Terkait Soal Jual Beli Kursi Penerimaan Siswa Baru, Ini Klarifikasi Panitia PPDB SMA Negeri 1 Purwakarta

A Budiman | Minggu, 08 Juli 2018 - 10:22 WIB
Terkait Soal Jual Beli Kursi Penerimaan Siswa Baru, Ini Klarifikasi Panitia PPDB SMA Negeri 1 Purwakarta

PURWAKARTA (wartamerdeka.net) - Terkait, pemberitaan yang seolah olah telah terjadi manipulasi dan kecurangan serta jualbeli kursi untuk siswa siswi yang mendaftar di jalur Non Akademis di Smansa, Panitia Pendaftaran Penerimaan Siswa Baru Tahun 2018 SMA Negeri 1 Purwakarta merasa perlu mengklarifikasi untuk meluruskan pemberitaan tersebut.

Menurut pihak panitia, tuduhan itu semuanya tidak benar dan tidak berdasar.

Isu yang membuat polemik itu akibat kurang pahamnya Orang Tua Pendaftar tentang aturan sistem Penerimaan peserta didik baru yang masuk SMA , SMK pada Tahun 2018, juga masih adanya anggapan masyarakat terutama orang Tua Siswa Siswi yang memaksakan naknya harus bisa masuk ke sekolah SMA favorit seperti yang terjadi di Smansa ini.

Padahal dengan sistem yang dibangun pemerintah yang dituangkan dalam Pergub yang mengatur  juklak juknis PPDB demi kesetaraan, tidak ada yang namanya sekolah favorit.

Ketua Panitia PPDB SMA Negeri 1 Purwakarta Lilis Yani S. Spd.Mpd kepada wartamerdeka.net, Sabtu (7 / 7 / 2018) mengungkapkan, bagaimana bisa menjual belikan kursi dengan sistem sekarang ini apalagi mengubah dan menggeser-geser siswa sesuai keinginan panitia.

"Sekarang ini sistem secara otomatis akan memasukkan data siswa pada jalur pendaftaran yang diinginkan sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku sampai memenuhi batas kuota dan apabila terdapat kuota yang kosong sistem juga secara otomatis akan memasukkan siswa pada jalur tersebut  untuk memenuhi kuota yang di ajukan sekolah tanpa bisa merubah jumlah kuoata, " ungkap Lilis.

Lebih jauh lilis mengatakan, untuk Smansa, mengajukan 187 siswa untuk Jalur KET, WPS, PMG, ABK, dan Prestasi maka jumlah tersebut harus terisi sesuai dengan kuota yang diajukan dan persentase masing-masing jalur.

Dan apabila salah satu jalur melebihi kuota dan jalur yang lain kurang dari kuota maka sistem secara otomatis akan memasukkan kelebihan kuota pada yang kurang, sehingga bagi orang yang tidak paham dengan sistem ini akan menduga adanya permainan  dan geser menggeser siswa dalam penerimaan peserta didik baru di Smansa.

"Makanya kalau mau bikin berita harus konfirmasi dulu jangan katanya atau kata orang yang tidak diterima di Smansa" tegas Lilis.
 
Sementara Ketua komite SMA Negeri 1 Purwakarta Dulnasir SH.MH mengatakan, kalaupun ada tuduhan berkas data admistrasi untuk syarat pendaftaran di jalur tertentu ada yang diragukan lantas jangan serta merta menyalahkan pihak sekolah.

"Karena yang berhak menjastis asli tidaknya adalah pihak institusi terkait dan pihak yang mengeluarkan Sertifikat atau apapun itu namanya. Sekolah hanya menerima berkas sesuai dengan jalur yang dituju dan memverifikasi kelengkapannya tidak untuk memverifikasi keasliannya, " tegas Dulnasir pengacara kondang di Purwakarta.