Di Balik Penahanan Mantan Presiden Iran Ahmadinejad

Dasman | Senin, 08 Januari 2018 - 05:16 WIB
Di Balik Penahanan Mantan Presiden Iran Ahmadinejad

Oleh Dasman Djamaluddin

LAPORAN terakhir dari Iran mengatakan bahwa mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad memperoleh status tahanan rumah. Ini berarti aksi demo besar-besaran di berbagai kota di Republik Islam Iran baru-baru ini bukanlah didasarkan atas intervensi Amerika Serikat dan Israel yang pernah diisyaratkan Gedung Putih baru-baru ini.

Sebelumnya Gedung Putih menyatakan kepada Palestina mengenai  upaya perundingan perdamaian Palestina-Israel yang dikaitkan dengan penolakan terhadap Jerusalem sebagai ibukota Israel. Entah mengapa terlontar kalimat bahwa Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran, jika Palestina mau melakukan perundingan perdamaian dengan Israel. Tetapi bagaimana pun, Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence di twitternya mendukung aksi demo di Iran. Bahkan mengeluarkan kalimat yang sulit diterjemahkan, "kami tidak mengecewakan mereka."

Demo di Iran 

Sebagaimana diketahui Amerika Serikat di dalam melakukan invasinya ke sebuah negara selalu menggunakan pihak opisisi. Hanya di Suriah tidak berhasil karena pemerintahan Bashar al-Assad didukung Rusia. Di Turki terjadi juga kudeta tidak berhasil, tetapi siapa yang menjadi dalangnya.

Sebenarnya aksi demo di Iran ini juga masih tanda tanya. Apakah benar Ahmadinejad yang sudah ditahan rumah itu benar-benar murni ia yang menggelorakan aksi demo atau ada keterlibatan Agen Intelijen Amerika Serikat (CIA) di balik kemelut ini? Yang jelas berkaitan dengan dunia intelijen akan sulit membuktikannya.

Mahmoud Ahmadinejad memperoleh tahanan rumah karena pernyataannya tentang tingginya harga. Ini merupakan demo terbesar, sama halnya dengan demo "Gerakan Hijau," yang terjadi tahun 2009. Pernyataan itu keluar dari Presiden Iran sekarang ini, Hassan Rouhani. Demo 30 Desember 2017 tersebut memakan korban tewas 12 orang. Demo itu berhasil ditanggulangi, sebaliknya pemerintah Iran mendorong aksi demo tandingan.

Jika memang Presiden Iran mengkaitkan pernah terjadi aksi demo tahun 2009, hal itu berarti mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad telah lama menjadi sasaran utama dari para pendukung Imam Khomeini yang disebut sebagai pendiri Republik Islam Iran.

Pada tahun 2009 terjadi juga kerusuhan di Iran. Hal ini lebih dikarenakan persaingan dalam pemilihan presiden Iran. Husain Mousavi, orang dekat Imam Khomeini, waktu bersaing ketat dalam pemilihan umum. Ahmadinejad dinyatakan pemenang. Lawan-lawannya menuding Ahmadinejad curang dalam pemilu. Terjadi unjuk rasa terbesar sejak Revolusi Iran.

Revolusi Islam Iran melahirkan Republik Islam teokratis dan mengakhiri dinasti Shah Reza Pahlevi, sejaligus mengakhiri pemerintahan monarkhi di Iran sejak tahun 1906. Revolusi ini sering disejajarkan dengan "revolusi besar ketiga," dalam sejarah, setelah Perancis dan Revolusi Bolshevik. Memang masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Pertanyaan lain, masih berkeinginankah Amerika Serikat melihat masa jayanya di Iran dalam mendukung pemerintahan Reza Pahlevi?