Serba Serbi di Balik Tradisi Imlek

Bai | Sabtu, 10 Februari 2018 - 05:28 WIB
Serba Serbi di Balik Tradisi Imlek

JAKARTA (Wartamerdeka) - Perayaan menyambut Tahun Baru Imlek yang akan hadir sebentar lagi, bagi masyarakat Tionghoa merupakan moment yang sangat dinanti - nantikan.

Di Indonesia kebanyakan Tahun Baru Imlek dirayakan juga sebagai perayaan hari lahirnya Kong Hu Chu yang lahir di tahun 551 SM, sehingga dengan demikian penanggalan Imlek dan penanggalan masehi itu berselisih 551 tahun.

Kata "Imlek" berasal dari dialek Bahasa Hokkian yang berarti "Penanggalan bulan" atau "Yinli" dalam bahasa Mandarin. Tahun Baru Imlek di Tiongkok lebih dikenal dengan sebutan "Chunjie"(perayaan musim semi).

Kegiatan perayaan itu disebut "Guo nian" (memasuki tahun baru), sedang di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan "Kou Nian / Konyan".

Menurut kebanyakan negara di luar Indonesia perayakan tahun baru Imlek dihitung berdasarkan penanggalan Imlek yang dimulai sejak tanggal 8 Maret 2637 SM, sewaktu Kaisar Kuning / Huang Ti ( 2698-2598 SM ) mengeluarkan siklus pertama pada tahun ke-61 masa pemerintahannya.  

Perayaan hari raya Imlek merupakan Hari Raya Tradisi dalam memberikan penghormatan kepada pihak yang lebih tua ataupun kepada orang tua kita sendiri. Hal ini dalam agama apapun itu adalah Wajib Hukum nya untuk memberi penghormatan kepada orang tua atau pun orang yang lebih dituakan, sejauh tidak mengikuti Ritual persembahyangan dengan tata cara agama lain.

Maka tidak perlu khawatir apabila masyarakat non Tionghoa untuk ikut bersama bergembira dan merayakan Tahun Baru Imlek. Sebab tahun baru Imlek sifatnya hanya dirayakan sebagai meneruskan tradisi, adat dan kebudayaan dan tidak ada kaitannya dengan Agama tertentu ( terutama Agama Kong Hu Chu , Tao maupun Budha ).

Ada beberapa tradisi yang masih dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Tionghoa untuk menyambut Tahun Baru Cina ( Imlek ) antara lain :

1. Tradisi Bunga Mei Hua

Di negeri Tiongkok dikenal terdapat 4 musim, yaitu musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Tahun baru Imlek datang bersamaan dengan musim semi, maka dulu dikenal dengan istilah Festival Musim Semi (Kuo Chun Ciek).

Festival ini berlangsung sangat meriah dan pernah dijadikan agenda tahunan oleh pemerintah Cina.
Bunga Mei Hwa adalah pertanda datangnya musim semi. Itulah sebabnya terdapat tradisi di masyarakat Tionghoa menggunakan bunga ini sebagai hiasan di rumah ketika Imlek tiba, sehingga terkesan suasana yang sejuk, nyaman dan indah. Tidak ada makna spiritual dalam kehadiran bunga Mei Hwa tersebut.

2.Tradisi Saji Jeruk Kuning, Apel Dan Pear

Buah jeruk kuning yang disajikan setiap hari raya Imlek mempunyai kisah dan makna tersendiri. Buah jeruk biasanya diletakkan di atas meja ruang tamu. Buah yang dipilih terutama yang sepasang atau lebih, terutama yang memiliki daun di dekat buahnya.

Jeruk tersebut ditempeli kertas merah dan juga disajikan di meja altar dekat tempat sembahyang sampai hari Cap Go Meh.
Kata "jeruk" dalam bahasa Tionghoa bunyinya hampir sama dengan "Da Ji", sedangkan arti kata dari "Da Ji" itu sendiri berarti besar rejeki.

Sedangkan untuk buah "Apel"(pin guo)mempunyai arti "Ping Ping An An" sama artinya dengan "Da Li" yang berarti besar kesehatannya dan keselamatannya dan untuk buah Pear melambangkan kebahagian yang atinya "Sun Sun Li Li". Oleh sebab itu ketiga macam buah ini selalu menghiasi meja sembahyangan yang mengartikan "Da Ji Da Li Sun Sun Li Li" = "Besar rejeki, besar kesehatan & keselamatannya dan besar pula kebahagiaannya".

3.Tradisi Kue Keranjang

Salah satu kue khas perayaan tahun baru Imlek adalah kue keranjang. Menurut kepercayaan zaman dahulu, rakyat Tiongkok percaya bahwa anglo dalam dapur di setiap rumah didiami oleh Dewa Tungku, dewa yang dikirim oleh Yik Huang Shang Ti (Raja Surga) untuk mengawasi setiap rumah dalam menyediakan masakan setiap hari.

