Melihat Situasi di Nikaragua, Akankah Presiden Daniel Ortega tumbang?

Ar | Kamis, 26 April 2018 - 14:40 WIB
Melihat Situasi di Nikaragua, Akankah Presiden Daniel Ortega tumbang?

Oleh Dasman Djamaluddin

Negara-negara di Amerika Latin mulai goyang, setelah Kuba secara perlahan-lahan mengawali perubahan tersebut. Meninggalnya orang kuat Fidel Castro dan berubahnya peta politik mengarah ke Barat, rupanya berdampak ke Nikaragua.

Perkembangan terakhir di Nikaragua menunjukkan kecemasan akan tergulingnya pemerintahan Marxis yang sekarang dipimpin Presiden Daniel Ortega, berusia 72 tahun.

Nikaragua beberapa jam lalu rusuh. Aksi perampasan di berbagai toko seperti yang terlihat di Indonesia ketika Presiden Soeharto akan jatuh, pun memunculkan dugaan, apakah Presiden Nikaragua Daniel Ortega akan tumbang dalam hitungan jam ke depan?

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) sudah menarik beberapa staf, diplomat kedutaan dan keluarga mereka keluar dari Nikaragua, setelah kerusuhan mematikan di negara itu belum menunjukkan tanda-tanda berhenti.

Kementerian Luar Negeri AS juga meningkatkan tingkat ancaman untuk Nikaragua menyusul protes yang mematikan, dan mendesak warga AS untuk mempertimbangkan kembali rencana perjalanan ke negara itu.

Kedutaan di Managua tidak akan lagi memberikan layanan kepada publik, kecuali untuk keadaan darurat atau melalui telepon. Demikian seperti dikutip dari "The Independent," pada Selasa, 24 April 2018. 

Protes yang dipimpin mahasiswa dimulai minggu lalu sebagai tanggapan terhadap rencana Presiden Nikaragua Daniel Ortega untuk mereformasi sebuah undang-undang pensiun.

Dalam aturan baru tersebut, kontribusi pajak dari penduduk ditingkatkan nilainya. Sementara, tunjangan pensiun dalam sistem jaminan sosial dipotong.

Presiden Ortega mengumumkan bahwa dia mencabut rencana itu hari Minggu, berharap untuk menenangkan kegemparan di negara itu. Namun, langkah itu dinilai terlambat.

Setidaknya 24 orang telah tewas selama protes unjuk rasa yang berujung kekerasan di Nikaragua. Para peserta demo bersumpah untuk melanjutkan aksi mereka sampai Ortega meninggalkan kantor, bersama istri yang juga wakil presiden, Rosario Murillo.

Meski demikian, ada beberapa perbedaan dalam jumlah kematian yang dilaporkan. Palang Merah telah melaporkan sembilan kematian sejak protes dimulai Rabu, dan 433 orang terluka.

Sementara Pusat Hak Asasi Manusia Nikaragua mengatakan bahwa setidaknya 25 orang telah meninggal. Kelompok itu juga menyebut bahwa 120 orang telah ditangkap.

Juga diinformasikan, seorang wartawan bernama Angel Gahona tewas ditembak orang tak dikenal saat tengah meliput secara langsung demonstrasi di Nikaragua. 

Kala itu, Gahona melaporkan sebuah mesin anjungan tunai yang rusak sambil merekam dengan videonya. Di belakangnya seorang kameramen membuat film. Surat kabar lokal El Nuevo Diario menyebutkan, ia menyiarkan langsung di Facebook.

Tembakan tersebut menghentikan komentarnya, membuat Gahona tersungkur beberapa langkah dari gedung itu. Ia kemudian terbaring dalam posisi tengkurap sementara orang-orang meneriakkan namanya dan bergegas membantu, demikian menurut gambar di video.

Daniel Ortega dua kali menjabat orang nomor satu di Nikaragua. Pertama, dari 10 Januari 1985 hingga 25 April 1990. Kemudian dari 10 Januari 2007 hingga sekarang. Ia mewakili Front Pembebasan Nasional Sandinista.


Baca Juga