Sandang Doktor Kepolisian, Ahrie Sonta Banjir Apresiasi

Fer | Selasa, 12 Juni 2018 - 19:14 WIB
Sandang Doktor Kepolisian, Ahrie Sonta Banjir Apresiasi

JAKARTA (wartamerdeka.net) - Seorang perwira menengah polisi, Ahrie Sonta, berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Kepolisian. Penelitian dalam disertasi Ahrie Sonta mencoba membangun formula reformasi budaya (kultural) dalam organisasi kepolisian, khususnya di kepolisian tingkat resor sebagai basic police unit yang berhadapan langsung dengan pelayanan masyarakat.

Sejumlah akademisi kenamaan turut terlibat dalam mensukseskan disertasi ini antara lain, Haryatmoko, yang dikenal banyak menyumbangkan pemikiran kritisnya dalam bidang filsafat, sosial politik, etika dan komunikasi. Haryatmoko mengatakan bahwa karya disertasi ini mampu memberikan solusi konkret.

“Salah satu solusi yang ditelurkan riset promovendus Ahrie Sonta adalah program salute to service,” kata Haryatmoko dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (12/6/2018).

Program salute to service bisa diselenggarakan oleh pemerintah, pihak swasta atau perusahaan, atau komunitas masyarakat, yakni sebagai simbol rasa terima kasih kepada lembaga kepolisian yang telah menyumbang peranan penting di masyarakat.

“Hal ini membangun hubungan civil society antara kepolisian dan masyarakat secara lebih baik, sehingga ada kontrol positif masyarakat terhadap potensi tindakan negatif yang dilakukan oleh oknum anggota polisi,” jelas Haryatmoko.

Sementara itu, cendekiawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hermawan Sulistyo, mengatakan bahwa adanya doktor ilmu kepolisian ini harusnya menjadi tonggak sejarah baru bagi institusi kepolisian.

“Ini bisa menjadi role model polisi masa depan. Pengetahuan dan integritas akademik yang dipadukan dengan kemampuan teknis operasional lapangan akan membuat Ahrie Sonta menjadi model polisi masa depan,” kata cendekiawan yang akrab disapa Kikiek ini.

Ditemui di PTIK, Kikiek yang dikenal juga sebagai pakar Anti Terorisme ini juga mengatakan bahwa Kapolri (Tito Karnavian) yang dirinya juga doktor harus memberi apresiasi.

Sementara itu, pengamat politik dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), J. Kristiadi, yang turut menghadiri sidang promosi doktoral Ahrie Sonta, menilai bahwa disertasi ini membuktikan Kepolisin RI sangat terbuka dengan pemikiran-pemikiran yang konsekuensi dari substansinya adalah reformasi Polri.

“Inti dari keseluruhan disertasi Ahrie Sonta menghadirkan roh yang sangat diperlukan bagi para decision makers dalam mengambil putusan politik. Kajian empirik yang tidak hanya didasari kontemplasi filosofis yang amat mendalam, tetapi juga sekaligus memberikan resep dan solusi yang sangat operasional,” jelas Kristiadi.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa kekuatan pemikiran seperti ini memberikan landasan berupa dalil-dalil ilmiah yang tidak hanya dihasilkan dari studi empirik.

“Disertasi ini bukan hanya penting dan wajib dibaca karena substansinya sangat relevan dalam konteks Pemolisian Yang Berbudaya, melainkan juga relevan sebagai cakrawala untuk menata tata kelola kekuasaan negara yang berdasarkan kedaulatan rakyat atau demokrasi. Selain itu, disertasi ini juga sangat nikmat dibaca karena akan membawa pembaca tenggelam dalam lautan pemikiran yang amat dalam tentang membanguan kualitas manusia dan perilaku organisasi yang berfungsi melayani masyarakat,” pungkasnya.

Apresiasi juga datang dari pengamat kebijakan publik, Juni Thamrin, bahwa Ahrie Sonta sudah sangat layak untuk disejajarkan dengan disertasi sejenis yang dipertahankan oleh doktor ilmu-ilmu sosial dan filsafat lainnya.

“Hal yang membuat saya memberikan apresiasi adalah Ahrie Sonta bukan berasal dari disiplin ilmu filsafat dan ilmu-ilmu sosial yang murni, tetapi seorang anggota polisi yang begitu sibuk membantu berbagai satuan tugas (satgas) dan ikut berproses  secara intensif dalam kerangka reformasi Polri. Kesibukan yang sangat menyita waktu, energi dan emosi tersebut, justru dapat dengan baik me-landing-kan sebuah disertasi yang sangat kental bernuasa falsafah dan etik,” kata Juni.

Hal senada juga dikatakan akademisi Universitas Indonesia (UI), Surya Dharma, yang juga menjadi Ko promotor dalam bimbingan disertasi.

“Saya sangat salut dengan kesungguhan dan keuletan Ahrie Sonta dengan berbagai kesibukannya sebagai anggota kepolisian, masih mampu menyempatkan dirinya untuk menelusuri berbagai jurnal internasional, dan buku-buku referensi ilmiah yang terkait dengan fenomena yang sedang diteliti dalam disertasinya,” kata dia.

Ia berharap keberhasilan yang dicapai Ahrie Sonta dalam meraih gelar Doktor di PTIK, dapat menjadikan inspirasi bagi rekan-rekan di lembaga kepolisian untuk menjadi pembelajar di organisasinya.

“Harapannya dapat memperkuat sumberdaya manusia polri dalam mewujudkan polri yang professional, modern dan terpercaya,” tandasnya.

Sebagai informasi, 11 dewan penguji dalam sidang doktoral ilmu kepolisian ini sebagai berikut:

1.       Prof. Hermawan Sulistyo (UI-LIPI),

2.       Prof. Ahmad Syahroja (UI),

3.       Prof. Haryatmoko (UI),

4.       Irjen Pol Dr. R. Sigid Tri Hardjanto (STIK-PTIK),

5.       Brigjen Pol. Budi Sardjono (STIK-PTIK),

6.       Dr. Muradi Ph.D. (Unpad),

7.       Nur Iman Subono Ph.D (UI),

8.       Tamrin Amal Tamagola Ph.D (UI),

9.       Surya Dharma, Ph.D. (UI),

10.   Dr. Vita Mayastinasari (STIK-PTIK), dan

11.   Dr.Zulkarnein Koto (STIK-PTIK).


Baca Juga