Malpraktek Bimbingan Karir di Sekolah Kejuruan

Agus | Sabtu, 19 Mei 2018 - 00:42 WIB
Malpraktek Bimbingan Karir di Sekolah Kejuruan

Oleh : Alfi Fauziati (Mahasiswa S2 MPV Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)


Salah satu jenjang pendidikan di Indonesia adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. 

Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang mempersiapkan seseorang agar memiliki kemampuan bekerja pada satu kelompok pekerjaan atau satu bidang pekerjaan (Djojonegoro, 1998). Mengacu pada definisi pendidikan kejuruan dimana tujuannya adalah mempersiapkan peserta didiknya untuk bekerja, maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh sekolah kejuruan. Antara lain membekali peserta didiknya dengan kemampuan kompetensi keahlian, memberikan bimbingan karir dan membantu penyaluran kerja dengan program BKK nya.

Bimbingan karir mempunyai andil yang penting untuk mempersiapkan peserta didik memasuki dunia kerja, tidak hanya sekedar memberikan informasi tentang lowongan pekerjaan yang ada saat ini. Menurut Rochman Natawidjaja (1990), bimbingan karier adalah suatu proses membantu seseorang untuk mengerti dan menerima gambaran tentang diri dan pribadinya dan gambaran tentang dunia kerja di luar dirinya, mempertemukan gambaran diri tersebut dengan dunia kerja itu untuk pada akhirnya dapat memilih bidang pekerjaan, memasukinya dan membina karir dalam bidang tersebut. 

Dari definisi tersebut dapat kita simpulkan bahwa bimbingan karir merupakan serangkaian proses yang berkelanjutan dari mulai pengenalan diri peserta didik untuk dapat mengetahui bakat dan minatnya, pengenalan tentang gambaran semua dunia kerja yang ada, menganalisis antara gambaran dunia kerja yang ada dengan bakat dan minat yang dimiliki peserta didik, dan akhirnya peserta didik dapat memilih pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya. 

Tidak sampai disini, tetapi dalam proses bimbingan karir setelah peserta didik dapat menentukan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakatnya, perseta didik diberi gambaran atau informasi tentang persyaratan baik secara administrasi atau secara fisik. Itu dimaksudkan untuk dapat memasuki dunia kerja sesuai degan bakatnya tersebut, bahkan diberi wacana tentang jenjang karir yang ada dalam pekerjaan tersebut dan trik-trik untuk bisa menggapai jenjang karir tertinggi. Dengan demikian, proses bimbingan karir tidak bisa dilakukan secara klasikal tetapi harus secara individual.

Dalam sekolah kejuruan kita mengenal adanya guru BK (bimbingan karir). Dalam prakteknya, guru BK yang seharusnya mampu memberikan bimbingan karir untuk peserta didik malah berubah fungsi menjadi polisi sekolah. Dimana guru BK beralih fungsi menangani peserta didik yang dianggap bermasalah. Wali kelas yang sudah tidak bisa menangani anak-anak yang dianggap bermasalah akan menyerahkan penanganannya kepada guru BK. 

Sehingga imej yang terbentuk, bahwa setiap peserta didik yang berhubungan atau berkaitan dengan guru BK adalah pserta didik yang bermasalah. Adanya persepsi seperti itu menyebabkan peserta didik enggan untuk menyambangi guru BK. Padahal, seharusnya guru BK bisa memberikan bimbingan karir secara bertahap dan kontinyu untuk bisa membantu peserta didik menemukan dan menentukan dunia kerja yang sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya.

Malpraktek ini akan terus berjalan manakala tidak ada perubahan fungsi dan job description yang jelas dari guru BK tersebut. Sekolah harus merubah sistem penanganan peserta didik yang bermasalah, tidak melalui guru BK tetapi ke unit yang lain seperti bagian kesiswaan. Sekolah harus mampu merubah imej dan fungsi dari guru BK tersebut. 

Guru BK tidak lagi menangani peserta didik yang bermasalah, tapi lebih memberikan bimbingan karir dan bimbingan secara psikologis pada masing-masing peserta didik untuk bisa membantu peserta didik menemukan bakat dan minatnya. Diharapkan nantinya dapat memilih jenis pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minatnya tersebut. Dengan demikian, prinsip dari bimbingan karir dapat dilaksanakan dan diterapkan di sekolah kejuruan. 

Harapannya, adanya bimbingan karir yang sesuai ini akan meningkatkan kesiapan kerja dari masing-masinng peserta didik sehingga hal ini akan semakin menekan angka pengangguran dari level SMK.