Ketika Mahasiswa FISIP UB Malang Itu Meneliti tentang B.M.Diah

Ar | Rabu, 21 Februari 2018 - 05:10 WIB
Ketika Mahasiswa FISIP UB Malang Itu Meneliti tentang B.M.Diah

Oleh Dasman Djamaluddin

Ketika beberapa mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Bagian Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya (UB), Malang itu ingin bertemu dengan saya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok, hari Selasa, 20 Februari 2018, sudah tentu saya menyambutnya dengan baik. Apalagi mereka ingin mengadakan penelitian tentang tokoh pers Indonesia Burhanudin Mohamad Diah (B.M Diah).

Mereka menganggap saya lebih mengenal B.M. Diah, karena setahun lebih, saya berdialog dan bertatap muka langsung dalam rangka menulis buku: "Butir-butir Padi B.M. Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992). 

Para mahasiswa ini sedang melaksanakan metoda performance research. FiSIP UB, khususnya mahasiswa Ilmu Komunikasi mulai melaksanakan metoda tersebut. Output nya nanti boleh apa saja. Tujuan akhirnya adalah mengenalkan kepada masyarakat tentang penelitian, bisa berbentuk film atau bisa melalui foto-foto.

Sebagaimana kita ketahui, setiap tanggal 17 Agustus m, nama B.M. Diah tidak dapat dilupakan oleh bangsa Indonesia.

B.M. Diah hadir pada malam tanggal 17 Agustus 1945 di rumah Laksamana Muda Maeda. Menurut B.M. Diah dalam buku yang saya tulis: "Butir butir Padi BM Diah (Jakarta:Pustaka Merdeka, 1992)," halaman 52, Maeda mengetahui betul keadaan sesungguhnya dari tentara Dai Nippon, begitu pula angkatan lautnya. Oleh karena itulah ia bersedia menyediakan rumahnya (sekarang Museum Perumusan Naskah Proklamasi) di Jalan Imam Bonjol no.1, Jakarta, untuk dipakai sebagai ruang pertemuan bagi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Mengapa dikatakan dianggap penting? Pertama, menurut sumber dari buku-buku Bung Hatta, hanya ada enam orang, termasuk B.M. Diah yang duduk bersama-sama Ir.Soekarno, Drs Mohd Hatta, Mr Ahmad Subardjo, Sayuti Melik dan Sudiro di dalam ruang tamu rumah Maeda pada malam 17 Agustus 1945.

Kedua, dimungkinkan karena kedekatan Ahmad Subardjo, paman isteri B.M. Diah, Herawati Diah kepada kedua tokoh proklamator itu. Hal ini terlihat ketika B.M. Diah melangsungkan pernikahan dengan Herawati,  proklamator ini hadir karena diundang Ahmad Subardjo.

Faktor lain, B.M. Diah adalah wartawan, sehingga para tokoh itu perlu sekali akan informasi terbaru tentang kekalahan Jepang.

Setelah Bung Karno, Hatta dan Ahmad Subardjo berdiskusi tentang konsep naskah Proklamasi, maka dilakukan pengoreksian. Ada beberapa perkataan yang dicoret. Kata "pemindahan" diganti "penyerahan." Pada waktu ini terjadi diskusi lagi. Akhirnya kata "pemindahan" yang dipakai.

Juga kata "dioesahakan," diganti dengan "diselenggarakan."Pergantian kata-kata ini menghapus kesan bahwa Proklamasi tersebut seakan akan dipaksakan.

Ada yang menarik mengenai konsep asli naskah Proklamasi tulisan tangan Bung Karno dengan pinsil hitam yang ditandatangani bersama Bung Hatta. 

Setelah diketik Sayuti Melik, konsep tulisan tangan ini dibuang saja di lantai. B.M. Diah yang sejak awal ikut menyaksikan pengetikan di sebuah ruang kecil di bawah tangga kediaman Laksamana Maeda, lalu memungutnya, disimpan di saku. Bertahun tahun dijadikan arsip pribadi.

Memang ada pertanyaan di mana disimpannya waktu itu? Di kantornya Harian Merdeka atau di rumahnya B.M. Diah ?

Yang jelas, teks asli itu sudah dibingkai ketika pada tanggal 19 Mei 1992, konsep asli tulisan tangan Bung Karno ini diserahkan B.M. Diah kepada Presiden Soeharto di Bina Graha. Ikut menyaksikan Mensekneg Moerdiono dan Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Tjokropranolo.

Sekarang ini, para generasi muda yang berkunjung ke Museum Perumusan Naskah Proklamasi, dapat juga menyaksikan patung Sayuti Melik sedang mengetik naskah Proklamasi yang disaksikan oleh B.M. Diah. Patung ini diresmikan pada tanggal 15 Agustus 2005 dan saya waktu itu  diundang menyaksikan peresmiannya.

Pada tahun 2015 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Museum Perumusan Naskah Proklamasi,  juga menerbitkan buku komik B.M. Diah. Di dalam penulisan, saya diminta sebagai nara sumber.

Jika ada yang bertanya apakah B.M. Diah seorang pemberani ? Saya dengan tegas mengatakan 'ya.' Bukan hanya itu saja. Pengambilalihan gedung dari milik Jepang pun sebuah keberanian seorang B.M. Diah.

B.M. Diah juga adalah tokoh Pers. Pada 1 Oktober 1945, putera Aceh itu mendirikan surat kabar "Merdeka," berwarna merah darah. Warna itu menunjukkan suatu keberanian untuk berfikir merdeka, bersuara merdeka dan hak manusia merdeka. Ketika ada yang bertanya, kenapa harian "Merdeka," bisa bertahan hingga B.M.Diah meninggal dunia? Saya menjawabnya, karena surat kabar ini di masa itu memiliki garis politik yang jelas.

Surat kabar "Merdeka," pernah berkembang, meski surut kembali. Ia memiliki anak perusahaan, seperti terbitnya Majalah "Topik," di mana saya Redaktur Pelaksana terakhirnya, Majalah "Keluarga," surat kabar berbahasa Inggris, "Indonesian Observer," dan "Mingguan Merdeka."

B.M.Diah pernah juga menjadi Menteri Penerangan RI, sebelumnya pernah menjadi duta besar. Ia mengaggap pertemuannya dengan pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev di Kremlin dianggapnya sebagai "Mahkota sebagai Wartawan."