Catat Sederet Prestasi, Dokter Muda Ini Raih Penghargaan Lembaga Independen

DANS | Sabtu, 16 Juni 2018 - 12:07 WIB
Catat Sederet Prestasi, Dokter Muda Ini Raih Penghargaan Lembaga Independen Foto: dr. Makson Parulian Purba (kanan) saat terima penghargaan di Hotel Lumire, Jakarta

JAKARTA (wartamerdeka.net) -Catat sederet prestasi, dr. Makson Parulian Purba, MARS, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sekayu, Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan raih penghargaan lembaga apresiasi independen.

Penghargaan Indonesian Figure Executive & Professional Achievement Award 2018 dianugerahkan Lembaga Citra Prestasi Anak Bangsa (CPAB) dibawah naungan Yayasan Citra Prestasi Anak Bangsa (YCPAB).

Acara penganugerahan berlangsung pada Inauguration Night, dua lembaga apresiasi prestasi, Jumat, di Hotel Lumire, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Penghargaan berupa piala dan pigura diserahkan oleh Danny PH Siagian, SE., MBA., MM, Chairman Lembaga Anugerah Prestasi Insani (YAPI), mewakili Ketua Dewan Pembina Lembaga Citra Prestasi Anak Bangsa, Prof. Dr. Djumarno, MA yang sedang keluar kota. 

Bersama dr. Makson Parulian Purba, beberapa tokoh lainnya dari berbagai penjuru Nusantara juga turut menerima penghargaan dengan kategori penghargaan berbeda, antara lain: Walikota Bau-bau (Sultra); Bupati Halmahera Barat (Malut); Direktur PD Pasar Manado (Sulut); Dirut PAM daerah Gunung Mas (Kalbar); Ketua DPD KNPI Papua Barat dan lainnya. 

Berbincang dengan awak media Jakarta usai menerima penghargaan, dokter Makson Parulian Purba menceritakan, sejak lulus dari Jakarta, dirinya langsung ditempatkan di Musi Banyuasin sebagai dokter PTT. Namun sebelumnya, dokter lulusan Universitas Indonesia (UI) ini telah menyelesaikan studi S-1 (1996) dan Pasca Sarjananya di UI juga (1998).

Selama 3 (tiga) tahun bertugas sebagai dokter PTT di Puskesmas, dokter muda ini berkarya, dan meraih predikat Dokter Teladan tingkat kabupaten, bahkan hingga tingkat provinsi. Setelah selesai PTT, dia memilih jalur PNS waktu itu.

Mengawali karirnya sebagai Kepala Puskesmas Ngulak dari tahun 1999 hingga 2005, berlanjut menjadi Kepala Seksi Pelayanan Medis (Yanmed) di RSUD Sekayu dari 2005-2007. Kemudian menjadi Kepala TU RSUD Sekayu dari 2007-2009. 

Hebatnya, pada periode yang sama (2007-2009) dokter Makson dipercaya sebagai Plt. Direktur RSUD Sekayu. Berbagai pembenahan ia lakukan, dari mulai memotivasi SDM hingga meningkatkan kualitas pelayanan pelayanan medis, dan peralatan kesehatan.

Namun ketika terjadi pergantian pimpinan daerah waktu itu, dokter berprestasi ini mengalami rotasi ke beberapa tempat, antara lain sebagai Kabid BKBPP (2009); Kabid Pelayanan Keluarga Berencana 2009-2010, hingga staf Dinas Kesehatan Muba 2010-2017. 

Selain berdinas, dia berhasil membangun klinik dengan cara memberdayakan potensi masyarakat, kendati pembangunan fisik kliniknya secara bertahap selesai hingga 4 (empat) tahun kemudian. Masyarakat sekitar juga tentu mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih mudah dan dekat dengan hunian mereka.

Seiring pergantian Kepala Daerah, sejak tahun 2017 lalu, dokter Makson kembali dipercaya menjabat sebagai Direktur RS Sekayu, dimana sebelumnya dia pernah menjabat sebagai Plt Direktur. Merasa RS tersebut mengalami kemunduran, dia memacu perkembangan dalam setahun terakhir, hingga mendapat peringkat Kelas B dari yang sebelumnya peringkat Kelas C di tingkat kabupaten.

