkan,  jenis cabai shiypoon ini nantinya selain untuk pangsa pasar lokal/dalam negeri, juga untuk pangsa pasar luar negeri.
“Dan alhamdulillah kami sudah teken kontrak dengan pihak pembeli (buyer) dari Negara Singapura dan Australia. Karena memang saat ini yang menjadi kendala petani adalah pasar, “ujar Narko.
Hitungan besaran biaya yang dikeluarkan untuk mengolah lahan pertanian seluas satu hektar adalah Rp. 150 Juta.

“Dengan  estimasi jumlah pohon cabai sebanyak 15000 pohon, dengan harga Rp.25000, sesuai kontrak yang sudah kami tanda tangani, maka kami bisa mendapatkan hasil plus minus Rp.750 juta, ” tambahnya.

Dari proses tahapan awal sampai panen cabai Shiypoon memerlukan waktu sekitar tiga sampai empat bulan untuk panen normal.
“Saya optimis banyak para mitra yang tertarik untuk mengolah pertanian dari komoditas ekspor tersebut yaitu Jenis Cabai Shiypoon. Karena hasilnya memang sangat menjanjikan, ” ujarnya.
Narko menegaskan pihaknya  ingin mengajak rekan-rekannya untuk memulai” Kerja Nyata tanpa Katanya”. Sebab masih banyak peluang usaha yang bisa kita kerjakan untuk mewujudkan apa yang menjadi mimpi kita semua.
“Cabai Shiypoon adalah hanya salah satu jenis tanaman yang kami olah, sedangkan permintaan kepada kami masih banyak seperti vegetable atau sayuran,  ada juga permintaan jeruk limo, namun saat ini kami masih konsen pada Jenis Cabai Shiypoon karena terkendala  pada dana,” pungkasnya. (Alek Tarkum)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *