Melirik Potensi Wisata Spiritual di Karimun

Bai | Minggu, 11 Februari 2018 - 06:03 WIB
 Melirik Potensi Wisata Spiritual di Karimun

KARIMUN (wartamerdeka) - Wisata spiritual merupakan trend baru di dunia pariwisata yang kecenderungannya terus meningkat. Jenis wisata ini kini dianggap yang paling berkualitas dan sangat potensial untuk dikembangkan. 

Dikatakan berkualitas karena jenis wisata ini dalam praktiknya sangat menghargai tradisi budaya lokal, mencintai alam dan lingkungan, serta sebagian besar turisnya berasal dari kalangan yang berpendidikan.

Objek wisata ini bukanlah mendiskusikan agama semata. Kecenderungannya justru orang lebih melirik berbicara spiritual. Para wisatawan dewasa ini telah melirik nilai-nilai historis, praktik sosial budaya masyarakat tradisional yang toleran dan ramah lingkungan, dan nilai-nilai spiritual yang penuh kedamaian sebagai objek wisatanya.

Wisata spiritual merupakan salah satu opsi rekreasi kejiwaan yang bisa dilakukan oleh masyarakat urban. Terutama Young Adult ibukota yang kegiatan sehari-harinya dipadati dengan begitu banyak aktivitas. Selain menunaikan hasrat untuk berjalan-jalan, kegiatan wisata spiritual juga dianggap sebagai bentuk ibadah sehingga pengalaman yang didapat tidak bisa disamakan dengan perjalanan menuju objek wisata biasa.

Salah satu tempat yang menarik untuk kunjungan wisata spiritual adalah Kabupaten Karimun Kepulauan Riau. Kabupaten Karimun merupakan kabupaten terluar yang berbatas langsung dengan negara Singapura dan Malaysia.

Di Kabupaten Karimun terdapat beberapa objek wisata spritual yang patut dikunjungi, salah satu  diantaranya adalah Masjid Al Mubaraq. Masjid Al Mubaraq terletak di Kelurahan Meral, Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Masjid yang memiliki luas tanah 3.600 m2 dan luas bangunan masjid 242 m2, berada diposisi yang tidak jauh dari pusat kota Karimun, tepatnya di pinggir pantai. 

Bagi warga tempatan, masjid ini merupakan barang peninggalan sejarah Melayu yang sangat berharga. Betapa tidak, masjid kokoh dengan arsitek unik dan bernilai tinggi pada masa abad ke-17 ini, dibangun oleh Raja Abdullah Bin Raja Ahmad Engku Tuah cucu dari Raja Haji Fisabillilah. Dari catatan sejarah, Masjid Al-Mubaraq dibangun pada tahun 1873 Masehi, bercorak Arab, China dan India. Masjid ini merupakan Masjid pertama di Pulau Karimun dan tertua ketiga setelah Masjid Raja Abdul Rani di Pulau Buru.

Di depan Masjid Al-Mubaraq dulunya merupakan pelabuhan pertama di Karimun, tempat kapal para saudagar dari Arab, China dan India singgah dan mengumpulkan rempah-rempah. Dan para saudagar inilah yang mengembangkan syiar agama Islam dan membangun masjid.

Masjid ini selain dijadikan sebagai pusat pengembangan dan menjalankan syiar Islam, juga merupakan pusat pemerintahan dan perdagangan. Namun sejalan dengan perkembangan zaman, pusat perdagangan sudah menyebar di seluruh wilayah Kepulauan Riau.

Masjid Al-Mubaraq dibangun dengan bahan yang unik. Bangunan Masjid itu tidak dibangun dengan bahan material bangunan seperti masa sekarang. Tapi dibangun dengan campuran tanah liat dengan putih telur. Sama dengan bahan pembangunan Masjid Raya Sultan Riau, di Pulau Penyengat. 

Hingga sekarang yang masih asli adalah dinding masjid, sementara menara dan mimbar disesuaikan dengan bentuk aslinya.

Dinding luar Masjid Al Mubaroq sengaja dicat kuning melambangkan kesejahteraan rakyat semasa pemerintahan raja, sedangkan dinding dalam dicat hijau melambangkan kemakmuran. Dan Masjid ini telah mengalami beberapa kali pemugaran, pemugaran pertama dilakukan pada tahun 1930-an pada masa Raja Usman, saat itu Karimun sudah dimasukin Penjajahan Belanda.