Spiritualitas Ugahari

Ar | Rabu, 23 Mei 2018 - 22:10 WIB
Spiritualitas Ugahari

Oleh Milton Napitupulu, STh

Keugaharian, diartikan sebagai kesahajaan atau kesederhanaan. Tentu kontras dengan kerakusan.

Mengingat ucapan Mahatma Gandhi yang mengatakan, "The world has enough for everyone's need, but not enough for everyone's greed" (Dunia sudah cukup untuk semua orang, tetapi tidak cukup untuk keserakahan semua orang). Keserakahan dalam dunia sosiologi dikenal juga dengan "mental suka menerabas". Ibarat seseorang mencuri mangga, secara tega menebang pohon mangganya untuk mendapat buah mangganya. Demikianlah gambaran keserakahan secara tega mengambil bagian (uang, barang, makanan, kekuasaan) tanpa memikirkan seseorang maupun banyak orang di luar dirinya.

Mental serakah ini tampaknya dicurigai, dan dapat menjadi sosio-pathik (penyakit sosial) di sebagian anggota masyarakat. Kecurigaan ini didasarkan kepada berita-berita fakta sosial yang merusak keadaan sosial masyarakat seperti: korupsi, peredaran narkoba, pengerusakan lingkungan dan tindak kriminal termasuk terorisme. 

Mental serakah ini dipandang jahat dan bila dibiarkan akan menjadi virus sosial dan berpotensi menjadi bahagian dari cara hidup masyarakat. Keserakahan dapat dilihat dari cara hidup boros semisal, kepemilikan akan rumah, mobil, pakaian, dan memburu kesenangan secara berlebihan.

Mental serakah musuh besar dari keadilan, perdamaian dan cinta kasih. Mental ini dapat menyeruak kepada mindset personal dan terbuka kemungkinan secara sistemik masuk kepada regulasi dan menjadi sebuah kelaziman di masyarakat. Mental serakah akan berekses buruk kepada kehidupan sosial masyarakat berupa munculnya "kelas-kelas" dan kelompok-kelompok di masyarakat. 

Mari periksa lingkungan sosial masyarakat, perhatikanlah tempat menuntut ilmu (pendidikan), tempat berobat (Puskesmas, Klinik, Rumah Sakit dan Dokter Praktek),  tempat berbelanja dan pola pergaulan sehari-hari. Warga masyarakat "dipaksa" berkelompok sesuai kapasitas dan itu saya pandang sebagai "kelas-kelas" di masyarakat, seperti: kelas elit, kaya, sederhana atau dengan istilah: ekonomi, VIP, VVIP, Perumahan elit, Perumahan sederhana, dan lain-lain.

Munculnya kelas-kelas di masyarakat dapat menimbulkan bahaya besar kepada keadilan, perdamaian dan persaudaraan. Keadaan sosial dikategorikan berbahaya bila marak kasus sosial namun minus kasih; bila marak kuliah solidaritas dan toleransi oleh manusia namun marak juga bermental intoleransi; lebih bahaya lagi bila kebenaran menjadi basa-basi. 

Apa jadinya dunia ini bila agama dan kegiatan kemanusiaan menjadi komoditi dan sarana pungli. Virus intoleransi, bila tidak dicegah, dapat menyebar ke lembaga-lembaga pemerintah dan swasta dan jangan-jangan akan menjebol lembaga kemanusiaan dan agama. Paling berbahayanya lagi yaitu bila kitab suci dijadikan legimitasi kepada aksi-aksi yang tidak terpuji dan jauh dari suci. 

Situsi akan tidak terkendali bila mental serakah ini memasuki lembaran regulasi. Dapat dipastikan bahwa disaat intoleransi, korupsi, pungli dan nepotisme berkembang akan menimbulkan defisit cinta kasih (baca: kesatuan, persatuan, kebersamaan, tolong menolong).

Spiritualitas keugaharian saya golongkan kepada teks-prophetik yang membutuhkan pembathinan terkhusus oleh orang-orang yang menyuarakan. Teks ini akan mengalami nasib yang sama dengan teks-teks prophetik kenabian lainnya, tidak dihidupi, bila warga tidak memiliki "roh spiritualitas keugaharian" itu sendiri. 

Belajar dari Amos (Kitab Amos di Perjanjian Lama) begitu sederhana mengecam segala praktek ketidakadilan. Ucapannya populer "Biarlah keadilan bergulung-gulung seperti sungai" menjadi senjata tajam menusuk jantung pelaku ketidakadilan.

