JOIN Sulsel Minta Mabes Polri Usut Kematian Jurnalis Senior M Yusuf

Badar | Rabu, 13 Juni 2018 - 07:54 WIB
JOIN Sulsel Minta Mabes Polri Usut Kematian Jurnalis Senior  M Yusuf Ketua JOIN Sulawesi Selatan, Rifai Manangkasi

MAKASSAR (wartamerdeka.net) - Jurnalis Online Indonesia (JOIN) Sulawesi Selatan meminta kepada Mabes Polri mengusut tuntas kematian Yusuf, seorang jurnalis senior di Kotabaru, Kalimantan Selatan. Sebab sebelum meninggal Yusuf sempat ditahan Polres Kotabaru terkait sengketa pemberitaan.

Ketua JOIN Sulawesi Selatan, Rifai Manangkasi mengatakan, ada kejanggalan dari keterangan Kapolres Kotabaru AKBP Suhasto yang menyatakan tidak ada tanda kekerasan di tubuh Yusuf. Padahal pemeriksaan yang dilakukan baru visum sementara, tidak sampai tahap autopsi.

“Pwneriksaan harus dilakukan secara mendalam dengan melakukan bedah mayat atau autopsi untuk memastikan penyebab kematian,” ujarnya.

Rifai berharap keluarga korban mengizinkan agar jenazah diautopsi sebab hal itu mesti dilakukan lantaran Yusuf telah menjadi sorotan bukan hanya masyarakat Kalimantan Selatan, tetapi juga sudah menjadi perhatian nasional.

Yusuf meninggal hanya 30 menit setelah tiba di rumah sakit. Dokter pun seharusnya bisa menjelaskan secara komprehensif penyebab meninggalnya Yusuf.

Merujuk keterangan pers yang diterbitkan Dewan Pers, Senin (11/6), mendiang Yusuf ternyata lebih dulu ditahan oleh Polres Kotabaru di Lapas Kotabaru II karena sengketa pemberitaan sebelum meninggal dunia. Dewan Pers menyatakan tidak pernah menyarankan atau membolehkan Yusuf ditahan.

“Dewan Pers tidak pernah menerima pengaduan dari pihak-pihak yang dirugikan oleh berita yang dibuat Muhammad Yusuf,” demikian tulis Ketua Dewan Pers Yoseph Adi Prasetyo dalam keterangan pers.

Menanggapi hal ini, JOIN Sulsel menilai jika Penyidik Polres Kotabaru telah melawan MoU yang dibuat Polri dan Dewan Pers. 

“Polisi jangan seenaknya melakukan penahanan harus meminta penilaian, apakah berita tersebut produk jurnalistik atau bukan dari Dewan Pers," ucapnya.

Langkah penahanan Yusuf oleh Polres Kotabaru dinilai aneh oleh Ahli Dewan Pers di Sulsel. Sebab penyidik melangkahi SOP dalam penanganan sengketa pers. “Penyidik tidak meminta pendapat Dewan Pers kemudian melakukan penanganan saat akan diajukan ke penuntutan baru minta keterangan Ahli,“ ujar dosen Luar Biasa beberapa PTS di Makassar.

Rifai menduga, kasus yang selama ini menyeret jurnalis akibat karya jurnalistik terpublish banyak bertendensi kepentingan. “Ya, banyak kasus sarat kepentingan pelapor yang mempermainkan hukum dengan bersekongkol oknum penyidik,“ tutur Rifai.

Pada kasus kematian Yusuf ini bisa terjadi modus jual beli kasus.”Kapolresnya harus juga diperiksa jangan sampai terlibat kepentingan pribadi hingga melakukan hal-hal tidak prosedural,” tandasnya.