Tak Kunjung Eksekusi Terpidana Koruptor CRP, Jaksa Dinilai Lemah

Tim | Minggu, 13 Mei 2018 - 12:27 WIB
Tak Kunjung Eksekusi Terpidana Koruptor CRP, Jaksa Dinilai Lemah Terpidana kasus korupsi Christian Randebua Palilu alias Christian Romano Pasang (CRP)

TORAJA UTARA (wartamerdeka) - Kejaksaan melalui Kejari Biak Numfor dan Kejati Papua bekerjasama dengan AMC (Adhyaksa Monitoring Center) sedang berusaha mengejar buron DPO terpidana kasus korupsi Christian Randebua Palilu alias Christian Romano Pasang (CRP).

Namun, sampai sekarang pihak kejaksaan tak kunjung berhasil menangkap buronan kasus korupsi Pengadaan Alat-Alat Angkut Darat Bermotor Dinas PU, Perhubungan dan Pertambangan di Kabupaten Supiori TA 2011, tersebut.

Terpidana sendiri, menurut laporan berbagai sumber, sampai sekarang dipastikan masih bersembunyi di Toraja Utara dan Makassar. Pasalnya, CRP tidak bisa jauh dari Toraja khususnya Torut karena dia dikabarkan masih aktif mengurus proyek apalagi menjelang musim tender bulan Mei tahun ini. Karena itu, pihak Kejari Biak Numfor juga telah berkoordinasi dengan Kejari Tana Toraja melalui Kacabjari Rantepao dengan dipantau JAM Intel Kejagung melalui AMC.

Foto: Terpidana kasus korupsi Christian Randebua Palilu alias Christian Romano Pasang (CRP) dengan baju narapidana

AMC merupakan lembaga yang berada di bawah kendali Jaksa Agung Muda (JAM) bidang Intelijen. Lembaga tersebut bertugas untuk mencari orang-orang yang telah ditetapkan sebagai buron oleh Kejagung, Kejati maupun Kejari Se-Indonesia. 

Mencermati langkah Kejaksaan ini, Thonny Panggua SH dari Perkumpulan WASINDO (Pengawas Independen Indonesia), meminta korps Adhyaksa dengan otoritasnya, lebih proaktif lagi dengan meminta bantuan lembaga lain seperti Polri dan Ditjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM. 

Bahkan masyarakat pun, katanya, dihimbau agar membantu. "Masyarakat juga diminta memberi informasi tentang keberadaan terpidana. Sebaliknya, jika ada pihak yang oposisi, misalnya melindungi atau menyembunyikan dengan maksud membantu menghilangkan jejak terpidana, akan dijerat pasal 221 KUHP," ujarnya via telepon genggam, siang ini (13/5).

Pada pasal tersebut, tambah Thonny, diatur hukuman pidana orang yang menyembunyikan orang yang melakukan kejahatan dan menghalang-halangi penyidikan.

Ancamannya pidana paling lama 9 bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Lebih jauh, Thonny meminta pihak Kepolisian setempat, dalam hal ini Polres Tator atau Polda Sulsel, agar tanggap dengan upaya yang dilakukan pihak Kejari Biak Numfor dan Kejati Papua dalam menangkap CRP.

CRP ditetapkan masuk DPO (Daftar Pencarian Orang) berdasarkan Surat Penetapan DPO No. PRINT- 01/T 1. 11/Fu 1/01/2018 tanggal 23 Januari 2018 dari Kejari Biak Numfor ditandatangani Kajari, Sigid J Pribadi, SH, MH.
CRP resmi terpidana sejak keluarnya putusan kasasi Mahkamah Agung No. 1958 K/Pid.Sus/2015. Dia divonis 6 tahun penjara dan denda sebesar Rp200 juta. Juga dijatuhkan pidana tambahan untuk membayar uang pengganti sebesar Rp2.478.260.000,00 atau sama dengan pidana tambahan 2 tahun. 


Baca Juga