Spiritualitas keugaharian senyatanya kebutuhan di kondisi kekinian masyarakat di tengah-tengah bangsa dilanda ragam intimidasi (social intimidation).

Spiritualitas keugaharian memberikan penekanan kepada Tumbuh Bersama Memelihara Keberagaman. Motto negara ditulis indah di tubuh burung garuda, Bhinneka Tunggal Ika. NKRI harga mati adalah kesadaran bahwa keberagaman adalah sebuah keindahan dari karya penciptaan Maha Pencipta. 

The founding father negara ini sangat menyadari bahwa intoleransi, radikalisme pasti mempercepat rubuhnya republik ini. Begitu bijaksananya mereka memahami kekayaan bangsa ini dan melindunginya dalam bingkai Pancasila yang dinilai ampuh menghempang segala bentuk-bentuk degredasi dan fragmentasi.

Spritualitas ugahari adalah sambutan suka cita terhadap Firman Tuhan yang memerintahkan manusia merawat keutuhan ciptaan, manusia dengan manusia dan manusia dengan sumber daya alamnya. Konsep spiritualitas ugahari ini dipopulerkan oleh Persekutuan Gereja-gereja di  Indonesia (PGI) dimana Tema Sidang MPL PGI 2018 di Palopo, Sulawesi Selatan yaitu : Tuhan Mengangkat Kita dari Samudera Raya(Bnd.Mazmur 71:20b), dan Subtema "Dalam Solidaritas dengan Sesama Anak Bangsa, Kita Mengamalkan Nilai-Nilai Pancasila Guna Menanggulangi Ketidakadilan, Radikalisme, dan Kerusakan Lingkungan; sedangkan  Pikiran Pokok yang dibahas ialah : Spiritualitas Keugaharian: Merayakan Keberagaman Demi Kesatuan Bangsa".

Senada dengan maksud spiritualitas keugaharian ini, Kitab Amsal sangat heroik mengumandangkan, "Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu!" (Amsal 23:2) dan
"Suap yang telah kau makan, kau akan muntahkan, dan kata-katamu yang manis kau sia-siakan" (Amsal 23:8) dan juga "Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini" (Amsal 23:4). Narasi keugaharian identik kepada penolakan sikap, rakus, korupsi dan mental menerabas. Wujud yang diharapkan adalah sikap jujur, sederhana, menghargai perbedaan dan merawat keberagaman dalam kebersamaan.

Spiritualitas ugahari di kekinian warga dapat dinilai kontroversial kepada doktrin sosial yang: "rakus", "suap", "korupsi", "nepotisme" dan "kaya". Perlu dilakukan sosialisasi  dan kampanye secara massive. Semakin didorong lagi maksud kehadirannya dengan memberikan keteladanan dari orang-orang yang mengendalikan kekuasaan dan ekonomi keuangan. 

Praktekkanlah cara hidup secara riil reformasi terhadap fakta-fakta sosial hari ini yang mendoktrin manusia tunduk kepada kesenangan dan nafsu-nafsu kedagingannya. Doktrin tersebut melanda warga negara dari anak-anak hingga manula tanpa memandang latar belakang pendidikannya.

Manusia Indonesia, personal maupun organisasional, pemerintah maupun swasta dituntut membathini spiritualitas ugahari di keseharianannya. Ada banyak cara mengembalikan uang dan harta hasil kerakusan (mark-up, korupsi dan rampasan) yaitu mendistribusikannya kepada keluarga terdekat, kolega maupun tetangga yang membutuhkannya, termasuk mengembalikannya kepada negara. Itu adalah hal mudah asal ada niat tulus melakukannya. 

Konkrit tugas bersama sekarang ini adalah, selagi masih ada kesempatan, buanglah mental menerabas dan mental (ke)rakus(an). Mari membuka lembaran konsep kerja maupun konsep hidup kita yang baru dengan spiritualitas ugahari. Salam spiritualitas ugahari. Mohon dimaafkan bila ada isi tulisan ini dipandang salah, silahkan disempurnakan. 

Tulisan ini adalah ajakan agar semua warga negara tumbuh bersama dalam suasana aman dan sejahtera bersama spiritualitas ugahari. Jayalah Indonesia. 

(Penulis adalah pegiat Gerakan Individu Untuk Persaudaraan Indonesia (GIPI)/Individual Movement For Indonesian Brotherhood, Ditulis di Halaman Kampus Universitas MPU Tantular, Jakarta, 17 Mei 2018).

​​​​