Krisis Politik Melanda AS dan Israel

Kaira Saqila | Minggu, 18 Februari 2018 - 06:07 WIB
Krisis Politik Melanda AS dan Israel

Oleh Dasman Djamaluddin

Inilah foto yang diambil dari "Voanews.com," yang menggambarkan keakraban Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu.

Sejauh ini, meski awalnya Uni Soviet (sekarang Rusia) yang membantu dan mendukung penuh kemerdekaan Israel, tetapi sekarang keakraban itu beralih ke AS. Secara bersamaan dua negara ini dilanda krisis politik yang suatu waktu akan menyeret kedua pemimpin AS dan Israel ke kepercayaan rakyatnya sendiri terhadap pemimpin mereka.

Di AS,  13 warga Rusia sedang didakwa terlibat ikut campur dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2016 di Amerika Serikat. Kelompok ini diduga berasosiasi membantu kampanye Donald Trump, itulah menurut keterangan Jaksa Khusus Robert Mueller, pada Jumat,  16 Februari 2018.

Bukan tidak mungkin, nama Trump ikut terseret di dalamnya, sesuai pernyataan Hillary Clinton (Capres yang kalah), bahwa kemenangan Trump didukung oleh Rusia.

Sejauh ini, perkembangan penyelidikan FBI,  tiga di antara warga Rusia tersebut telah dituduh berkonspirasi untuk melakukan penipuan finansial via telekomunikasi dan lima orang telah dituduh melakukan pencurian identitas. 

Itu menurut penyelidikan AS, yang ingin menuding Rusia melakukan sebuah kesalahan. Tetapi rakyat AS sudah tentu memakluminya dan mempetanyakan, bukankah anak Trump pernah menulis sesuatu kepada Presiden Rusia Vladimir Putin sebelum Trump berhasil jadi presiden?

Sangatlah wajar di dalam politik, Mueller menuduh operasi Rusia ini mengupayakan untuk “berkomunikasi secara tak sengaja dengan individu yang berasosiasi dengan kampanye Trump”. Anehnya, dakwaan ini tak menyinggung pertanyaan apakah ada keterlibatan dari tim kampanye Trump yang diduga turut terlibat?

Selain itu, tiga perusahaan Rusia juga disebutkan dalam surat dakwaan setebal 37 halaman tersebut.

Salah satu perusahaan yang disebutkan dalam surat dakwaan adalah Internet Research Agency. Perusahaan yang berbasis di St Petersburg itu dituding "memiliki tujuan strategis untuk menyebarkan perpecahan dalam sistem politik AS, termasuk pemilihan presiden AS 2016".

Menurut keterangan Wakil Jaksa Agung AS, Rod Rosenstein, tidak ada tuduhan bahwa orang Amerika terlibat dalam “aktivitas ilegal ini” yang berakibat pada berubahnya hasil pemilihan presiden pada 2016 tersebut. Rosenstein menegaskan dakwaan ini tak berarti bahwa aktivitas operasi Rusia ini memiliki efek untuk mengubah hasil pemilu. 

Memang hasil pemilihan Presiden AS waktu itu,  kita lihat mengarah kepada kemenangan Capres Hillary Clinton, tetapi berubah secepat mengarah ke kemenangan Trump. Waktu itu muncul tuduhan bahwa Rusia ikut intervensi memboikot internet Hillary.

Juga dijelaskan dalam dakwaan tersebut bahwa  sekelompok warga Rusia menyamar sebagai warga AS dan membuka rekening atas nama mereka. Dakwaan ini juga menyebutkan mereka menghabiskan ribuan dolar AS dalam waktu satu bulan untuk membeli iklan politik.

Kelompok ini juga dituduh telah membeli ruang server AS demi menyembunyikan afiliasi mereka terhadap Rusia. Aktivitas mereka mengorganisasikan sejumlah aksi politik di AS termasuk mengirim pesan politik di akun media sosial layaknya warga AS.

Bentuk keterlibatan lain kelompok ini ditengarai mempromosikan kampanye yang menjelek-jelekkan Hillary Clinton sebagai kandidat presiden saat itu.

Selain itu, dalam surat dakwaan dikatakan mereka yang terlibat secara sistematis mengukur seberapa efektif unggahan internet itu untuk disesuaikan dengan strategi mereka.

Trump dan Gedung Putih membantah tudingan Rosenstein dan menegaskan bahwa tidak ada praktik kolusi dalam kampanyenya dan hal itu tak mempengaruhi hasil Pilpres.

Pihak Rusia telah berulang kali menolak tuduhan mencampuri pemilihan presiden AS. 

Mungkin karena masalah ini masuk ke dalam wilayah politik di AS, sebaiknya hasil pertarungan Trump dengan lawan politik dari Demokrat, kita tunggu saja.

Tidak jauh berbeda dengan di AS, di Israel terjadi pula krisis politik yang melibatkan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu dan isterinya Sara Netanyahu.

Banyak tuduhan yang dilontarkan kepada Netanyahu, di antaranya kasus yang disebut "Kasus 2000." Dalam hal ini Netanyahu dituduh memberi perlakuan khusus kepada editor surat kabar terlaris dan terkenal di Israel, "Israel Yediot Aharonot." Selintas saya berpikir, di dunia internet sekarang ini, media cetak masih berpengaruh. Netanyahu meminta agar surat kabar itu memuat hal-hal positip tentang dirinya.

Sebagai imbalannya, Netanyahu akan menggunakan pengaruh kekuasaannya untuk melemahkan surat kabar saingannya, yaitu "Israel Hayom," melalui berbagai cara, boleh jadi aturan-aturan yang dikeluarkan.

 Itu baru satu kasus. Ada lagi yang dinamakan "Kasus 1000," di mana Benjamin menerima hadiah mewah dari Miliarder Israel dan Produser Hollywood.

Tentang isteri Benjamin Netanyahu, Sara Netanyahu. Di Israel itu ada anggaran senilai 359.000 shekel (mata uang Israel), kira-kira Rp.1,3 miliar untuk pejabat yang tidak memiliki asisten rumah tangga. Isteri Netanyahu mengambil dana ini, sementara ia sudah tentu sebagai isteri perdana menteri memiliki asisten rumah tangga.

Dalam minggu ke depan kedua kasus di dalam negeri AS dengan mengangkat kasus AS-Rusia dan di Israel dengan tuduhan korupsi, kita ikuti bersama-sama bagaimana akhirnya.