Kasus Mengumbar Tembakan Oknum Polda NTB Diproses, Komang: Kalau Ada Kesengajaan Pasti Diproses

Fer | Selasa, 22 Mei 2018 - 21:13 WIB
Kasus Mengumbar Tembakan Oknum Polda NTB Diproses, Komang: Kalau Ada Kesengajaan Pasti Diproses

MATARAM (wartamerdeka) -  Aksi mengumbar tembakan sejumlah oknum aparat Polda NTB di lokasi tambak hingga menimbulkan ketakutan anak-anak dan warga Desa Dara Kunci, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), kasusnya bakal diproses lebih lanjut. 

Kepala Bidang Humas Polda NTB AKBP Komang Suartana kepada wartawan, Selasa (22/5/2018) menyatakan, segala tindakan yang dilakukan secara sengaja dan memenuhi unsur (delik pidana) pasti diproses. "Kalau memang ada unsur-unsur kesengajaan dan ada laporannnya pasti Propam akan memprosesnya (terhadap anggota yang melakukan penembakan itu)," ujar Komang.

Perwira lulusan Akpol 1994 itu menjamin setiap anggota kepolisian menjalankan tugas dan fungsinya sesuai prosedur yang telah baku. Jika ada anggota yang menyimpang dari aturan yang telah ditetapkan (protap), dipastikan hal sebuah pelanggaran. Apalagi mengumbar tembakan ke udara dengan maksud menakut-nakuti warga. "Itu jelas tidak dibenarkan," ujarnya.


Dalam kaitan itu pula Komang meminta untuk bersabar sambil menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut. "Nanti kita lihat hasil laporannya mas. Propam polda (NTB) mash menunggu laporan pengaduan yang dilaporkan ke Propam Mabes," ujarnya.


Seperti diberitakan sebelumnya, Faesal, Kepala Desa Dara Kunci, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) didampingi kuasa hukumnya mendatangi Propam Mabes Polri dan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) RI di Jakarta. 


Faisal melaporkan sejumlah anggoa Polda Nusa Tenggara Barat terkait aksi konyol sejumlah oknum Polda NTB yang  mengumbar tembakan di lokasi tambak hingga menimbulkan ketakutan warga desa, terutama anak-anak.

Aksi koboi sejumlah oknum polisi itu terjadi pada Selasa (15/5/2018). "Ada sekitar 10 oknum polisi dari Polda NTB datang bersama pengusaha DS. Mereka datang ke lokasi untuk memaksa pengosongan lahan tambak sambil meletuskan tembakan ke udara sebanyak tujuh kali," ujar Faesal bersama Ega Martadinata, kuasa hukumnya kepada kepada wartawan di Mabes Polri.

Faesal menduga peristiwa itu dipicu persoalan masalah tambak. Sebelumnya, pada 13 Mei 2018, pengusaha DS melaporkan dirinya ke Polda NTB. Tuduhannya telah melakukan tindakan memasuki dan menguasai lahan milik orang lain dengan tanpa seizin pemilik. Padahal, kata Faesal, tambak itu adalah aset desa. 

Bersama aduan itu, sejumlah oknum aparat yang diduga menjadi beking DS, didampingi istrinya, ER, mendatangi lokasi tambak udang dan meminta agar petugas penjaga tambak bernama Abdul Karim keluar dari lokasi tambak.

"Saat itulah ada oknum polisi yang melepaskan tembakan ke arah papan nomor kolam tambak. Tembakan sebanyak tujuh kali membabi buta membuat anak Abdul Karim berusia 5 tahun dan 2 tahun trauma dan ketakutan," ucap Faesal 

Tim kuasa hukum sudah memiliki barang bukti berupa tujuh buah selongsong peluru sisa tembakan di lokasi kejadian. Foto barang bukti tersebut sudah disertakan saat aduan disampaikan ke Propam Polri dengan No: SPSP2/1554/V/2018/Bagyanduan yang ditujukan kepada Kadiv Propam Polri.

Faesal meminta keadilan atas kasusnya itu. Ia meminta perilaku sewenang-wenang oknum aparat yang mengumbar tembakan ke udara hingga membuat anak-anak dan warganya ketakutan, diusut tuntas karena sangatlah tidak pantas. Apalagi kasusnya diduga diboncengi kepentingan sepihak dari pengusaha DS. "Kami meminta kasus ini diusut tuntas," harapnya.

Ihwal mencuatnya kasus ini bermula dari sengketa internal para investor pemilik tambak udang di Desa Dara Kunci, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur. Yakni antara DS dengan sembilan investor tambak lainnnya. "DS dan sembilan investor tambak lainnya masih belum ketemu titik mediasi," uja Faesal.

Usaha tambak udang yang dikelola DS dan sembilan pengusaha lainnya diakui Faesal berdiri di area lahan sewaan dari Pemerintah Desa Dara Kunci sejak tahun 2013 silam. "Luasnya ada 6 hektar," tukasnya.

Faesal menerangkan usaha kerjasama itu sempat berproduksi (panen udang) selama beberapa kali. Usaha ini pun menjadi lahan pekerjaan baru bagi masyarakat setempat. 

Tetapi sejak tahun 2016 kegiatan tambak udang terhenti. Alhasil, saling klaim kepemilikan pun terjadi antara investor berinisial DS dengan pemilik modal lainnya. "Karena tambak ini tidak beroperasi sudah dua tahun, dan lahannya merupakan aset Pemerintah Desa, maka saya sebagai Kades Dara Kunci, berupaya memediasi para investor dengan mengundang semua investor untuk mediasi. Tapi hanya DS yang tidak pernah datang," kata Faesal.

Pada awal 2017, para investor menyepakati dibentuknya manajemen baru untuk pengelolaan tambak tersebut. DS juga sudah menyerahkan keputusan pelimpahan manajemen baru ke investor lainnya.

Dari situ, Kades Dara Kunci Faesal kemudian menerbitkan izin dan hak pengelolaan baru kepada investor lain selain DS untuk pemanfaatan aset desa sebagai lokasi tambak udang itu. Ini dilakukan pertimbangan agar tambak udang yang sudah lama tidak beroperasi itu bisa kembali membawa manfaat ekonomis bagi masyarakat desa setempat.

"Tapi pada 13 Mei, DS melaporkan Kades Dara Kunci ke Polda NTB. Tanggal 15 Mei, DS bersama aparat kepolisian mendatangi lokasi tambak dan melepaskan tembakan membabi buta," jelas Faesal seraya menunjukan foto 4 selongsong peluru oknum polisi berperilaku koboi yang membuat takut warganya.