Dalam catatan prestasinya selama 18 tahun berdinas (1999-sekarang) dia membeberkan rekam jejaknya antara lain: Sebagai Pimpinan Puskesmas Terbaik Pertama dan Terbersih se Kabupaten Muba selama 3 (tiga) tahun berturut-turut, yaitu pada tahun 2000, 2001 dan 2002. Kemudian sebagai Dokter Teladan Pertama di Kabupaten Muba tahun 2002, dan Dokter Teladan Pertama di Provinsi Sumsel tahun 2002, dan teranyar, Direktur RSUD dalam Kategori Penghargaan Rumah Sakit Terpercaya dalam Kinerja dan Pelayanan Terbaik tahun 2018.    

Dijelaskan pria berusia 47 tahun ini, dalam peningkatan kualitas pelayanan dan positioningnya, RSUD Sekayu memiliki catatan yang cukup progresif. Dikatakan, RSUD Sekayu telah menjadi RS Pemerintah pertama dan tercepat mendapat status RS Kelas B, diluar ibukota provinsi; Sebagai yang pertama melakukan pelayanan bedah minimal invasif laporoscopy, fakoemulsifikasi bedah katarak diluar ibukota provinsi; dan sebagai RS pertama yang memiliki akreditasi paripurna bintang lima standar RS Nasional, serta akreditasi ISO 9001, 2015 dari ACM yang didapat dalam satu tahun.   

Makson juga menyebutkan, saat ini RSUD Sekayu sudah memiliki alat CT Scan dan kamar operasi IGD. Menurutnya, itu berkat perhatian dan dukungan pak Bupati, sehingga bisa digunakan dan melayani pasien.

“Ke depan, RSUD Sekayu akan mengejar posisi sebagai rumah sakit rujukan regional dan meraih akreditasi Joint Commision International (JCI), kata Makson dalam bincang dengan awak media, di ruang Ballroom, Hotel Lumire usai menerima penghargaan. 

Dikatakan Makson, kalau sudah menjadi rujukan regional, nantinya RSUD Sekayu jadi pusat pelatihan kesehatan dan percontohan yang dilengkapi dengan fasilitas berskala internasional dan juga diakui secara internasional baik dari pelayanan dan kelengkapan lainnya.

Foto: dr. Makson Parulian Purba (paling kiri) dengan penerima penghargaan lainnya.

Ditanya apa yang menjadi hambatan sekaligus tantangan dalam rencana pengembangan RSUD, dia mengatakan, komitmen dan kebijakan pimpinan daerah sangat berpengaruh.

Sebagai tantangan dalam tujuan pengembangan manajemen RSUD, saya melihat, komitmen dan kebijakan dari Pimpinan Daerah itu sangat berpengaruh kuat. Dan itu sangat menentukan maju-mundurnya kualitas RSUD itu sendiri, bebernya.

Menjawab pertanyaan, tentang penghargaan yang diberikan oleh lembaga apresiasi independen, suami dari dr. Sisca, Sp.M ini mengatakan penghargaan itu akan juga memotivasi para staf.

Penghargaan ini akan memotivasi seluruh staf untuk mewujudkan Visi dan Misi RSUD Sekayu ke depan, tandasnya.  

Dikatakan ayah tiga anak ini (Eliza, Theresa dan Joanna-red), penghargaan ini juga menunjukkan, bahwa karya dan kinerja merekapun diapresiasi oleh pihak lain dan masyarakat. Tentu momentum ini berbeda dengan penilaian sebelumnya dari jajaran kedinasan.

Sementara itu, dalam sambutannya sebelum penyerahan penghargaan, Danny PH Siagian, SE., MBA., MM, Chairman Lembaga Anugerah Prestasi Insani (YAPI), mewakili mewakili tim penilai dan panitia mengatakan, para tokoh penerima penghargaan adalah mereka yang memiliki track record di berbagai bidang masing-masing, sesuai kategori penghargaan yang diberikan. 

Menurut Danny, penilaian mereka yang berprestasi antara lain dilihat dari segi bagaimana sang tokoh mampu mengembangkan kualitas dan produktivitasnya, yang berkaitan dengan IPTEK, pendidikan dan pengembangan SDM, dan bersentuhan dengan masyarakat luas. Selain itu, mereka juga memiliki peningkatan prestasi yang progresif, serta layak menjadi panutan masyarakat. 


Baca Juga