Nasib TKI di LN dan TKA di Indonesia

Ar | Jumat, 27 April 2018 - 08:36 WIB
Nasib TKI di LN dan TKA di Indonesia

Oleh Dasman Djamaluddin

Nasib tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, khususnya di Arab Saudi memprihatinkan. Foto di atas diambil sebagai protes atas hukuman mati yang sering dilakukan Pemerintah Arab Saudi.

Berbagai media luar negeri mengakui, bahwa di Arab Saudi sekarang sedang melakukan pembaruan di berbagai bidang. Tetapi ditambahkan, di negara tersebut tidak melakukan perubahan dalam hal hukuman mati. Ini sudah tradisi, ulas salah satu komentar. Tahun ini saja, sudah 48 orang dihukum mati. 

Diakui bahwa Pangeran Arab Saudi, Mohammad Bin Salman yang akhir-akhir ini muncul di media Barat menunjukkan keberhasilan reformasi itu, seperti seorang perempuan diizinkan menyetir kendaraan, di mana sebelumnya tidak diizinkan. Juga diizinkan masuk dan menonton film di bioskop.

Tetapi media Barat tersebut terlalu sibuk, sehingga memperoleh kritikan.  Berjuta dolar ia belanjakan untuk membeli senjata dari Amerika Serikat (AS) dan Inggris, tetapi ada hal yang dilupakannya, yaitu banyak sekali menghukum mati di tiang gantungan. Ada sekitar 48 orang tahun ini telah dihukum mati.

Tentang hukuman mati ini, menurut lembaga  Hak Azasi Manusia Internasional  (HRW), mereka yang dihukum mati itu kebanyakan terkait dengan narkoba. Ketika wawancara dengan majalah "Time," 5 April 2018, pangeran menjelaskan bahwa kerajaan telah melakukan berbagai cara, tetapi masalahnya tidak sesederhana yang dibayangkan.

Sementara itu, lembaga Azasi Manusia Arab Saudi mengatakan sejak tahun 2014 sudah 600 orang dihukum,  200 orang di antaranya berkaitan dengan narkoba, di samping masalah lainnya seperti pembunuhan, teroris, pemerkosaan dan lain-lain. 

Baru-baru ini, ada juga Warga Negara Indonesia (WNI) yang dihukum mati di Arab Saudi. Pada satu sisi, kita mengirim Tenaga Kerja Indonesia meningkatkan devisa negara, tetapi di sisi lain, masalah TKI memunculkan permasalahan baru yang tidak pernah selesai. Saya pernah berpikir, kenapa bukan tenaga ahli, seperti dokter, insinyur dan disiplin ilmu lain yang dikirim ke luar negeri. Apakah mutu pendidikan mereka lebih rendah dari Warga Negara Asing (WNA)?

Akhir bulan ini, kita juga diganggu oleh berduyun-duyunnya Tenaga Kerja Asing (TKA), khususnya dari China datang ke Indonesia. Berbagai protes muncul. Bangsa kita sendiri sulit mencari pekerjaan, malah TKA yang didatangkan. Saya bertanya, hendak kemana masa depan generasi muda kita akan diarahkan, ketika banyak para sarjana kita menganggur di tanah airnya sendiri. Pun jika ada yang bekerja, mereka harus melepas titelnya agar bisa diterima bekerja. Tidak dapatkah bangsa ini yang menjadi pemimpin di negaranya sendiri?