Titik Hotspot Karhutla di Indonesia Makin Menurun

Badar | Rabu, 06 Juni 2018 - 21:38 WIB
Titik Hotspot Karhutla di Indonesia Makin Menurun

JAKARTA (wartamerdeka) - Titik hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia semakin menurun jumlahnya. Berbagai langkah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk bisa menekan jumlah lahan hutan yang terbakar.

Dalam acara Regional Inter Agency Rountable Meeting dengan tema “Enhancing Regional Cooperation in Fire Management in South East Asia”, di Jakarta, Rabu (6/6/2018),  Plt. Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) RI, Ida Bagus Putera Parthama memaparkan skenario pengurangan karhutla dirancang menggunakan dua pendekatan.

Yang pertama adalah memastikan 2,4 juta hektar lahan gambut di bawah kelola Badan Restorasi Gambut tidak terbakar. Lalu memastikan 731 desa rawan karhutla yang diidentifikasi oleh KLHK juga tidak terbakar.

Menurutnya, lahan gambut Indonesia mencapai 15 juta hektar atau sekitar 12% dari luas kawasan hutan. Kandungan karbon gambut diperkirakan mencapai 6 ton per hektar dengan kedalaman 1 cm. Kandungan karbon inilah yang menjadi sumber masalah emisi ketika terbakar. 

Upaya kolaboratif penanganan karhutla yang berjalan dengan baik dipastikan juga berkontribusi terhadap penurunan emisi. "Pencapaian penanganan karhutla secara signifikan menyebabkan pengurangan emisi dari hutan dan lahan, termasuk dari lahan gambut," ujar Putera Parthama di hadapan 100 peserta dari enam negara Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapore, Vietnam dan Brunei Darussalam).

Dari data yang ada tingkat kebakaran pada tahun 2017 mengalami penurunan sebesar 34,07%, dibandingkan dengan kebakaran pada tahun 2016 dan sebesar 88,23% dibandingkan tahun 2015. Pengurangan jumlah hotspot selama 2015 - 2017 berturut-turut adalah 21.929 (2015), 3,915 (2016), dan hanya 2.581 (2017). Sedangkan emisi dari kebakaran gambut pada tahun 2017, yaitu 12,5 juta ton CO2e, setara dengan hanya 1,56% dibandingkan emisi tahun 2015.

Disampaikan Putera, belajar dari bencana kebakaran lahan dan hutan pada tahun 2015, 2016 dan 2017, Presiden Joko Widodo memberi tujuh arah peningkatan koordinasi dan antisipasi karhutla, yaitu: Meningkatkan kerjasama, komitmen dan upaya kuat dari semua pemangku kepentingan; Pantau prediksi cuaca untuk kesiapan yang lebih baik; Persiapan menghadapi kebakaran lahan / hutan harus dimulai sejak dini, respon cepat terhadap kejadian kebakaran lahan / hutan; Penegakan hukum; Pemenuhan kewajiban untuk mempertahankan wilayah kerja masing-masing; Menyiapkan sumber daya manusia dan peralatan; dan Libatkan komunitas dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Ditambahkan Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, Raffles B. Pandjaitan, selain di tingkat nasional, Indonesia juga berkolaborasi dengan mitra internasional. Indonesia berkomitmen untuk memperkuat kerjasama dengan semua pihak dalam segala aspek untuk pengendalian kebakaran hutan dan lahan.

“Kita telah meluncurkan Regional Fire Management Center – South East Asia (RFMRC-SEA) pada 10 Juli 2017 lalu di Jakarta," tandasnya.

Dari Rountable Meeting ini diharapkan membawa aktor-aktor penting di tiap negara ke meja pertemuan, untuk menyuarakan niat ke arah mengatasi tantangan dengan cara kolaboratif, dan juga sebagai peluang untuk menyelaraskan  upaya dan mengeksplorasi tujuan bersama dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.