Ketua PKL Dadaha: Kami Besok Pindah Ke Shelter Itu, Karena Terpaksa Bukan Legowo!

Ariska | Senin, 08 Januari 2018 - 19:56 WIB
Ketua PKL Dadaha: Kami Besok Pindah Ke Shelter Itu, Karena Terpaksa Bukan Legowo! Ketua Perhimpunan Pedagang Kali Lima Dadaha (Persada), Ade.

TASIKMALAYA (wartamerdeka) - Rencana besok Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya merelokasi sekitar 143 PKL yang berada di arena Sport Center Dadaha ke shelter,  ternyata mendapat reaksi dingin dari Ketua Perhimpunan Pedagang Kali Lima Dadaha (Persada), Ade.

Pedagang tas itu mengatakan pihaknya sangat terpaksa dengan adanya rencana relokasi tersebut.Serta bukan keinginan dari sejumlah pedagang.Karena itu di paksa oleh Pemkot harus menempati shelter dengan kondisi yang tidak memadai.Bahkan seolah tidak ada lagi kebijakan yang lainnya. 

“Jadi kami itu besok pindah itu karena dipaksa oleh Pemkot.Bukan karena Legowo,"*ujarnya. 

Sebenarnya,  menurut dia, pedagang bukannya tidak mau pindah. "Namun tolong perbaiki dulu kondisi shleter tersebut.Supaya layak digunakan oleh sejumlah pedagang agar nyaman berjualannya,” tambahnya, Senin (8/1/2018).

Ade menuturkan pihaknya terpaksa besok akan mengikuti keinginan Pemkot.Namun kalau seandainya ternyata hasilnya di shelter itu tidak berjalan.Maka sejumlah pedagang dipastikan akan kembali ke tempat semula.Karena ini adalah urusan isi perut.

Sejatinya PKL itu tidak harus disuruh untuk pindah.Mereka akan sendirinya legowo bisa pindah ke shelter,  asalkan tempatnya memadai dan layak untuk ditempati.Karena pihaknya juga ingin bersinergi dengan Pemkot supaya bisa menata di kawasan Dadaha tersebut.

“Keinginan kami itu sebelum ada perbaikan jangan ada relokasi dulu.Padahal dulu kan Pemkot itu berjanji akan membuat sekat dan memperbaiki masalah penerangannya yang perlu ditambah dayanya.Selain itu juga luas lapak sesuai perjanjian ukuran 2,5 m x 3 m,”bebernya.

Namun kata Ade,  justru yang terjadi sekarang itu luas lapak ukurannya hanya 2 m x 1 m.Dengan luas itu terlalu kecil untuk berdagang.Sehingga membuat bingung para PKL mau bagaimana jualan dengan kondisi begitu.Bahkan untuk ditempati oleh roda pun masih kurang.

“Sedangkan PKL itu rata-rata rodanya ada yang ukurannya 3 meter dan 2,5 meter.Sehingga kalau dipaksakan bisa memakan lapak yang lainnya.Sehingga dikuatirkan terjadi gesekan antar pedagang.Selain itu juga shelter itu sering bocor dan daya penerangannya juga tidak memadai,”keluhnya.

 

Menurut Ade, dulu Wakil Walikota itu sudah berjanji akan memperbaiki kebocoran.Terus kalau yang depan itu akan ditambah dengan posisi atap depan menunduk bukan seperti sekarang ke atas.Supaya kalau hujan itu tidak terjadi air hujan masuk ke dalam shelter.

“Namun janji itu sampai sekarang ini hanya retorika belaka saja.Padahal PKL itu sangat menunggu janji Pak Wakil itu.Namun tiba-tiba saja ada surat edaran besok harus pindah ke shelter.Sehingga itu membuat kami terkejut dan merasa heran dan sangat terpaksa harus mengikuti keinginan pemkot,”herannya.

Ade juga menambahkan,  terkait penerangan dayanya sangat kecil hanya sekitar 2000 watt.Tak ayal penerangan itu sangat redup untuk digunakan berjualan.Padahal seharusnya dayanya itu minimal 5000 watt, supaya biar bisa terang.Sehingga dengan kondisi itu harus dipaksakan untuk ditempati.

“Belum lagi terkait untuk keamanan barang milik pedagang yang ada di shelter itu.Terpaksa PKL harus begadang menjaganya.Karena tempat itu terbuka.Kalau barangnya di simpan di roda juga. ya tadi itu ukuran lapaknya sangat kecil.Jadi ini benar-benar di paksakan dengan kondisi yang memprihatinkan,”bebernya.

Pihaknya juga minta kepada Satpol PP agar bisa menjaga standby di arena Sport Center. Agar tidak ada lagi PKL yang baru berjualan di luar shelter.Supaya tidak menimbulkan kecemburuan social dan timbul lagi permasalahan baru.Sehingga semua PKL harus dipusatkan di shelter.