Nobel Perdamaian dan Jalan Panjang Bersatunya Dua Korea

Ar | Minggu, 29 April 2018 - 08:27 WIB
Nobel Perdamaian dan Jalan Panjang Bersatunya Dua Korea

Oleh Dasman Djamaluddin

Oktober tahun 2018 ini, seluruh negara di dunia akan mendengar siapa tokoh dunia yang menjadi penerima Nobel Perdamaian.

Baru-baru ini terjadi hal di luar kewajaran, di mana lembaga Nobel Norwegia melapor ke polisi setelah menerima pengajuan nominasi Presiden Amerika Serikat sebagai penerima Nobel Perdamaian.

"Kami memiliki alasan jelas untuk percaya nominasi Trump yang kami terima telah dipalsukan," kata Direktur Lembaga Nobel Olav Njolstad seperti dilaporkan AFP. 

Dia mengatakan bahwa polisi sedang menyelidiki masalah ini dan menolak untuk memberi keterangan lebih lanjut. 

Setiap tahunnya, nominasi untuk penerima Nobel Perdamaian mesti diajukan paling lambat 31 Januari. Mereka yang dapat mengajukan antara lain anggota parlemen dan pemerintah, para penerima Nobel Perdamaian dan akademisi. 

Jika melihat batas waktu yang diberikan, usaha perdamaian Kedua Korea, di mana pemimpin Korea Utara Kim Jong-un bersedia  merajut kembali perdamaian di Semenanjung Korea, maka Kim berhak juga menerima hadiah Nobel Perdamaian. Oleh karena peristiwanya baru terjadi dan batas waktu pengajuan calon  terlewati untuk tahun ini, Desember 2017, boleh jadi Kim Jong-un akan berhasil menerima hadiah Nobel Perdamaian untuk tahun 2019.

Semua itu perkiraan. Karena untuk tahun 2018 yang akan diumumkan bulan Oktober, sudah 329 nominasi yang sah dan kemudian disaring serta diteliti lagi untuk dicalonkan jadi penerima hadiah Nobel Perdamaian 2018. Semuanya bisa saja terjadi. Boleh jadi penyeleksi pencalonan penerima hadiah Nobel Perdamaian memiliki hak istimewa, maka Kim Jong-un dan Donald Trump bisa menerima Nobel Perdamaian 2018.

Selama ini, nama-nama kandidat dirahasiakan setidaknya selama 50 tahun. Meski begitu, yang mencalonkan diperbolehkan untuk mengumumkan pilihan mereka. 

Berbicara tentang Semenanjung Korea, kedua pemimpin Korea telah menunjukan niat baiknya.  Hal ini terlihat dari pertemuan hari Jumat lalu, 27 April 2018 lalu di perbatasan kedua negara.

Pemisahan kedua warga negara Korea, akibat Perang Korea yang pernah terjadi pada 25 Juni 1950 sungguh memilukan. Lihatlah foto dari "Reuters," yang menggambarkan kesedihan warga Korea Selatan ketika harus berpisah kembali setelah bertemu sebentar sekitar tiga hari dengan keluarganya di daerah Gunung Kumgang, Korea Utara, pada 25 Februari 2014. Ekspresi warga Korea Utara saat memegang tangan keluarganya warga Korea Selatan saat perpisahan setelah tiga hari bertemu di wilayah Korea Utara.

Di dalam kesepakatan yang dicapai kedua pemimpin Korea baru-baru ini, butir-butir untuk membuka kembali pertemuan kedua warga Korea yang terpisah puluhan tahun, dimunculkan kembali.

Pertemuan dua pemimpin Korea ini, boleh jadi juga atas desakan sekutu Korea Utara, yaitu RRC. Hal ini juga bisa mengurangi beban RRC yang kini sedang menghadapi situasi tidak menggembirakan dengan  Amerika Serikat di bidang ekonomi.

Di bidang politik, RRC sedang gencar mendapat kecaman karena menjadikan basis militernya di Kepulauan Spratly. Dua kepulauan di Laut China Selatan di Paracel dan Spratly adalah wilayah strategis untuk Asia Tenggara.


Baca Juga