Korban Tewas Teror Bom di Surabaya 28 Orang

Kapolri: Teroris Belajar Rakit Bom dari Internet

Ar/DANS | Senin, 14 Mei 2018 - 16:13 WIB
Kapolri: Teroris Belajar Rakit Bom dari Internet Kondisi jalan Ngagel Madya depan Gereja Katolik Santa Maria Surabaya, Minggu (13/5/2018).

SURABAYA (wartamerdeka) – Teror bom yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo dalam dua hari terakhir, telah mengakibatkan puluhan orang meninggal, baik dari pihak masyarakat, aparat polisi maupun pelaku bom bunuh diri. Polda Jawa Timur menyebut  jumlah korban dalam teror bom di Surabaya  dan Sidoarjo, total korban tewas ada 28 orang baik dari terduga pelaku maupun warga.

"Ini jumlah sementara karena masih ada teridentifikasi di DVI (Disaster Victim Identfication)," kata Kepala Bidang Humas Polda Jatim Komisaris Besar Frans Barung Mangera di Surabaya, Jawa Timur, Senin (14/5).

Jumlah tersebut terdiri dari korban tewas di tiga gereja 18 orang, di Rusunawa Wonocolo Sidaorjo tiga orang, dan korban tewas bom bunuh diri empat orang di Poltabes Surabaya. Selain itu ada tiga orang yang ditembak petugas saat penyergapan.

"Total sementara 28 orang," kata Barung. 

Sementara korban luka-luka baik dari warga masyarakat maupun petugas kepolisian berjumlah 57 orang. Di antara korban luka ada juga anggota keluarga orang yang diduga menjadi pelaku pengeboman.

"Jumlah korban luka 57 orang," ujar Barung.

Aksi teror terjadi kemarin di tiga gereja di Surabaya. Malam harinya, ledakan terjadi di Rusunawa Wonocolo. Sementara tadi pagi, bom bunuh diri meledak di Poltabes Surabaya. Polisi saat ini masih mengusut kasus ini dengan mengejar sejumlah orang yang diduga terlibat.

Tim Gegana dikabarkan, menemukan satu bom aktif di sekitar GKI Wonokromo dan sudah diledakkan oleh Tim Gegana.

Polisi juga menemukan 2 bom aktif di GPPS Arjuno dan sudah diledakkan oleh Tim Gegana.

Foto: Kapolri Jenderal Tito Karnavian

Sementara itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang langsung berada di Surabaya mengatakan, bahwa pelaku aksi terorisme di tiga gereja di Surabaya dilakukan oleh satu keluarga, terdiri dari ayah, ibu, dan empat orang anak (dua laki-laki, dua perempuan).

Kapolri mengungkapkan juga, dari penyelidikan pihaknya para terduga terorisme yang melakukan serangkaian aksi bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, merakit bom dengan belajar melalui internet.

Jenis bom yang digunakan dalam aksi teror kali ini adalah bom pipa dengan bahan peledak triacetone triperoxide (TTATP).

"Mereka banyak belajar dari online, cara membuat TTATP online juga ada. Sementara yang kami deteksi membuatnya online," kata Tito di Mapolrestabes Surabaya, Senin (14/5).

Tito menyebut jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) wilayah Surabaya telah memiliki keahlian untuk membuat bom pipa itu dengan belajar melalui internet. Bom yang menggunakan bahan peledak TTATP itu sangat dikenal anggota Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Namun, Tito belum bisa mengungkap siapa sosok yang sangat ahli dalam membuat bom yang juga dikenal dengan sebutan 'the mother of satan'. Menurut mantan Kepala Densus 88 Antiteror Polri itu, saat ini pihaknya masih bekerja untuk menyelidiki.

"Mengenai teknis siapa pembuatnya dan lain-lain, nanti setelah pemeriksaan tuntas akan kami sampaikan," tuturnya.

Perketat Internet

Lebih lanjut, Tito meminta pemerintah untuk memperketat penggunaan internet yang berbau kegiatan terorisme. Pasalnya, kata dia hampir semua kelompok terorisme memanfaatkan internet untuk menyebarluaskan paham dan cara-cara membuat bom

"Karena banyak sekali sekarang online-online training, website, teoritikal, dan lain-lain ya, yang masuk, yang membuat pemahaman mereka menjadi berubah dan cara membuat bom," kata dia.

"Ini (pengaturan penggunaan) medsos ini salah satunya dengan membuat MoU dengan provider. Bahkan, bila perlu digunakan juga aturan khusus," tutur Tito melanjutkan.

Tito mengatakan selain pihaknya melakukan penindakan dengan menangkap terduga terorisme, baik pemerintah maupun DPR bisa segera menggodok aturan penggunaan internet untuk mencegah penyebaran benih-benih terorisme.

Sejauh ini, lanjut Tito pihaknya telah mendeteksi terduga terorisme lainnya yang terkait dengan terduga pelaku bom bunuh diri di tiga gereja, Rusunawa Wonocolo, dan Mapolrestabes Surabaya. Menurut dia, para terduga pelaku bom bunuh diri ini masing-masing merupakan satu keluarga.

"Tiga-tiganya terkait dengan kelompok yang namanya JAD Surabaya. Ini kami lakukan pengejaran," kata Tito.