Setiap tanggal 24 bulan 12 Imlek (enam hari sebelum pergantian tahun), Dewa Tungku akan pulang ke Surga untuk melaporkan tugasnya. Maka untuk menghindarkan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi rakyat, timbullah gagasan untuk menyediakan hidangan yang menyenangkan Dewa Tungku. Seluruh warga kemudian menyediakan dodol manis yang disajikan dalam keranjang, disebut Kue Keranjang. 

Kue Keranjang berbentuk bulat, mengandung makna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang. Kue Keranjang disajikan di depan altar atau di dekat tempat sembahyang di rumah.

4.Tradisi Mercon, Kembang Api Dan Lampion Merah

Menurut legenda pada zaman dahulu setiap akhir tahun muncul sejenis binatang buas yang bernama Nian yang memangsa apa saja yang dijumpainya. Binatang ini muncul tepat pada saat menjelang tahun baru Imlek. Nian ini lama kelamaan menjadi berarti Tahun (Nian) dan di dalam penanggalan Imlek dilambangkan dengan 12 jenis binatang yang dikenal dengan shio-shio Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, Babi, Tikus, Kerbau, Macan dan Kelinci. Untuk menjaga diri dari serangan Nian Show, menjelang tahun baru, semua pintu dan jendela di pemukiman penduduk ditutup rapat hingga hari maut itu berlalu. Masing-masing keluarga berkumpul di rumah.

Setelah beberapa tahun ternyata Nian tersebut tidak lagi muncul pada tahun baru Imlek. Hal ini membuat kecemasan masyarakat hilang dan tahun baru dirayakan dengan leluasa.

Sampai akhirnya pada suatu tahun makhluk ini kembali muncul dan membuat kekacauan. Beberapa rumah penduduk ternyata terhindar dari serangan.

Konon hal ini dikarenakan Nian Show takut pada benda-benda yang berwarna merah, juga pada mercon.

Sejak itu setiap akhir tahun masyarakat Tionghoa menggantung kain, lampion dan kertas merah di rumah-rumah dengan dilengkapi puisi-puisi indah dalam tulisan, serta memasang mercon dan kembang api untuk mengusir makhluk Nian Show yang berupa hawa jahat.

5.Tradisi Barongsai dan Naga (Liong).

Huang Kun Zhang, seorang guru besar Universitas Jinan menyebutkan, Barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari Raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi.Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan.

Ternyata upaya itu berjalan sukses hingga akhirnya tarian barongsai pun melegenda hingga kini. Kesenian barongsai diperkirakan masuk di Indonesia pada abad-17, ketika terjadi migrasi besar dari Cina Selatan.

Di Tiongko,  kesenian Barongsai dikenal dengan nama LUNGWU, namun khusus untuk menyebut tarian Singa. Tarian Naga disebut SHIWU dalam bahasa Mandarin. Sebutan Barongsai bukan berasal dari Cina, kemungkinan kata Barong diambil dari bahasa Melayu yang mirip dengan konsep kesenian Barong Jawa,sedangkan kata Sai bermakna Singa dalam dialek Hokkian.

Konon Naga adalah binatang lambang kesuburan atau pembawa berkah. Binatang mitologi ini selalu digambarkan memiliki kepala singa, bertaring serigala dan bertanduk menjangan. Tubuhnya panjang seperti ular dengan sisik ikan, tetapi memiliki cakar mirip elang. Sedangkan singa dalam masyarakat Cina merupakan simbol penolak bala.

Maka tarian barongsai dianggap mendatangkan kebaikan, kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan.

Tarian barongsai dilengkapi replika Naga (Liong), Singa dan Qilin (binatang bertanduk). Tetapi tidak semua perkumpulan memainkannya. Kebanyakan hanya berupa kepala singa saja.Alasannya tarian Singa dianggap lebih mudah dan praktis dibawakan karena lokasi yang digunakan tidak perlu luas.

Atraksi topeng Singa hanya membutuhkan dua orang pemain.Seni bela diri menjadi kunci permainan ini sehingga banyak pemainnya berasal dari perguruan kungfu atau wushu. Gerakannya berciri akrobatik seperti salto,meloncat atau berguling. Tarian Barongsai biasanya diiringi musik tambur, gong,dan cymbal.

6.Tradisi Angpao

Konon Angpao ini bukan hanya sekedar dapat membawa keberuntungan saja, bahkan dapat melindungi anak-anak dari roh jahat. Sebab uang (Qian) secara harfiah berarti dapat "menekan kekuatan jahat" atau "Ya Sui Qian", masalahnya ada roh jahat yang bernama Sui; yang selalu hadir setahun sekali untuk mengganggu anak-anak kecil, maka dari itu di usulkan sebagai penangkal roh tersebut sebaiknya ditaruh koin yang dibungkus dengan kertas merah sebagai tumbal dibawah bantalnya mereka. Maklum unsur api yang membakar pada warna merah dapat melindungi dari pengaruh jahat.