Proyek Jalan Rantepao-Tikala Beda Tipis dengan Ruas Jalan Barana'-Pangli

Tim | Rabu, 13 Juni 2018 - 08:05 WIB
Proyek Jalan Rantepao-Tikala Beda Tipis dengan Ruas Jalan Barana'-Pangli Aktivis Perkumpulan WASINDO (Pengawas Independen Indonesia), Doni Latupeirissa.

TORAJA UTARA (wartamerdeka.net) - Pengawasan masyarakat terhadap pelaksanaan proyek di Toraja Utara tampaknya tidak bisa dipandang remeh. Terbukti, dalam beberapa bulan terakhir ini, apa yang dilaporkan masyarakat menyangkut proyek di Torut yang diduga menyimpang, perlahan-lahan terkuak. 

Setelah melaporkan proyek peningkatan jalan Rantepao-Tikala, kini warga setempat terus membidik proyek sejenis yakni peningkatan jalan Barana'-Pangli. Kedua proyek jalan tersebut berada dalam tahun anggaran yang sama yakni 2017.

Menurut warga yang ditemui di lokasi, indikasi penyimpangan proyek jalan Barana'-Pangli hanya beda tipis (beti) dibanding yang terjadi pada proyek jalan Rantepao-Tikala.

Warga yang enggan disebut namanya ini bahkan menyebut dugaan penyimpangan pada poros Barana-Pangli sedikit lebih parah dibanding Rantepao-Tikala. 

Membuktikan ini, kata warga tersebut, bisa dengan uji petik dan audit investigasi seperti dilakukan tim BPK pada poros Rantepao-Tikala.

Informasi dan laporan warga ini, mendapat respon positif dari Aktivis Perkumpulan WASINDO (Pengawas Independen Indonesia), Doni Latupeirissa.

Menurut Doni, siapapun yang memberi informasi atau laporan dugaan penyimpangan proyek harus disambut baik.

"Jangan ada pemikiran yang apriori tanpa menguji sebelumnya laporan yang masuk. Saya kira wajar kalau ada laporan yang bersifat menduga. Ini kan baru petunjuk awal untuk langkah berikut," ujar Doni via ponsel, malam ini (12/6/2018).

Ditambahkan Doni, terkait poros Barana'-Pangli, pihaknya sekarang ini sedang meminta BPK untuk turun melakukan uji petik sekaligus audit investigasi.

"Kondisi ruas jalan tersebut sejak dikerja sampai dengan kondisinya yang sekarang kami sudah dokumentasikan. Saya kira ini menjadi bukti visual," ketusnya.

Selain itu, menurut Doni, pihaknya mempertanyakan sampel uji lab yang seharusnya ada sebelum dilakukan pekerjaan pengecoran rabat beton.

"Biasanya kan ada sampel uji lab dari Unhas atau lembaga lain yang berkompeten. Sampel uji lab ini harus dimiliki kontraktor pelaksana sebelum memulai pekerjaan. Misalnya sampel uji lab katakanlah K300 berarti ini yang harus menjadi ukuran dan rujukan, jadi tidak semaunya. Kalau misalnya sampel uji labnya tidak ada maka patut diduga ada penyimpangan dalam hal pengecoran rabat. Begitu juga pekerjaan lainnya," tandas Doni.

Untuk diketahui, proyek Peningkatan Jalan Barana'-Pangli senilai Rp3.460.093.000 yang dikerja PT. Kurnia Jaya Karya ini dalam bentuk pelebaran jalan. Sayangnya, kualitas cor dan rabat beton untuk pelebaran jalannya sangat rendah. Alhasil, sebagian cor dan rabatnya hancur. Sedang pekerjaan lain adalah pengaspalan sekitar 700 meter dari yang sudah dilebarkan.